Eks Diplomat Ungkap Kesalahan Fatal Amerika usai Tragedi 9/11

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Mantan diplomat tinggi Amerika Serikat (AS), Zalmay Khalilzad, membeberkan serangkaian kesalahan fatal dan miskalkulasi nan dilakukan negaranya pascatragedi 11 September 2001 (9/11), termasuk invasi ke Afghanistan dan Irak.

Mengutip Al Jazeera, Sabtu (12/09/2026), mantan Duta Besar AS itu mengungkapkan bahwa ketakutan dan kemarahan publik nan memuncak telah mendorong pemerintah untuk mengambil rentetan keputusan gegabah nan mengubah lanskap geopolitik bumi selama bertahun-tahun.

"Kemarahan merupakan aspek urgensi lantaran orang-orang mau memandang tindakan: Apa nan bakal kita lakukan mengenai perihal ini?" ungkapnya.

Tragedi 9/11 tercatat sebagai serangan asing paling mematikan dalam sejarah AS, di mana nyaris 3.000 orang tewas saat 19 pembajak menabrakkan jet penumpang ke World Trade Center, Pentagon, dan sebuah lapangan di Pennsylvania. Tak sampai sebulan kemudian, AS menyerang Afghanistan untuk menumpas al-Qaeda, nan akhirnya memicu perang berdarah selama nyaris dua dekade.

"Anda kudu menempatkan diri pada konteks waktu itu. Kami sangat marah. Kami cemas serangan lain mungkin direncanakan. Mungkin ada sel tidur," paparnya.

"Kami mau menjangkau sebanyak mungkin orang-anggota al-Qaeda-untuk menangkap mereka," tegasnya.

Zalmay, nan saat itu menjabat sebagai kepala senior di Dewan Keamanan Nasional di bawah Presiden George W. Bush, menyayangkan keputusan AS nan menolak bermusyawarah dengan Taliban pada bulan-bulan awal perang tahun 2001. Padahal, laporan menyebut bahwa golongan tersebut saat itu bersedia membikin kesepakatan.

"Satu pemikiran nan muncul adalah bahwa kita semestinya bermusyawarah dengan Taliban alias memasukkan Taliban dalam proses politik di Afghanistan," tuturnya.
"Akan sangat baik jika perihal itu terjadi," ucapnya.

Ia menilai penolakan negosiasi tersebut murni didorong oleh kemarahan pasca 9/11 dan keangkuhan status AS sebagai negara adikuasa dunia nan enggan berkompromi.

"Kami marah, dan kami mau mendapatkan info dari mereka. Namun jika kita bisa memasukkan mereka... secara realistis, itu bisa sangat membantu," katanya.

Kesalahan intelijen nan lebih fatal terjadi pada tahun 2003 ketika AS melancarkan operasi terpisah terhadap Irak dengan dalih "perang melawan teror". Pemerintahan Bush membenarkan perang tersebut dengan mengutip penilaian intelijen bahwa Irak nyaris memperoleh senjata pemusnah massal nuklir. Laporan nan belakangan terbukti tiruan itu memicu perang selama lebih dari delapan tahun dan berujung pada penggulingan serta eksekusi Saddam Hussein.

"Berkaitan dengan Irak, nah, di sanalah informasinya menjadi masalah. Saya pikir, jika dipikir-pikir, situasinya, analisisnya, informasinya bermasalah," paparnya.

Pada saat itu, AS sangat paranoid bakal adanya serangan kejutan lain bergaya al-Qaeda dan tidak percaya bahwa Saddam Hussein telah jujur mengenai ketiadaan senjata pemusnah massal di negaranya.

"Tanpa peristiwa 9/11, saya rasa kami tidak bakal menyerang Irak. Pengekangan berkembang menjadi serangan besar-besaran dan penggulingan rezim," ucapnya.

Terkait penarikan mundur militer AS dari Afghanistan nan diselesaikan pada tahun 2021, Zalmay sepakat dengan keputusan tersebut meskipun prosesnya menuai banyak kritik lantaran dinilai membahayakan sekutu lokal. Ia beranggapan bahwa ancaman teroris telah sukses dimusnahkan sehingga prioritas AS telah berubah.

"Kami telah berada di sana selama 20 tahun. Afghanistan telah berubah. Perang bisa saja bersambung tanpa pemisah waktu. Dunia telah berubah. Prioritas telah berubah. Kami memusnahkan ancaman teroris. Itulah nan mendorong kami," tuturnya.

Tak lama setelah pasukan AS pergi, pemerintah Afghanistan nan didukung AS runtuh dan Taliban kembali berkuasa. Ironisnya, Zalmay justru menilai kembalinya rezim tersebut memberikan akibat nan positif bagi kepentingan negaranya.

"Saya pikir Taliban, secara mengejutkan, bersikap baik dalam perihal terorisme bagi kepentingan Amerika Serikat," pungkasnya.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News