Endang Dzunuraini Berdayakan Perempuan Desa Lewat Sanggar Batik Mbah Guru

Sedang Trending 51 menit yang lalu

Jakarta -

Endang Dzunuraini masuk 3 besar DPD RI Awards 2026 kategori Pelestari Budaya Daerah. Dia mendirikan Sanggar Mbah Guru, nan menjadi pusat organisasi pelestari batik penjaga bumi di Lamongan, Jawa Timur.

Pemilihan 3 besar DPD RI Awards 2026 ditentukan dalam rapat perdana Dewan Pakar di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Senin (5/10/2026). Sejumlah personil Dewan Pakar datang langsung dalam rapat dan nan berhalangan datang tetap memberikan pandangan serta kontribusi dalam pembahasan.

Adapun Dewan Pakar DPD Awards 2026 ialah Menteri Kebudayaan RI Prof (Hon) Dr. H. Fadli Zon, SS, M.Sc, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si, Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dr. Dede Yusuf Macan Effendi, S.T., M.I.Pol, Anggota DPD RI Dr. Agustin Teras Narang, S.H, dan Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, S.Si., M.Sc.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada empat kategori penghargaan di DPD RI Awards 2026, ialah Inovator Pendidikan Non-Formal/Pendidikan Luar Sekolah, Inovator Teknologi Kesehatan, Penggerak Desa Mandiri Pangan dan Pelestari Budaya Daerah.

Profil Endang Dzunuraini

Endang Dzunuraini mendirikan Sanggar Mbah Guru pada tahun 2016. Melalui sanggar ini, Endang melestarikan batik dengan memberdayakan wanita pedesaan dan seniman lokal di Lamongan, Jawa Timur.

Tak hanya memproduksi batik, Sanggar Mbah Guru membuka wisata edukasi belajar membatik hingga kunjungan ke kebun pewarna alam. Ada sekitar 100 jenis tanaman mengandung tanin pewarna alam nan menjadi laboratorium hidup sekaligus kebun percontohan nan terintegrasi dengan eco edu culture tourism.

Batik-batik di Sanggar Mbah Guru diproduksi dengan pewarna alami dari tanaman nan bisa diregenerasi. Sanggar Mbah Guru juga berinovasi mengolah limbah pertanian menjadi pewarna alami batik.

Endang menyebut produk batik tulis nan diciptakan Sanggar Mbah Guru mempunyai kreasi terbatas.

Sanggar Mbah Guru datang kerena beberapa permasalahan, di antaranya lantaran pernah punahnya perajin batik di Desa Jugo, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, nan sebenarnya sudah ada sejak lebih dari satu abad lalu.

Kemudian lantaran banyak ibu di desa terlilit utang rentenir dan maraknya remaja putri dinikahkan pada usia awal tanpa persiapan matang serta tak sedikit nan menjadi korban KDRT alias perceraian lantaran mental dan ekonomi belum siap.

Endang juga memandang persoalan lingkungan lantaran pembuatan batik banyak menggunakan pewarna kimia oleh pembatik rumahan hingga mencemari lingkungan.

Dari sejumlah persoalan itu, Endang memberikan solusi melalui Sanggar Mbah Guru. Pertama, memberikan danasiwa membatik dan wisata edukasi batik untuk menciptakan sumber daya pembatik baru.

Kedua, pembuatan lapangan pekerjaan dan pemberdayaan kaum wanita desa di Lamongan. Ketiga, penggunaan pewarna alam regeneratif dan sirkular dalam memproduksi batik.

Endang menyebut hadirnya Sanggar Mbah Guru sudah mempunyai sejumlah akibat positif. Di antaranya, 20.000 lebih pembelajar batik di Sanggar Mbah Guru; 1.000 lebih batik terjual dan pohon ditanam; 100 lebih penerima danasiwa membatik; 100 lebih masyarakat terberdayakan; 10 lebih penghargaan dan apresiasi nasional dan internasional.

Selain itu, Endang sudah memperkenalkan dan membawa batik desa di Lamongan nan nyaris punah ke kancah internasional.

(fas/knv)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑