
Era Baru Perbankan, Keandalan Infrastruktur Digital Jadi Pertaruhan (Foto: Freepik)
JAKARTA - Industri perbankan sekarang dituntut untuk memperkuat prasarana teknologi nan tidak hanya mempunyai kapabilitas besar, tetapi juga bisa beradaptasi secara sigap terhadap perubahan kebutuhan bisnis.
Untuk menjawab dan menyiapkan transformasi digital nan semakin masif, jejeran ketua bank nasional dan multinasional nan tergabung dalam Himbara, Perbanas, dan Asbanda, berbareng pejabat tinggi Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun bertemu. Pertemuan ini jadi ruang strategis untuk membahas kesiapan prasarana digital dalam menghadapi perkembangan industri perbankan nan semakin dinamis.
Salah satu tantangan utama nan dihadapi perbankan adalah perubahan kebutuhan kapabilitas teknologi nan dapat terjadi dalam waktu tertentu dan secara tidak terduga. Periode month-end, year-end closing, pemrosesan gaji, pemulihan bencana, dan peluncuran aplikasi baru dapat meningkatkan kebutuhan kapabilitas konektivitas secara signifikan.
President Director & CEO Lintasarta Armand Hermawan menyampaikan digitalisasi perbankan memerlukan prasarana nan bisa mengikuti perubahan kebutuhan upaya secara cepat.
“Infrastruktur digital tidak cukup hanya berkapasitas besar, tetapi kudu bisa beradaptasi secara cepat, fleksibel, dan terukur,” ujar Armand, Jakarta, Senin (14/9/2026).
Menurut Armand, kapabilitas perbankan dapat berubah mengikuti month-end, year-end closing, payroll processing, disaster recovery, peluncuran aplikasi, dan kondisi tidak terjadwal. Karena itu, connectivity perlu berkembang dari prasarana nan fixed menjadi lebih adaptif.
Transformasi tersebut perlu didukung empat kapabilitas utama, ialah agile dalam merespons perubahan, scalable dalam menyesuaikan kapasitas, resilient dalam menjaga keandalan, serta ready menghadapi peak events, disaster recovery, dan tuntutan regulasi.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·