Jakarta -
PT Freeport Indonesia (PTFI) pada April 2026 telah menyetorkan bagian untung bersih perusahaan tahun 2025 kepada pemerintah pusat dan wilayah sebesar Rp4,8 triliun sebagai tambahan dari nan sudah disetorkan sepanjang tahun 2025, sehingga total setoran kepada negara mencapai Rp75 triliun.
Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, nilai setoran tersebut sangat signifikan bagi penerimaan negara. Ia menjelaskan setoran perusahaan tambang tersebut masuk melalui dua jalur, tergantung jenisnya.
Pertama, melalui penerimaan pajak, dan kedua, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) nan termasuk royalti dan komponen lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khusus untuk setoran dividen nan disalurkan melalui BUMN, biaya tersebut sekarang bermuara ke Danantara. Sementara sebagian lainnya tetap masuk langsung ke kas negara.
Dengan demikian, total kontribusi Freeport bakal mengalir ke beberapa pos sekaligus, nan sebagian ke PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID) nan kemudian terhubung ke Danantara, dan sebagian lagi langsung tercatat sebagai penerimaan pajak dan PNBP.
"(Nilai) 75 triliun itu besar. Termasuk paling besar lah di antara (BUMN) nan lain. Karena kan nilai daripada ekspornya kan juga besar sekali dari hasil tabang mereka," ujar Tauhid dihubungi detikcom, Rabu (13/5/2026).
Selain itu, potensi penerimaan negara dari sektor tambang pada 2026 diprediksi bisa lebih besar lagi, seiring kenaikan nilai komoditas global. Komoditas seperti nikel, batu bara, bauksit, hingga emas diperkirakan bakal mendongkrak kontribusi tersebut.
Sebagai contoh, ekspor emas dari Freeport. Meski tarif royalti tidak berubah, kenaikan nilai pasar otomatis bakal meningkatkan nilai setoran ke negara. Oleh lantaran itu, nomor penerimaan ke depan berpotensi jauh melampaui Rp 75 triliun.
Kemudian, kondisi dunia saat ini turut mendorong tren tersebut. Di tengah krisis daya dan ketidakpastian pasar minyak, komoditas tambang justru semakin diminati.
Secara umum, ketidakstabilan dunia nan tengah terjadi justru berpotensi mengerek nilai komoditas tambang lebih tinggi.
"Nah di tengah situasi ini. Krisis energinya, krisis minyak. Hasil tambang jadi primadona. Jadi kenapa misalnya ketika nilai minyak naik. Orang bakal mencari pengganti ke batu bara," ungkapnya.
"Ketika dolar, katakanlah di tengah situasi krisis ini, nilai emas ada nan sebagian besar ikut naik," imbuhnya.
Sebelumnya Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas menyampaikan setoran Rp 75 triliun tersebut termasuk dividen kepada MIND ID sebagai pemegang saham Pemerintah Indonesia sebesar Rp 16,9 triliun. Sebagian lainnya diberikan ke pemerintah wilayah sebesar Rp 13,48 triliun nan terdiri dari Rp 10,6 triliun dibayarkan tahun 2025 dan Rp 2,88 triliun nan merupakan pembagian untung bersih perusahaan tahun 2025.
"Perusahaan senantiasa mengedepankan transparansi dan akuntabilitas dalam menjalankan kewajibannya kepada negara dan wilayah dengan angan agar dapat dimanfaatkan untuk sebesarbesarnya kepentingan rakyat di wilayah masing-masing," ujar Tony dalam keterangan tertulis, Jumat (8/5).
Secara rinci, pembagian Rp 4,8 triliun bagian untung bersih perusahaan antara lain ialah pemerintah pusat menerima Rp 1,92 triliun alias 4%. Kemudian Provinsi Papua Tengah Rp 720,5 miliar alias 1,5% miliar, dan Kabupaten Mimika mendapat Rp 1,2 triliun alias 2,5%.
Kemudian, Freeport juga memberikan untung kepada tujuh kabupaten lain di Papua Tengah ialah Nabire, Paniai, Puncak, Puncak Jaya, Dogiyai, Deiyai, dan Intan Jaya. Setiap kabupaten menerima Rp 137,2 miliar, sehingga total nan diberikan mencapai Rp 960,4 miliar alias 2%.
(akd/ega)
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·