Ekonomi Gak Bagus, Negara Ini Malah Naikkan Gaji Menteri-DPR Rp 50 M

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Singapura membuat kebijakan baru mengenai penghasilan menteri dan personil parlemennya, Selasa. Perdana Menteri (PM) Lawrence Wong mengumumkan rencana kenaikan penghasilan para pejabat hingga 9% mulai 15 Oktober.

Perlu diketahui, Kenaikan ini, merupakan nan pertama sejak tahun 2011. Rekomendasi sendiri telah diberikan Komite Pemerintah Singapura sejak Desember tahun lalu.

"Kami tidak bakal langsung beranjak ke tolok ukur penghasilan nan baru. Sebaliknya, kami bakal melakukan penyesuaian satu kali saat ini sebesar hingga 9% bagi para pejabat politik," kata Wong.

"Saya katakan 'hingga (9%)' lantaran kenaikan nan sama tidak bakal secara otomatis bertindak bagi semua orang. Penyesuaian bagi setiap pejabat bakal berjuntai pada situasi masing-masing, termasuk keahlian dan kapan penghasilan mereka terakhir kali disesuaikan," jelasnya.

Mengutip lama Channel News Asia (CNA), penghasilan PM nan saat ini sekitar S$2,2 juta per tahun. Gaji diusulkan naik menjadi S$3,6 juta alias sekitar Rp50 miliar. Wakil PM naik dari S$1,87 juta menjadi S$3,06 juta. Sementara itu, penghasilan menteri dibagi berdasar empat kategori.

Menteri tingkat tertinggi (MR1) nan sebelumnya bergaji sebesar S$1,76 juta per tahun, diusulkan naik menjadi S$2,88 juta. Sementara itu, menteri di bawahnya MR2, dulunya menerima S$1,54 juta per tahun dan bakal mendapat penghasilan baru sebesar S$2,52 juta per tahun.

Menteri MR3 naik penghasilan dari S$1,32 juta menjadi S$2,34 juta. Gaji menteri terendah MR4 nan sebelumnya S$1,1 juta per tahun, diusulkan naik menjadi S$1,8 juta.

"Sebagai PM, saya nan menentukan ranking masing-masing menteri, di mana setiap menteri ditempatkan dalam kisaran penghasilan untuk ranking tersebut, dan bingkisan keahlian perseorangan setiap tahunnya," ujar Wong lagi.

"Mereka mungkin mulai dari kisaran penghasilan nan lebih rendah. Mereka nan berkinerja baik mungkin bakal naik ke tingkat nan lebih tinggi dalam kisaran penghasilan tersebut," tegasnya.

"Beberapa menteri mungkin juga dipromosikan ke tingkat nan lebih tinggi lantaran mereka memikul tanggung jawab nan lebih besar."

Selain jejeran menteri, kenaikan penghasilan juga bertindak untuk pejabat tingkat negara dan parlemen. Sekretaris Parlemen Senior nan dulunya menerima S$572.000 per tahun, bakal mendapatkan penghasilan baru sebesar S$810.000.

Sekretaris parlemen naik dari S$418.000 menjadi S$630.000 per tahun. Sementara itu, personil parlemen mengalami penyesuaian penghasilan dari S$192.500 menjadi S$250.000 per tahun.

Gaji Menteri Tertinggi di Dunia

Sebenarnya kenaikan ini membikin heboh. Karena Singapura merupakan negara nan bayar para pemimpin politiknya dengan penghasilan tertinggi di dunia.

Padahal, pendapatan rata-rata penduduk Singapura hanya sebesar S$5.775 (Rp 80,2 juta) pada tahun 2025. Hal tersebut membikin nomor ketidakpuasan warga.

Mengutip Reuters, situasi makin rumit lantaran inflasi merangkak naik hingga 2% pada bulan Juli. Bank sentral memperkirakan nomor tersebut bakal tetap tinggi hingga paruh kedua tahun 2027.

Sebenarnya di 2012, Singapura telah memutuskan memangkas penghasilan menteri 36% seiring ketidakpuasan publik. Namun di 2017, komite pemerintah merekomendasikan kenaikan.

Tapi usulan tersebut tak diterapkan tahun itu. Kemudian di 2023, usulan kenaikan penghasilan datang lagi meski ditunda akibat ketidakpastian ekonomi.

Meski demikian, kasus korupsi nan jarang terjadi ke menteri di Singapura terjadi di 2024. Kala itu mantan Menteri Transportasi S. Iswaran dipenjara pada 2024 lantaran menghalangi proses norma dan menerima bingkisan senilai lebih dari S$300.000.

Menurut info dari organisasi nirlaba PoliticalSalaries.com, CEO Hong Kong adalah orang dengan pendapatan tertinggi kedua di bumi dengan penghasilan US$719,000 per tahun, diikuti oleh presiden Swiss dengan penghasilan US$606,000. Sebagai perbandingan, PM Inggris menghasilkan US$230,000 sementara Presiden AS Donald Trump memperoleh US$400,000.

Pertumbuhan Ekonomi nan Tak Baik-Baik Saja?

Perlu diketahui, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Singapura tumbuh 5,7% secara tahunan pada kuartal II-2026. Ekonomi diperkirakan mencapai 4,5% hingga 5,5% tahun ini.

Ekspor nonmigas meningkat pesat sementara sektor kepintaran buatan (AI) dan teknologi memimpin pertumbuhan. Tapi, domestik mencatat keahlian nan lebih lemah.

Sektor-sektor nan tidak mengenai dengan ledakan AI dunia menghadapi tekanan dari akibat geopolitik dan melemahnya sentimen konsumen akibat tekanan inflasi. Hal ini pada akhirnya menunjukkan ekonomi Singapura tidak merata, dengan mulai munculnya pola "pertumbuhan berbentuk K" namalain K-shaped growth.

Pertumbuhan berbentuk K menggambarkan kondisi ketika "berbagai bagian ekonomi tumbuh dengan kecepatan berbeda alias apalagi bergerak ke arah nan berlawanan". Secara mudah ini bisa diartikan sebagai "kondisi ketika pertumbuhan ekonomi tidak dirasakan secara merata oleh seluruh sektor alias golongan masyarakat".

"Pertumbuhan nan terlihat dari nomor utama memang kuat," kata ahli ekonomi Maybank Securities Singapore, Brian Lee, dikutip akhir Agustus lalu.

"Tetapi di baliknya cukup tidak merata," tambahnya.

Sektor domestik dan sektor nan berhadapan langsung dengan konsumen lemah di Singapura. Sektor ritel serta makanan dan minuman (F&B) misalnya, menghadapi tingginya biaya sewa dan tenaga kerja.

Di sisi lain, konsumen tetap cukup berhati-hati dalam membelanjakan duit mereka di dalam negeri. Tapi, sebagian malah lebih suka membelanjakan uangnya di luar negeri akibat penguatan dolar Singapura nan membikin perjalanan dan shopping di area regional menjadi relatif lebih menarik.

"Pertumbuhan berbentuk K paling terlihat dari apa nan diproduksi pabrik-pabrik Singapura dan dijual ke pasar luar negeri," kata Kepala Riset Asia di ANZ, Khoon Goh.

"Hal ini paling terlihat pada ekspor domestik nonmigas Singapura, ketika pertumbuhan ekspor elektronik melonjak, sementara produk non-elektronik tidak mengalami perihal serupa," ujar Goh.

Perlu diketahui, pada Juli, ekspor domestik nonmigas elektronik melonjak 112% secara tahunan. Sementara itu, ekspor non-elektronik turun 2,3%.

Goh menambahkan bahwa nyaris 60% pertumbuhan pada paruh pertama tahun ini berasal dari sektor manufaktur dan logistik. Sementara itu, sektor makanan dan minuman justru mengalami kontraksi 0,7%, sedangkan perdagangan ritel dan jasa nonprofesional mencatat pertumbuhan nan lebih moderat.

Para ahli ekonomi menilai sektor-sektor dengan keahlian terbaik dalam beberapa kuartal terakhir bukanlah sektor nan padat karya. Sebaliknya, sektor nan mengalami pelemahan justru banyak menyerap tenaga kerja.

Toko-Toko F&B Tutup

Merujuk laman VnExpress, industri F&B merupakan salah satu nan terpukul di Singapura. Data dari Accounting and Corporate Regulatory Authority (ACRA), lembaga nan mencatat dan mengatur perusahaan di Singapura, sebanyak 2.101 upaya kuliner tutup sepanjang Januari hingga Juli 2026.

Jumlah ini melonjak 25,1% dibanding periode nan sama tahun lalu. The Straits Times menyebut gelombang penutupan ini memperlihatkan sungguh beratnya tantangan F&B saat ini, terutama bagi upaya independen dengan margin tipis.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News