El Nino Super dan Perang Iran Mengancam, "Kiamat" Pangan Mengintai

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Peristiwa cuaca ekstrem El Nino nan diperkirakan menguat pada akhir 2026 berpotensi memperparah tekanan terhadap nilai pangan global. Risiko ini kian meningkat seiring gangguan pasokan pupuk akibat bentrok di Timur Tengah, khususnya perang Iran nan mengganggu jalur perdagangan vital.

Para intelektual suasana memperingatkan kesempatan terbentuknya El Nino dalam beberapa bulan ke depan semakin besar. Ahli meteorologi Amerika Serikat (AS) memperkirakan kesempatan sekitar sepertiga untuk terjadinya El Nino kuat pada periode Oktober hingga Desember. Sementara itu, model suasana Eropa menunjukkan kemungkinan lebih tinggi untuk kejadian nan lebih ekstrem, sering disebut sebagai "El Nino super".

El Nino sendiri merupakan kejadian pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik timur tropis, nan terjadi secara berkala. Dalam kondisi ekstrem alias "super", suhu laut bisa meningkat hingga 2 derajat Celcius di atas normal, memicu gangguan cuaca nan lebih luas.

Analis senior pangan dan pertanian di Energy and Climate Intelligence Unit, Chris Jaccarini, mengatakan kombinasi bentrok dan akibat suasana bakal menjadi beban mahal bagi ekonomi dunia pada 2026.

"Harga pangan tertekan dari dua sisi: oleh suasana ekstrem nan mengganggu produksi di wilayah pertanian utama, dan oleh sistem pangan nan tetap berjuntai pada bahan bakar fosil," ujarnya, seperti dikutip CNBC International, Kamis (9/4/2026).

Ia menambahkan, potensi El Nino nan kuat dapat memperburuk kondisi tersebut. "Hal itu dapat mempercepat akibat cuaca dalam suasana nan sudah tidak stabil akibat emisi manusia, memperparah inflasi nan didorong oleh nilai daya tinggi," jelasnya.

Sejumlah komoditas diperkirakan paling terdampak, antara lain kakao, minyak nabati, beras, dan gula. Selain itu, produk tropis seperti kopi, teh, pisang, cokelat, hingga daging sapi berbasis pakan kedelai juga berisiko mengalami tekanan pasokan.

Tekanan ini datang di tengah lonjakan nilai daya dan pupuk akibat bentrok Iran. Jalur Selat Hormuz, nan dilalui sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia, mengalami gangguan setelah serangan militer pada akhir Februari, membikin pengedaran pupuk dunia tersendat.

Kepala ahli ekonomi UBS, Paul Donovan, mengatakan kenaikan nilai daya nyaris selalu berakibat langsung pada nilai pangan. Namun, menurutnya, ancaman terbesar tahun ini justru berasal dari aspek cuaca.

"Tahun 2026 mungkin bakal menghasilkan pola cuaca El Niño super. Dalam perihal itu, kekeringan dan keterbatasan pasokan air mungkin lebih krusial daripada kekurangan nitrogen," tulisnya dalam catatan riset.

Laporan Program Pangan Dunia (WFP) juga memperingatkan lonjakan signifikan jumlah masyarakat nan menghadapi kelaparan akut. Jika bentrok Iran bersambung dan nilai minyak memperkuat di atas US$100 per barel. Jumlah tersebut bisa meningkat hingga 45 juta orang, menambah total 318 juta orang nan sudah terdampak kerawanan pangan global.

Manajer portofolio Ninety One, Dawid Heyl, menilai kombinasi bentrok geopolitik dan akibat suasana dapat memperburuk situasi secara signifikan. "Jika dua aspek negatif seperti itu bergabung, maka situasinya bisa sangat sulit," katanya.

Sejumlah negara seperti India, Australia, Brasil, dan Argentina disebut berpotensi terdampak besar oleh El Nino, baik dari sisi kekeringan maupun gangguan produksi pertanian. Sementara itu, wilayah Afrika seperti Ethiopia, Sudan Selatan, dan Sudan juga menghadapi ancaman kekeringan nan dapat merusak musim tanam utama.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News