Emiten pertambangan, PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID), membukukan pendapatan sebesar USD 693 juta alias sekitar Rp 12,48 triliun (kurs Rp 18.022 per dolar AS) pada semester I 2026.
Berdasarkan laporan finansial perseroan, Senin (3/8), perolehan tersebut terkoreksi 5 persen dibandingkan periode nan sama tahun lalu, seiring berakhirnya sejumlah perjanjian pertambangan dan penurunan aktivitas di beberapa letak operasi.
Meski demikian, emiten jasa pertambangan ini sukses meningkatkan keahlian operasionalnya. EBITDA pada semester I 2026 tumbuh 8 persen secara tahunan (yoy) menjadi USD 69 juta, dari sebelumnya USD 64 juta. Kenaikan tersebut didorong oleh pemulihan margin dan efisiensi biaya di seluruh lini bisnis, meskipun pendapatan mengalami penurunan.
DOID mencatat total volume pengupasan lapisan tanah penutup (overburden removal) sebesar 186 juta bank cubic meter (MBCM) alias turun 11 persen yoy. Sementara itu, produksi batu bara mencapai 32 juta ton, turun 16 persen yoy. Penurunan ini dipengaruhi oleh berakhirnya perjanjian di site Binungan milik Berau Coal dan site IBP milik Resource Alam Indonesia di Indonesia, serta site Burton milik Bowen Coking Coal di Australia, disertai penurunan aktivitas di sejumlah operasi lainnya.
Di luar letak tambang nan kontraknya berhujung alias mengalami penurunan aktivitas tersebut, operasi inti perseroan justru menunjukkan pertumbuhan. Volume overburden removal meningkat sekitar 9 persen yoy sedangkan produksi batu bara naik sekitar 4 persen yoy, ditopang peningkatan keandalan armada dan kondisi cuaca nan lebih mendukung. Selain itu, rata-rata nilai jual (average selling price/ASP) jasa kontraktor pertambangan meningkat 8 persen dibandingkan semester I 2025, didorong oleh penyesuaian nilai dalam kontrak.
Dari sisi profitabilitas, rugi bersih DOID menyusut 37 persen menjadi USD 50 juta, dibandingkan rugi USD 80 juta pada semester I 2025. Perbaikan ini didukung oleh pertumbuhan EBITDA, untung penjualan aset lahan Atlantic Carbon Group (ACG), penurunan beban depresiasi dan amortisasi, serta untung selisih kurs. Namun, keahlian tersebut sebagian tertekan oleh akibat investasi perseroan di 29Metals.
Belanja modal (capital expenditure/capex) juga turun signifikan menjadi USD 37 juta dari USD 111 juta pada semester I 2025.
Penurunan ini sejalan dengan optimasi armada dan pengalihan aset dari letak tambang nan telah berakhir beroperasi. Berkat efisiensi tersebut, arus kas bebas (free cash flow) meningkat menjadi USD 39 juta, jauh lebih tinggi dibandingkan US$5 juta pada periode nan sama tahun lalu.
Direktur BUMA International Group Iwan Fuad Salim mengatakan peningkatan EBITDA, perbaikan margin, dan penguatan arus kas bebas menunjukkan beragam langkah efisiensi nan dijalankan perusahaan mulai membuahkan hasil, meski di tengah penurunan pendapatan dan lonjakan nilai bahan bakar.
“Peningkatan EBITDA, perbaikan margin, dan penguatan arus kas bebas menunjukkan bahwa beragam langkah nan telah kami jalankan selama setahun terakhir di seluruh area operasional, optimasi tenaga kerja, dan pemeliharaan, telah memberikan hasil, apalagi di tengah penurunan pendapatan dan lonjakan nilai bahan bakar nan signifikan,” ujar Iwan.
Ia menambahkan, pada semester II 2026 perseroan bakal melanjutkan konsentrasi pada peningkatan keahlian operasional, disiplin shopping modal, serta pengelolaan eksposur nilai bahan bakar guna memperkuat arus kas perusahaan.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·