El Nino Masih Terjadi, Kapan Puncak Musim Kemarau di RI? Ini Kata BMKG

Sedang Trending 59 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan kajian terbaru mengenai dinamika atmosfer di Indonesia periode dasarian III Mei 2026, hari ini, Rabu (3/6/2026). Lantas, gimana perkembangan kejadian suasana El Nino dan musim tandus di Indonesia tahun ini?

BMKG mengungkapkan, hasil monitoring pada Dasarian III Mei 2026 menunjukkan indeks IOD dasarian (indeks bulanan) sebesar -0.92 (-0.56). Namun, BMKG menegaskan, meski nilai indeks bulanan telah melewati pemisah normal, belum dapat dikategorikan sebagai kejadian IOD negatif lantaran baru berjalan satu bulan.

Sementara, indeks ENSO Dasarian (ENSO bulanan) sebesar +1.04 (+1.00) menunjukkan indikasi El Nino Condition. Sebelumnya, BMKG mengingatkan, ada kesempatan kurang dari 20% fenomena El Nino di berkembang jadi kategori kuat.

Mengutip penjelasan BMKG, El Nino-Southern Oscillation (ENSO) adalah anomali suhu permukaan laut di Samudera Pasifik di pantai barat Ekuador dan Peru nan lebih tinggi daripada rata-rata normalnya.

Salah satu fase ENSO adalah Fase El Nino. Pada fase ini, angin pasat nan biasa berdesir dari timur ke barat melemah alias apalagi berbalik arah. Pelemahan ini dikaitkan dengan meluasnya suhu muka laut nan hangat di timur dan tengah Pasifik. Air hangat nan bergeser ke timur menyebabkan penguapan, awan, dan hujan pun ikut bergeser menjauh dari Indonesia. Hal ini berfaedah Indonesia mengalami peningkatan akibat kekeringan.

Dalam istilah pengetahuan suasana saat ini, jelas BMKG, El Nino menunjukkan kondisi anomali suhu permukaan laut di Samudera Pasifik ekuator bagian timur dan tengah nan lebih panas dari normalnya, sementara anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik bagian barat dan perairan Indonesia nan biasanya hangat (warm pool) menjadi lebih dingin dari normalnya.

Pada saat terjadi El Nino, wilayah pertumbuhan awan bergeser dari wilayah Indonesia ke wilayah Samudra Pasifik bagian tengah sehingga menyebabkan berkurangnya curah hujan di Indonesia.

Ini berarti, El Nino, terutama jika terjadi pada saat musim kemarau, perlu mendapat perhatian lebih lantaran dampaknya nan dapat mengurangi curah hujan. BMKG mengingatkan, dampaknya bisa memicu kemungkinan musibah nan terjadi, seperti kekeringan dan kebakaran lahan/hutan. Di mana, kekeringan berkepanjangan bakal berakibat lebih jauh lagi pada pertanian, perekonomian dan sosial.

Peringatan Dini Musim Kemarau

Dari peringatan awal terbaru nan dirilis BMKG hari ini, memang belum ada wilayah nan masuk kategori Siaga maupun Awas untuk kondisi kekeringan meteorologi.

Namun, ada wilayah masuk kategori Waspada kekeringan meteorologis, bertindak periode Dasarian I Juni 2026. Wilayah tersebut adalah sejumlah kabupaten/ kota di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sementara, BMKG mengungkapkan, berasas jumlah Zona Musim (ZOM), sebanyak 28,6% wilayah Indonesia (200 ZOM) sedang mengalami Musim Kemarau.

"Wilayah nan sedang mengalami musim tandus meliputi sebagian mini Aceh, sebagian mini Sumatra Utara, sebagian mini Riau, sebagian Kep. Riau, Banten bagian utara, sebagian Jakarta, Jawa Barat bagian utara, sebagian Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur, sebagian Bali, sebagian besar NTB, sebagian besar NTT, se sebagian Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian mini Sulawesi Barat, sebagian mini Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara, sebagian Maluku, dan sebagian mini Papua Selatan," tulis BMKG, Rabu (3/6/2026).

Sedangkan, ZOM nan diprediksi bakal masuk musim tandus pada periode dasarian I-III Juni 2026 adalah sebagian besar Pulau Sumatra, sebagian Banten, Jakarta bagian selatan, sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah bagian tengah, sebagian mini Jawa Timur, sebagian Kalimantan Barat, sebagian Kalimantan Tengah, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian
Kalimantan Timur, sebagian besar Sulawesi Utara, sebagian Sulawesi Barat, sebagian mini Sulawesi Selatan, sebagian mini Sulawesi Tenggara, sebagian mini Maluku, sebagian Papua Barat, Papua bagian timur, sebagian Papua Pegunungan, sebagian mini Papua Tengah dan sebagian Papua Selatan.

Kapan Puncak Musim Kemarau 2026 di Indonesia?

Dalam kajian terbarunya, BMKG memprediksi puncak Musim Kemarau tahun 2026 di Indonesia bakal bervariasi. Ada sejumlah wilayah nan telah mengalami puncak Musim Kemarau, ialah sejumlah ZOM di Sumatra.

Namun ada juga nan diprediksi bakal masuk puncak Musim Kemarau di Januari 2027.

Secara umum, dari peta nan ditampilkan BMKG, sebagian tampak sebagian besar wilayah di Indonesia bakal mengalami puncak Musim Kemarau pada bulan Juli-Agustus tahun ini.

Prediksi Puncak Musim Kemarau 2026. (BMKG)Prediksi Puncak Musim Kemarau 2026. (BMKG) Foto: Prediksi Puncak Musim Kemarau 2026. (BMKG)

(dce/dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News