Bank Indonesia (BI) bakal mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada hari ini, Kamis (18/6). Di tengah meredanya tekanan terhadap rupiah dan setelah kenaikan suku kembang garang dalam beberapa pekan terakhir, kebanyakan ahli ekonomi memperkirakan bank sentral bakal mempertahankan BI Rate di level 5,50 persen. Sejak Mei lalu, BI telah meningkatkan suku kembang referensi sebesar 75 pedoman poin, terdiri dari kenaikan 50 pedoman poin pada RDG Mei dan tambahan 25 pedoman poin dalam rapat di luar agenda bulanan pada awal Juni. Langkah tersebut ditempuh untuk meredam tekanan terhadap rupiah nan sempat menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS serta menjaga stabilitas pasar finansial domestik. Kepala Ekonom Bank Permata menilai ruang bagi BI untuk kembali meningkatkan suku kembang sekarang semakin terbatas seiring membaiknya pergerakan rupiah. “Menurut saya, kesempatan BI meningkatkan BI Rate lagi besok sudah lebih mini dibandingkan sebelum rupiah pulih. Skenario dasar saya adalah BI menahan BI Rate di 5,50 persen, lantaran BI sudah melakukan kenaikan cukup garang sebesar 75 bps dalam waktu kurang dari satu bulan,” kata Josua kepada kumparan. Menurutnya, tujuan utama kenaikan suku kembang sebelumnya adalah menahan pelemahan rupiah, menarik kembali aliran modal asing, dan menjaga ekspektasi inflasi. Dengan kondisi rupiah nan mulai stabil, nilai minyak nan menurun, serta mulai masuknya kembali biaya asing ke instrumen berbasis rupiah, kebutuhan untuk meningkatkan suku kembang tambahan menjadi berkurang. Bank Permata memperkirakan kesempatan BI mempertahankan suku kembang berada di kisaran 80-90 persen. Meski demikian, opsi kenaikan 25 pedoman poin tetap tetap terbuka andaikan tekanan eksternal kembali meningkat, seperti penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, alias pelemahan rupiah nan kembali mendekati level Rp 18.000 per dolar AS. Pandangan serupa disampaikan Ekonom LPEM UI Teuku Riefky. Menurutnya, pengetatan kebijakan moneter nan telah dilakukan BI sejak Mei perlu diberi waktu untuk menunjukkan dampaknya terhadap perekonomian dan pasar keuangan. Ia menilai langkah BI meningkatkan suku kembang sebesar 75 pedoman poin secara kumulatif, disertai peningkatan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan intervensi di pasar kurs asing, sudah cukup untuk merespons tekanan nan terjadi dalam beberapa bulan terakhir. “Mempertimbangkan pengetatan kebijakan nan telah berjalan secara berjenjang sejak Mei, intervensi kurs asing nan terus berlanjut, serta kebutuhan untuk mengevaluasi akibat dari langkah-langkah nan baru-baru ini diambil, kami berpandangan bahwa Bank Indonesia perlu mempertahankan suku kembang kebijakannya pada level 5,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur nan bakal datang,” kata Riefky. Meski demikian, tidak semua ahli ekonomi menutup kesempatan kenaikan suku kembang pada RDG kali ini. Kepala Ekonom Bank BCA David Sumual justru memperkirakan BI tetap berpotensi meningkatkan BI Rate sebesar 25 pedoman poin. Menurut David, meredanya akibat geopolitik dunia setelah tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran memang mengurangi potensi lonjakan inflasi nan ekstrem. Namun, BI dinilai tetap mempunyai ruang untuk memperkuat daya tarik aset rupiah dan menjaga ekspektasi inflasi ke depan. “Proyeksi BCA bakal naik 25 bps. Kesepakatan AS-Iran memberikan sinyal positif tidak terjadinya skenario ekstrim kenaikan inflasi. Namun BI sebenarnya tetap ada ruang untuk meningkatkan suku kembang dalam rangka menjamin stabilitas dan daya tarik aset rupiah sekaligus menjangkar ekspektasi inflasi ke depan,” kata David.
55 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·