Elektrifikasi Pertambangan Bisa Sukses, Kemenperin Ungkap Syaratnya

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Solehan menyebut penggunaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) untuk operasional pertambangan memerlukan pendekatan komprehensif. Pasalnya pendekatan ini berbeda dengan penggunaan kendaraan listrik untuk transportasi umum.

Dalam pendekatan ini, regulator dan penyedia turut terlibat. Di mana kebijakan tak hanya berfokus pergantian perangkat berat berbasis Internal Combustion Engine ke perangkat berat berbasis listrik, tetapi pada pembangunan ekosistem juga.

"Dua utama tambang operasional itu sendiri dump truck lampau hybrid ekskavator, bulldozer, dan prasarana pendukung lainnya, integrasi EBT lampau energy cold storage system," ungkap dia dalam EV Transition in Mining Industry Outlook 2026, Rabu, (29/4/2026).

Solehan juga memaparkan pemerintah tengah menyiapkan insentif penggunaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) untuk operasional pertambangan. Insentif serupa sebelumnya tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023 tentang Perubahan atas Perpres Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

Dia menegaskan izin ini menunjukkan pemerintah memperkuat landasan norma untuk upaya transisi kendaraan listrik untuk aktivitas pertambangan tersebut.

"Jadi jika dari produsen perangkat berat, memang memandang sesuatu dari keutuhan misal mining, nikel, jika demand ada tentu perangkat berat elektrifikasi produsennya mengikuti," tutur dia.

Diketahui industri pertambangan merupakan penunjang bagi pembangunan berkepanjangan di dunia, terutama dalam penyediaan bahan baku untuk baterai dan kendaraan listrik dalam mengakselerasi pencapaian sasaran Net Zero Emission (NZE) Global tahun 2050 dan Indonesia pada 2060.

Elektrifikasi pada industri pertambangan pun dapat membawa beragam manfaat, seperti menurunkan biaya bahan bakar, mengurangi kebutuhan perawatan, meningkatkan keselamatan pekerja, dan memperbaiki keahlian Environmental, Social, and Governance (ESG).

Solehan melanjutkan percepatan ini dipicu oleh momentum pertumbuhan jasa pertambangan, perkembangan teknologi, hingga inisiatif ESG baik di dunia maupun dalam negeri.

"Kami punya sumber daya alam luar biasa comperative advantage banyak tambang smelter. Indonesia punya kesempatan kuat misal di nikel. Sekarang baru ada LFP (Lithium Iron Phosphate). Kalau nikel kelak NMC (Nickel‑Manganese‑Cobalt). Itu perlu hilirisasi. Ini krusial agar hilirisasi tak hanya pengguna teknologi tapi mendorong pertumbuhan industri manufaktur itu," pungkas dia.

(dpu/dpu)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News