Kenapa Masyarakat Pilih Belanja Kebutuhan secara Eceran? Ekonom Ungkap Alasannya

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi anak shopping di warung. Foto: Bastian AS/Shutterstock

Fenomena masyarakat nan memilih belanja peralatan kebutuhan sehari-hari dalam bungkusan sachet alias secara satuan tidak selalu berangkaian dengan rendahnya pendapatan.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan rumah tangga dengan pendapatan tidak rutin alias berjuntai pada bayaran harian condong mempertimbangkan jumlah duit nan kudu dikeluarkan saat itu dibandingkan nilai peralatan per satuan.

“Bagi rumah tangga nan pendapatannya tidak rutin alias berjuntai pada bayaran harian, mengeluarkan Rp 50 ribu sekaligus untuk sampo alias membeli minyak goreng dalam ukuran besar bisa terasa berat lantaran duit tersebut mungkin tetap dibutuhkan untuk makan, transportasi, alias kebutuhan mendadak,” kata Yusuf kepada kumparan, Minggu (13/9).

Menurut Yusuf, pola pembelian itu memang bisa menjadi salah satu gambaran tekanan terhadap daya beli masyarakat. Namun, kejadian beli peralatan sachetan/eceran tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya parameter untuk mengukur kondisi daya beli.

“Kalau masyarakat nan sebelumnya terbiasa membeli bungkusan besar mulai beranjak ke sachet alias ketengan, itu bisa menunjukkan bahwa tekanan finansial mulai dirasakan lebih luas,” ujar dia.

Yusuf melanjutkan, membeli peralatan secara satuan juga tak selalu menunjukkan seseorang mempunyai pendapatan sangat rendah. Rumah tangga dengan pendapatan bulanan nan cukup tetap bisa memilih bungkusan mini andaikan pemasukan nan diterima tidak rutin.

Ilustrasi warung sembako Foto: Dok. Istimewa

Meski membantu mengurangi pengeluaran dalam jangka pendek, pembelian dalam bungkusan mini mempunyai akibat terhadap pengeluaran rumah tangga dalam jangka panjang. Secara agregat, nilai per unit peralatan dalam bungkusan mini umumnya lebih mahal dibandingkan bungkusan besar.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti mengatakan masyarakat memilih bungkusan mini lantaran kudu membagi pendapatan untuk beragam kebutuhan.

“Mereka membeli bungkusan mini (meski in total harganya lebih mahal) lantaran mereka kudu membagi pendapatannya untuk dialokasikan ke beragam kebutuhannya,” ucap Esther.

Menurut Esther, sekitar 50-70 persen pendapatan masyarakat RI dialokasikan untuk kebutuhan makanan, minuman, dan transportasi.

Dia menjelaskan, dalam teori ekonomi ada Hukum Engel nan menggambarkan hubungan antara tingkat pendapatan dan porsi pengeluaran untuk makanan.

“Semakin mini pendapatan seseorang alias sebuah rumah tangga, maka semakin besar persentase nan dipakai untuk membeli makanan. Sebaliknya, jika pendapatan naik, porsi untuk makanan bakal turun,” tutur Esther.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan