Nicolás Maduro (Kiri) dan Alex Saab (Kanan)(AFP)
MANTAN pejabat Venezuela sekaligus pengusaha kelahiran Kolombia, Alex Saab, resmi mengaku bersalah atas tuduhan pencucian uang dalam persidangan di pengadilan Miami, Florida, Amerika Serikat. Langkah ini merupakan perubahan sikap nan cukup signifikan setelah sebelumnya dia menyatakan bakal melawan dakwaan norma tersebut.
Sebagai bagian dari kesepakatan pengakuan bersalah (plea deal), laki-laki berumur 54 tahun itu setuju untuk menyerahkan aset senilai US$195 juta (sekitar Rp3,5 triliun). Selain itu, dia diwajibkan bekerja sama secara penuh dengan pihak jaksa penuntut umum Amerika Serikat. Atas kejahatan ini, Saab berisiko menghadapi balasan penjara hingga 20 tahun.
Proses norma terhadap mantan pembantu dekat mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro ini menyita perhatian publik internasional. Pasalnya, Maduro berbareng istrinya, mantan Ibu Negara Cilia Flores, dijadwalkan bakal menjalani persidangan tahun depan di New York atas tuduhan kepemilikan senjata dan kejahatan narkoba, tuduhan nan hingga saat ini secara tegas mereka bantah.
Maduro dan Flores sebelumnya ditangkap pasukan militer Amerika Serikat dalam sebuah operasi penyergapan di Caracas. Pengakuan bersalah nan diambil oleh Saab lantas memicu spekulasi luas bahwa dirinya kemungkinan bakal memberikan kesaksian nan memberatkan Maduro dalam persidangan mendatang.
Meskipun kesepakatan pengakuan bersalah tersebut tidak secara spesifik menyebut kasus persidangan Maduro di New York, klausul perjanjian menegaskan Saab "tidak bakal melindungi siapa pun alias identitas apa pun melalui info tiruan alias penyampaian nan tidak lengkap".
Terkait putusan ini, Direktur FBI Kash Patel memberikan pernyataan resmi mengenai penegakan norma terhadap kasus kejahatan finansial tersebut.
"Penjahat seperti Alex Saab nan mencuri dari rakyat Venezuela dan berupaya mengeksploitasi serta menyalahgunakan lembaga finansial Amerika untuk mendanai aktivitas terlarangan bakal dimintai pertanggungjawaban oleh FBI," tegas Kash Patel.
Dalam berkas dakwaan, Saab dituduh melalukan penyelewengan biaya dari program kesejahteraan masyarakat nan ditujukan untuk rakyat Venezuela nan mengalami kelaparan. Sebagian dari hasil kejahatan tersebut kemudian ditransfer ke sejumlah rekening bank di Amerika Serikat. Kasus ini mencuat di tengah krisis politik dan ekonomi berkepanjangan nan memicu kelangkaan pangan dan obat-obatan secara kronis di Venezuela.
Ekstradisi Saab ke Amerika Serikat dilakukan setelah diserahkan oleh Presiden Pelaksana Venezuela, Delcy Rodriguez, nan menggantikan posisi Maduro.
Kasus ini menjadi proses pidana kedua nan dihadapi Saab di sistem peradilan Amerika Serikat. Pada tahun 2020, dia pernah diekstradisi atas tuduhan pencucian duit lantaran diduga mengalirkan biaya keluar dari Venezuela sebesar 350 juta dolar AS. Namun, mantan Presiden Amerika Serikat Joe Biden memberikan pemaafan (clemency) kepadanya pada tahun 2023 sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan. (BBC/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·