Jakarta, CNBC Indonesia - Kecaman keras terhadap kebijakan Israel di Tepi Barat datang dari dalam negeri sendiri. Mantan kepala Mossad, Tamir Pardo, menyebut situasi di wilayah pendudukan itu sebagai ancaman eksistensial bagi negara Israel.
Ia apalagi membandingkan serangan terbaru oleh pemukim Israel dengan peristiwa Holocaust. Ia mengaku merasa "malu menjadi seorang Yahudi" atas apa nan dia saksikan.
Pardo mengecam meningkatnya kekerasan oleh pemukim Israel terhadap penduduk Palestina, dan menyebutnya sebagai ancaman serius bagi masa depan Israel sendiri. Dalam laporan nan dikutip oleh The Times of Israel, Pardo menyampaikan pandangannya saat melakukan kunjungan ke desa-desa Palestina nan dalam beberapa bulan terakhir menjadi sasaran serangan.
"Ibu saya adalah penyintas Holocaust, dan apa nan saya lihat mengingatkan saya pada peristiwa nan terjadi terhadap orang Yahudi pada abad lalu," ujar Pardo. "Apa nan saya lihat hari ini membikin saya merasa malu menjadi seorang Yahudi."
Komentar tersebut disampaikan Pardo kepada Channel 13, sebagaimana dikutip Rabu (29/4/2026) saat dia meninjau wilayah tersebut berbareng sejumlah mantan pejabat militer senior lainnya, termasuk Matan Vilnai dan Amram Mitzna.
Dalam kesempatan itu, Pardo kembali menegaskan kekhawatirannya. "Apa nan saya lihat hari ini adalah ancaman eksistensial bagi Negara Israel," katanya.
Ia juga menuding abdi negara penegak norma Israel mengetahui situasi tersebut, namun memilih untuk tidak bertindak. Menurutnya, pembiaran ini berpotensi memperburuk keadaan di lapangan.
Lebih jauh, Pardo memperingatkan bahwa upaya untuk menindak pemukim ekstremis, nan sebagian di antaranya bersenjata dan mempunyai support politik, berisiko memicu bentrok internal di Israel sendiri.
"Mendorong mereka mundur bisa memicu perang saudara," ujarnya, merujuk pada pengaruh tokoh-tokoh sayap kanan dalam pemerintahan seperti Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich.
Di seluruh wilayah Tepi Barat, serangan oleh pemukim Israel dilaporkan terus meningkat. Aksi-aksi tersebut mencakup penyergapan desa, perusakan properti, hingga vandalisme. Warga Palestina menuduh militer Israel memberikan perlindungan terhadap serangan-serangan tersebut.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri memandang permukiman Israel di wilayah Palestina sebagai terlarangan menurut norma internasional, dan berulang kali menyerukan penghentian ekspansi permukiman di Tepi Barat nan diduduki.
Data nan dikutip Anadolu Agency menunjukkan sekitar 750.000 pemukim Israel sekarang tinggal di 141 permukiman terlarangan dan 224 pos terdepan di Tepi Barat, termasuk sekitar 250.000 orang di Yerusalem Timur, wilayah nan oleh PBB dianggap sebagai bagian dari wilayah Palestina nan diduduki.
Sejak Oktober 2023, kekerasan di wilayah tersebut telah menewaskan sedikitnya 1.154 penduduk Palestina, melukai sekitar 11.750 lainnya, serta menyebabkan nyaris 22.000 penangkapan, menurut info resmi Palestina.
Pelanggaran nan terjadi mencakup penghancuran properti, pembakaran rumah, pemindahan paksa, hingga ekspansi aktivitas permukiman ilegal. Warga Palestina memperingatkan bahwa kebijakan semacam ini membuka jalan bagi aneksasi sebagian wilayah Tepi Barat oleh Israel.
(luc/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·