Ekonom Soroti Dampak dari Rupiah Melemah di Atas Asumsi Rp 17.500 pada 2027

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Teller Bank Mandiri menunjukkan duit pecahan Dolar AS dan Rupiah di Bank Mandiri KCP Jakarta DPR, Senin (7/1/2019). Kurs Rupiah terhadap Dolar AS menguat 1,3 persen menjadi Rp14.080. Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Pemerintah telah menetapkan dugaan nilai tukar rupiah sebesar Rp 17.500 per dolar AS dalam RAPBN 2027. Asumsi tersebut naik jika dibandingkan dengan dugaan RAPBN 2026 sebesar Rp 16.500 per Dolar AS.

Economic Researcher CORE, Yusuf Randy Manilet, menilai nomor tersebut tetap cukup optimistis andaikan digunakan sebagai rata-rata tahunan. Pasalnya, sepanjang 2026 rupiah telah bergerak di atas level tersebut, dengan rata-rata semester I sekitar Rp 17.200 dan sempat melemah hingga di atas Rp 17.700.

“Artinya, untuk mencapai rata-rata Rp 17.500 pada 2027, rupiah perlu menguat dan memperkuat cukup konsisten,” kata Yusuf saat dihubungi kumparan, Sabtu (29/8).

Menurutnya, kesempatan rupiah mencapai dugaan tersebut tetap terbuka andaikan tekanan dunia mereda, arus modal kembali masuk, dan kebijakan pengelolaan devisa hasil ekspor bisa meningkatkan pasokan dolar AS di dalam negeri. Namun, tantangan tetap cukup besar, terutama lantaran defisit transaksi melangkah nan melebar menunjukkan kebutuhan devisa Indonesia tetap tinggi. Selain itu, ketidakpastian geopolitik dan potensi kenaikan nilai daya juga membikin rupiah tetap rentan terhadap tekanan eksternal.

“Saya memandang Rp 17.500 lebih tepat disebut sebagai dugaan nan optimistis daripada baseline nan betul-betul aman. Konsensus pasar condong menempatkan kurs 2027 di Kisaran Rp 17.200 sampai Rp 17.700. Angka pemerintah tetap berada di sisi nan cukup cerah dari spektrum tersebut,” tutur Yusuf.

Ia menjelaskan, andaikan rupiah bergerak lebih lemah dari dugaan Rp 17.500, tekanan terhadap APBN bakal terasa terutama melalui subsidi energi, pembayaran utang dalam kurs asing, dan biaya pembiayaan.

Pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan biaya pengadaan BBM dan listrik, khususnya andaikan nilai minyak juga berada di atas dugaan pemerintah. Dalam RAPBN 2027, setiap pelemahan Rp 100 per dolar AS diperkirakan meningkatkan shopping sekitar Rp 8 triliun, sementara tambahan pendapatan diperkirakan sekitar Rp5 triliun.

“Defisit pun berpotensi melebar sekitar Rp 3 triliun untuk setiap pelemahan Rp 100,” ucapnya.

Tekanan juga berpotensi berasal dari posisi utang pemerintah. Sekitar seperempat utang pemerintah tetap berdenominasi kurs asing sehingga pelemahan rupiah bakal meningkatkan nilai pembayaran dalam rupiah. Selain itu, akibat nilai tukar dapat mendorong kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Kenaikan yield sebesar 0,1 persen saja diperkirakan dapat menambah shopping kembang sekitar Rp 1,8 triliun.

Menurutnya, tekanan terhadap nilai tukar juga dapat merembet ke sejumlah dugaan ekonomi lainnya. Apabila rupiah melemah hingga Rp 18.000 per dolar AS dan memperkuat di level tersebut, inflasi impor berpotensi meningkat, ruang penurunan suku kembang menjadi lebih terbatas, dan investasi dapat tertahan.

Karyawan menunjukkan duit pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran duit asing Dolarasia Money Changer Cibubur, di Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Foto: ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan

“Target pertumbuhan 6 persen pun ikut menghadapi tekanan. Masalahnya bukan hanya tambahan shopping beberapa triliun rupiah, tetapi potensi tekanan berbarengan pada subsidi, kembang utang, inflasi, dan pertumbuhan,” ujarnya.

Yusuf menilai dugaan Rp 17.500 per dolar AS bukan nomor nan tidak masuk akal, tetapi pencapaiannya memerlukan kondisi dunia dan domestik nan cukup mendukung.

“Untuk perencanaan fiskal, pemerintah tetap perlu menyiapkan skenario ketika rupiah berada di Rp 18.000 alias lebih lemah,” ujarnya.

Menambahkan Yusuf, Ekonomi INDEF Rizal Taufikurahman menilai dugaan rupiah Rp 17.500 per dolar AS pada 2027 tetap berkesempatan tercapai, tetapi relatif optimistis andaikan memandang tekanan eksternal dan domestik saat ini. Tantangan tersebut tidak hanya berasal dari arah dolar AS dan suku kembang global, tetapi juga dari kekuatan arus modal masuk, kebutuhan kurs asing untuk impor dan pembayaran tanggungjawab eksternal, serta kredibilitas kebijakan domestik.

“Artinya, dugaan Rp 17.500 memerlukan kombinasi stabilitas dunia nan lebih baik dan esensial domestik nan cukup kuat. Jika tidak, rupiah berpotensi bergerak lebih lemah dari dugaan APBN,” kata Rizal kepada kumparan.

Dari sisi fiskal, dia menjelaskan pelemahan rupiah di atas dugaan bakal meningkatkan tekanan terhadap shopping nan sensitif terhadap kurs asing, terutama pembayaran kembang dan pokok utang valas, subsidi dan kompensasi energi, serta shopping nan mempunyai kandungan impor. Meskipun pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan sejumlah penerimaan, terutama penerimaan migas dan komoditas berbasis dolar AS, akibat bersihnya belum tentu positif lantaran struktur shopping pemerintah juga cukup sensitif terhadap depresiasi rupiah.

Oleh lantaran itu, Rizal menyampaikan perhatian pemerintah tidak semestinya hanya tertuju pada apakah dugaan Rp17.500 per dolar AS dapat tercapai, tetapi juga pada kesiapan APBN menghadapi deviasi nilai tukar.

“Pemerintah perlu menyiapkan stress test pada skenario Rp 18.000 apalagi Rp 18.500 per dolar AS, berikut ruang realokasi dan buffer fiskalnya,” sebut Rizal.

Ia menuturkan andaikan rupiah mengalami pelemahan nan cukup dalam sementara penerimaan tidak ikut menguat, ruang fiskal pemerintah bakal semakin terbatas dan akibat penyesuaian shopping menjadi lebih besar.

“Jadi, dugaan kurs kudu realistis agar RAPBN tidak terlalu rentan terhadap shock eksternal,” imbuh Rizal.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan