Ekonomi AS Terancam Resesi, Mark Zandi: Trump Punya Waktu Maksimal Sepekan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
 Trump Punya Waktu Maksimal Sepekan Ilustrasi.(Magnific)

EKONOMI Amerika Serikat sekarang berada di periode akibat resesi nan serius jika negosiasi perdamaian dengan Iran tidak segera membuahkan hasil. Kepala Ekonom Moody’s, Mark Zandi, memperingatkan bahwa Presiden Donald Trump hanya mempunyai waktu sekitar satu minggu untuk mengamankan kesepakatan sebelum akibat perang menyeret ekonomi ke dalam lembah kelesuan.

Situasi memanas setelah laporan pada Senin (1/6) menyebut bahwa Iran menakut-nakuti bakal menghentikan negosiasi dan memblokade Selat Hormuz hingga tuntutan utama mereka dipenuhi. Kabar ini memicu lonjakan nilai minyak mentah bumi (Brent dan AS) sebesar 7% pada Senin pagi.

Amang Resesi dan Lonjakan Harga Minyak

Zandi menyatakan bahwa lonjakan nilai minyak nan berkepanjangan bakal memberikan akibat signifikan bagi konsumen dan stabilitas ekonomi nasional. Menurutnya, kesepakatan tenteram adalah satu-satunya langkah untuk mendinginkan nilai minyak nan saat ini berada di periode ambang pemisah kritis.

"Ini kudu terjadi dengan sangat cepat, dalam satu, dua, tiga hari ke depan, alias setidaknya minggu depan," ujar Zandi dalam wawancara dengan Bloomberg. "Lebih dari itu, saya pikir kita menghadapi masalah nan sangat nyata."

Zandi menyoroti beberapa parameter kritis nan menakut-nakuti ekonomi AS:

  • Cadangan Minyak Menipis: Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS merosot ke nomor 365 juta barel, level terendah dalam dua tahun terakhir menurut info Energy Information Administration (EIA).
  • Harga Bensin: Tanpa kesepakatan, nilai bensin diprediksi menembus nomor psikologis US$5 per galon, nan dapat memicu penurunan shopping konsumen secara drastis.
  • Harga Minyak Mentah: Jika nilai minyak melampaui US$125 per barel, perihal tersebut menjadi sinyal kuat datangnya resesi.

Kondisi Terkini: Per Senin (2/6), rata-rata nasional nilai bensin reguler di AS telah mencapai US$4,32 per galon.

Waktu nan kian Sempit

Senada dengan Zandi, lembaga riset daya HFI Research menyebut bahwa opsi dan waktu bagi pemerintahan Trump kian menipis. Dalam laporannya, firma tersebut memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz tetap tertutup hingga akhir Juni, inventaris minyak dunia bakal mencapai titik minimum operasional.

Meskipun kajian New York Fed pada akhir April lampau menunjukkan probabilitas resesi dalam 12 bulan ke depan tetap di nomor 17%, eskalasi bentrok di Timur Tengah dan ketidakpastian pasokan daya dapat mengubah proyeksi tersebut dengan cepat. Kini, mata bumi tertuju pada langkah diplomasi Washington untuk menghindari guncangan ekonomi nan lebih dalam. (Business Insider/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia