Ekonom Sebut Destry Sosok Tepat Pimpin BI, Ini Alasannya

Sedang Trending 6 hari yang lalu
Ekonom Sebut Destry Sosok Tepat Pimpin BI, Ini Alasannya Destry Damayanti(Antara)

KEPALA Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai Destry Damayanti merupakan salah satu figur nan tepat untuk memimpin Bank Indonesia (BI). Menurutnya, Destry mempunyai kombinasi pengalaman nan relatif lengkap.

Sosok tersebut pernah berada di bumi akademik, pasar keuangan, perbankan, Lembaga Penjamin Simpanan, hingga akhirnya berada di jejeran Dewan Gubernur Bank Indonesia sejak 2019. Destry juga telah menjalani periode kedua sebagai Deputi Gubernur Senior sejak Agustus 2024.

Rekam jejak tersebut, menurut Fakhrul, menjadi modal krusial di tengah kondisi ekonomi dan pasar finansial dunia nan sedang berubah cepat.

“Menurut saya, andaikan Ibu Destry nantinya dicalonkan, beliau merupakan figur nan tepat untuk memimpin Bank Indonesia. Pengalamannya sangat lengkap, mulai dari ahli ekonomi pasar, perbankan, LPS, hingga lebih dari tujuh tahun berada di jejeran ketua BI. Kombinasi pengalaman pasar dan institusional seperti ini menjadi sangat krusial pada periode nan penuh ketidakpastian seperti sekarang,” ujar Fakhrul dalam keterangan nan dikutip, Sabtu (8/8).

Fakhrul berpendapat, tantangan Gubernur BI berikutnya bakal berbeda dengan tantangan bank sentral satu alias dua dasawarsa sebelumnya. Menurutnya, bank sentral saat ini tidak hanya berhadapan dengan persoalan inflasi dan suku bunga.

"Namun juga fragmentasi perdagangan global, perubahan rantai pasok, meningkatnya peran kebijakan industri, ketidakseimbangan likuiditas global, volatilitas arus modal, serta perubahan teknologi nan berjalan sangat cepat," jelasnya.

Fakhrul mengatakan bumi nan bakal dihadapi Gubernur BI berikutnya bukan bumi nan sama dengan ketika kerangka inflation targeting pertama kali dibangun. Deglobalisasi membikin shock semakin banyak berasal dari sisi penawaran. Sementara pergerakan modal dunia menjadi semakin sensitif terhadap geopolitik dan perubahan kebijakan negara maju.

"Karena itu, keahlian membaca perubahan bumi dan menerjemahkannya menjadi kebijakan domestik bakal menjadi semakin penting,” ujar Fakhrul.

Dalam kondisi tersebut, katanya, independensi Bank Indonesia tetap kudu menjadi jangkar utama kredibilitas. Namun, lanjutnya, independensi tidak berfaedah BI bekerja sendirian.

"Justru semakin kompleks tantangan ekonomi, semakin diperlukan koordinasi nan baik antara kebijakan moneter, fiskal, makroprudensial, dan sektor keuangan, dengan tetap mempertahankan kejelasan mandat dan akuntabilitas masing-masing institusi," paparnya.

Fakhrul menyebut koordinasi dan independensi bukan dua perihal nan bertentangan. BI dinilai kudu tetap independen dalam mengambil keputusan sesuai mandatnya, tetapi pada bumi nan semakin kompleks, bank sentral juga kudu memahami akibat kebijakannya terhadap fiskal, perbankan, pasar keuangan, bumi usaha, dan neraca pembayaran secara keseluruhan.

Fakhrul menilai salah satu pekerjaan terbesar Gubernur BI nan baru justru berada pada sisi komunikasi dan expectation management. Dalam kondisi pasar nan sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan, komunikasi bank sentral bukan sekadar pelengkap kebijakan, melainkan telah menjadi instrumen kebijakan itu sendiri.

Menurutnya, pasar memerlukan kejelasan mengenai policy sequence, ialah kapan kebijakan diarahkan untuk stabilisasi, kapan memasuki fase normalisasi, serta gimana BI menggunakan beragam instrumen di luar suku kembang untuk mengelola likuiditas, nilai tukar, dan transmisi kebijakan.

“Tugas Gubernur BI berikutnya bukan hanya mengambil keputusan nan benar, tetapi juga membikin pasar memahami kenapa keputusan tersebut diambil dan ke mana arah kebijakan berikutnya. Dalam bumi nan penuh ketidakpastian, kepastian komunikasi mempunyai nilai ekonomi nan sangat besar,” ujar Fakhrul. (Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia