Militer AS Akui Kerahkan Senjata Pengendali Luar Angkasa ke Orbit Bumi

Sedang Trending 41 menit yang lalu
Ilustrasi satelit di Orbit. Foto: Shutterstock/rommma

Militer Amerika Serikat mengakui telah meluncurkan senjata ke suatu tempat di orbit Bumi untuk mengendalikan ruang angkasa dari ancaman musuh. Hal itu dikonfirmasi oleh Menteri Angkatan Udara AS, Tony E. Meink, dalam pidato utama di Konferensi Siber Udara dan Luar Angkasa 2026, pada Senin (14/9).

Meink membawahi Angkatan Udara AS dan Angkatan Antariksa AS (U.S. Space Force). Dalam pidatonya, Meink mengatakan militer AS mempunyai senjata pengendali ruang angkasa di orbit nan bisa melindungi pasukan campuran dari ancaman lawan.

"Kami meningkatkan kesiapan menghadapi ancaman nan ada, dan Amerika Serikat mempunyai senjata pengendali ruang angkasa di orbit nan bisa mempertahankan Pasukan Gabungan dari ancaman musuh nan membahayakan," kata Meink sebagaimana dikutip Live Science.

Meski begitu, Meink tidak menjelaskan jenis senjata, kemampuan, maupun jumlah nan telah dikerahkan. Sementara ahli bicara Angkatan Udara AS mengatakan senjata tersebut dirancang untuk melindungi militer AS dari serangan nan mungkin saja dilancarkan dari luar angkasa.

Juru bicara tersebut tidak menjelaskan ancaman spesifik nan mendorong AS mengerahkan senjata ke orbit. Ia mengatakan, sejak 2007, AS telah memperingatkan adanya uji coba senjata di ruang angkasa oleh Rusia dan China.

“Karena tindakan mereka, sekarang tidak ada lagi keraguan bahwa ruang angkasa merupakan ranah peperangan. Pengendalian ruang angkasa merupakan bagian dari langkah pasukan campuran melindungi kepentingan keamanan nasional,” kata ahli bicara tersebut seperti dikutip TechCrunch.

Ia menambahkan, ruang angkasa sekarang menjadi wilayah nan diperebutkan. Karena itu, AS kudu bisa menjaga kepentingannya di sana. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu argumen pembentukan Angkatan Antariksa AS sebagai bagian militer keenam.

Pesawat luar angkasa robot X-37B milik militer A.S. lepas landas dalam misi ketujuh ke orbit, peluncuran pertama di atas roket SpaceX Falcon Heavy nan bisa melayang jauh lebih tinggi dari sebelumnya Kennedy Space Center di Cape Canaveral, Florida. Foto: REUTERS/Joe Skipper

“Komunikasi terbuka memperkuat daya tangkal, mencegah kesalahan kalkulasi oleh pihak lawan, dan menjadikan operasi ruang angkasa sebagai perihal nan lazim, berdampingan dengan bagian militer lainnya,” ujarnya.

Di sisi lain, pengakuan AS telah memicu kekhawatiran memanasnya perlombaan senjata luar angkasa di antara negara super power, termasuk China.

"Kami mendesak pihak AS untuk menghentikan ekspansi kekuatan militernya dan persiapan perang di luar angkasa," kata Jiakun dalam konvensi pers rutin, seperti nan dilaporkan Guo Jiakun, ahli bicara Kementerian Luar Negeri China.

Kekhawatiran atas Dampak Puing Satelit

Pengerahan senjata ke luar angkasa nan dilakukan AS berjalan di tengah kekhawatiran mengenai meningkatnya aktivitas militer di ruang angkasa.

China telah lama diketahui mengoperasikan wahana antariksa nan berpotensi menyebabkan kerusakan pada satelit lain. Sementara itu, Angkatan Antariksa AS menyebut Rusia sedang mengembangkan satelit nan dirancang untuk membawa senjata nuklir.

Menurut laporan The Times, AS selama ini menghindari penghancuran satelit di ruang angkasa. Serangan semacam itu dapat menghasilkan puing-puing nan membahayakan objek lain di orbit, termasuk satelit dan astronaut.

Puing antariksa menjadi salah satu akibat dalam operasi di orbit Bumi lantaran dapat menakut-nakuti wahana nan melintas maupun misi berawak.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan