Ekspor Industri Perhiasan Capai Rp 161,23 T di Akhir 2025, Melesat 64,7 Persen

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Pemilik toko menata perhiasan emas di area Cikini, Jakarta Pusat, Senin (4/12/2023). Foto: ANTARA FOTO/Uyu Septiyati Liman

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan pengembangan industri perhiasan nasional, nan merupakan salah satu subsektor manufaktur nan mempunyai nilai tambah tinggi dan berkontribusi signifikan terhadap keahlian ekspor Indonesia.

Upaya tersebut dilakukan melalui beragam program pembinaan, peningkatan kapabilitas industri, transformasi teknologi, hingga ekspansi akses pasar nan melibatkan seluruh pemangku kepentingan industri perhiasan nasional.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, industri perhiasan merupakan sektor nan mempunyai karakter unik lantaran memadukan kreativitas, keterampilan, budaya, dan teknologi dalam menghasilkan produk berbobot tambah tinggi.

“Industri perhiasan menjadi salah satu sektor unggulan nan mempunyai nilai tambah tinggi dan kontribusi krusial terhadap ekspor manufaktur Indonesia. Tidak hanya berkedudukan sebagai penghasil devisa negara, tetapi juga menjadi wadah pelestarian produk berbobot budaya serta pembuatan lapangan kerja nan tersebar di beragam daerah,” ujar Agus dalam keterangannya, Senin (15/6).

Kinerja industri perhiasan nasional menunjukkan tren nan semakin positif. Sepanjang Januari–Desember 2025, nilai ekspor peralatan perhiasan dan peralatan berbobot mencapai USD 9,1 miliar alias sekitar Rp 161,23 triliun (kurs Rp 17.718 per dolar AS), meningkat 64,73 persen dibandingkan tahun 2024 nan tercatat sebesar USD 5,5 miliar.

Menurut Menperin, capaian tersebut menunjukkan bahwa produk perhiasan Indonesia semakin diterima dan mempunyai daya saing nan kuat di pasar internasional. Oleh lantaran itu, penguatan kualitas produk, penemuan desain, keberlanjutan usaha, serta keahlian industri dalam merespons tren pasar dunia perlu terus ditingkatkan.

“Peningkatan ekspor ini menjadi bukti bahwa industri perhiasan Indonesia mempunyai prospek nan sangat baik. Momentum ini kudu terus dijaga melalui penguatan ekosistem industri nan bisa mendorong inovasi, produktivitas, dan daya saing secara berkelanjutan,” tegasnya.

Menteri Perindustrian Republik Indonesia Agus Gumiwang. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Meski demikian, Agus mengakui bahwa industri perhiasan tetap menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, perubahan nilai bahan baku, perubahan preferensi konsumen, hingga tuntutan transformasi digital nan semakin cepat. Karena itu, diperlukan sinergi nan kuat antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku upaya agar industri perhiasan nasional bisa beradaptasi dan tumbuh secara berkelanjutan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita, menegaskan bahwa transformasi digital dan penerapan industri 4.0 menjadi aspek krusial dalam memperkuat daya saing industri perhiasan nasional.

Saat membuka penyelenggaraan BJF 2026, Reni menyampaikan, pemanfaatan teknologi bisa meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat inovasi, dan menghasilkan produk nan lebih berbobot sesuai kebutuhan pasar.

“Transformasi digital dan penerapan Industri 4.0 memungkinkan industri perhiasan bekerja lebih efisien, menghasilkan produk nan lebih presisi, serta bisa merespons kebutuhan konsumen secara lebih sigap dan tepat,” ujarnya.

Sebagai bagian dari upaya transformasi industri, Kemenperin telah melakukan penilaian Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) terhadap sejumlah perusahaan di sektor industri aneka, termasuk pelaku industri logam mulia dan perhiasan.

Hasil penilaian menunjukkan tingkat kematangan nan baik dalam penerapan teknologi digital, mulai dari digitalisasi sistem manajemen, pemanfaatan kepintaran buatan, keamanan siber, produk pandai terkustomisasi, hingga integrasi teknologi pandai dalam proses produksi.

“Hasil tersebut menunjukkan bahwa industri logam mulia dan perhiasan bisa mengintegrasikan teknologi modern dengan produktivitas dan keahlian sumber daya manusia untuk menghasilkan produk nan inovatif dan berbobot tambah tinggi. Kami berambisi semakin banyak pelaku industri nan melakukan transformasi serupa guna meningkatkan efisiensi, kualitas, dan daya saing produknya,” kata Reni.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan