CEO SpaceX Elon Musk, ditampilkan di layar secara jarak jauh dari markas besar SpaceX di Starbase, Texas, berbincang sebelum peluncuran penawaran umum perdana (IPO) SpaceX di Nasdaq MarketSite di New York pada 12 Juni 2026.(AFP/TIMOTHY A. CLARY)
SEJARAH baru di bumi finansial tercipta pada Jumat (12/6/2026). Elon Musk resmi dinobatkan sebagai triliuner pertama di bumi setelah saham perusahaan roket miliknya, SpaceX, melonjak tajam dalam debut pasar saham terbesar nan pernah ada.
Pendiri Tesla dan SpaceX tersebut sekarang mengukuhkan posisinya sebagai orang terkaya di planet ini dengan total kekayaan bersih mencapai US$1,11 triliun (sekitar Rp18.148 triliun), menurut info terbaru dari Bloomberg Rich List.
Debut Spektakuler di Nasdaq
Lonjakan kekayaan ini dipicu oleh melantainya SpaceX di bursa saham Nasdaq dengan nilai valuasi perusahaan mencapai US$2,2 triliun. Meskipun awalnya ditawarkan seharga US$135 per lembar, perdagangan dibuka di nomor US$150 dan sempat menyentuh US$176,50 sebelum akhirnya ditutup pada level US$161.
Antusiasme penanammodal ini mencerminkan kepercayaan tinggi terhadap potensi upaya ruang angkasa dan ekosistem perusahaan nan terafiliasi dengan Musk. Melalui IPO ini, SpaceX sukses menghimpun biaya segar sebesar US$75 miliar.
Rincian Kekayaan Elon Musk (Pasca-IPO SpaceX):
| Saham SpaceX (Kepemilikan 42%) | US$767,1 Miliar |
| Opsi Saham SpaceX | US$53,8 Miliar |
| Saham Tesla | US$168 Miliar |
| Opsi Saham Tesla | US$116,4 Miliar |
| Total Kekayaan Bersih | US$1,11 Triliun |
Kontroversi dan Ketimpangan Global
Pencapaian Musk sebagai triliuner pertama memicu debat panas mengenai ketimpangan kekayaan global. Nilai kekayaan Musk sekarang setara dengan total output ekonomi negara-negara seperti Polandia alias Swiss. Para politisi AS, termasuk Bernie Sanders dan Elizabeth Warren, mengkritik kejadian ini sebagai sirine pentingnya penerapan pajak kekayaan.
Selain di bagian ekonomi, pengaruh Musk di panggung politik juga semakin dominan. Setelah memimpin Department for Government Efficiency (Doge) tahun lalu, kebijakan pemotongan anggaran nan dia sorong berujung pada penutupan USAID. Langkah ini sempat diperingatkan oleh jurnal medis The Lancet dapat berakibat fatal pada jutaan jiwa di masa depan.
Masa Depan: Ekonomi Lunar dan Risiko Investasi
Meskipun valuasinya selangit, SpaceX secara operasional belum mencatatkan keuntungan. Perusahaan melaporkan kerugian lebih dari US$9 miliar sepanjang 2025 hingga pertengahan 2026 akibat investasi besar-besaran pada prasarana AI dan satelit Starlink.
Dalam prospektus IPO-nya, SpaceX secara terbuka mengakui bahwa misi mereka untuk membangun "ekonomi lunar" (ekonomi bulan) dan menjadikan manusia makhluk multi-planet melibatkan teknologi nan belum terbukti keberhasilannya secara komersial.
Nancy Tengler dari Laffer Tengler Investments menyebut ambisi AI Musk sebagai "pembakar uang" (cash incinerator), namun dia tetap berinvestasi lantaran potensi jangka panjang. Ada pula spekulasi bahwa SpaceX bakal melakukan merger dengan Tesla dalam dua tahun ke depan untuk menciptakan entitas raksasa nan tak tertandingi.
Kini, tantangan terbesar bagi penanammodal bukan lagi pada euforia hari pertama perdagangan, melainkan gimana nilai saham SpaceX bisa memperkuat dalam jangka panjang di tengah akibat teknis nan sangat tinggi. (bbc/Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·