Taksi Green SM menyebut telah bekerja sama dengan Korlantas Polri untuk membikin sebuah program training sopir. Sebelumnya, kurangnya training pengemudi Green SM jadi sorotan KNKT dalam investigasi kecelakaan KA Argo Bromo menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur pada April lalu.
"Green SM baru-baru ini bekerja sama dengan Korlantas Polri untuk menyelenggarakan program training lanjutan nan bermaksud memperkuat keahlian berkendara kondusif dan meningkatkan kesadaran keselamatan berlalu lintas di kalangan pengemudi," ucap Managing Director of Green SM Indonesia, Deny Tjia, kepada kumparan, Sabtu (23/5).
Deny menjelaskan, selama ini, setiap pengemudi Green SM diwajibkan untuk mengikuti training nan dibuat oleh internal mereka. Para pengemudi pun terus diawasi.
"Seluruh pengemudi diwajibkan mengikuti training wajib sejak awal masa kerja mereka, termasuk keahlian berkendara aman, prosedur pengoperasian kendaraan, dan standar jasa pelanggan," ucap Deny.
"Selama bekerja, para pengemudi juga secara rutin menerima pelatihan, pengawasan, serta pengingat untuk memastikan kepatuhan terhadap standar keselamatan perusahaan," tambahnya.
Deny menambahkan, Green SM bakal terus meningkatkan training para pengemudi mereka.
"Kami bakal terus meninjau dan memperkuat proses pelatihan, pengawasan, serta operasional guna semakin meningkatkan kualitas dan keselamatan jasa kami," tuturnya.
Terkait kecelakaan kereta di Bekasi, Deny menyebut pihaknya menanggapi serius kejadian tersebut.
"Kami bakal terus meninjau dan memperkuat proses pelatihan, pengawasan, serta operasional guna semakin meningkatkan kualitas dan keselamatan jasa kami," ucap Deny.
Kata KNKT
Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, menyoroti pola perekrutan serta minimnya edukasi teknis kendaraan nan diberikan kepada pengemudi oleh perusahaan taksi Green SM. Sorotan itu usai adanya taksi Green SM nan terlibat kecelakaan dengan KRL di perlintasan sebidang di area Bekasi Timur.
Soerjanto mengungkapkan, proses rekrutmen pengemudi taksi tersebut hanya dilakukan dalam beberapa hari kerja.
“Jalur rekrutmen pengemudi secara normal antara 3 sampai 5 hari kerja,” ujar Soerjanto dalam rapat kerja berbareng Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (21/5).
Menurut Soerjanto, proses pengenalan kendaraan kepada pengemudi dilakukan hanya melalui kelas teori secara singkat. Materi training nan diberikan juga dinilai tetap terbatas pada pengoperasian dasar kendaraan.
“Proses pengenalan kendaraan melalui kelas teori secara singkat. Pelatihan mencakup langkah menghidupkan mobil, langkah parkir, lampu indikator, knob transmisi, serta penggunaan sabuk pengaman, tidak ada edukasi mengenai teknis kendaraan alias penanganan sistem saat terjadinya error,” katanya.
Soerjanto juga menyoroti kreasi parameter transmisi kendaraan nan dinilai kurang mudah terlihat saat kondisi siang hari. Hal itu disebut menjadi salah satu temuan dalam investigasi awal.
“Knob lampu parameter pada saat siang hari susah dilihat,” ujar Soerjanto.
Selain itu, dia menyebut pengemudi taksi nan terlibat dalam kecelakaan tersebut merupakan pengemudi baru nan belum lama bekerja.
“Pengemudi nan terlibat laka baru diterima melalui Job Fair dan baru bekerja 3 hari,” katanya.
Berdasarkan info per 2024, Green SM mempunyai 9.995 unit armada.
“Dari info perusahaan, kami memandang bahwa izin penyelenggaraan pikulan taksi reguler di Jabodetabek pada tahun 2024 jika tidak salah itu adalah 9.995 unit. Izin reguler airport 200 unit. Rasio kendaraan dan pengemudi 1 banding 1,5,” papar Soerjanto.
Tertabraknya taksi Green SM ini berujung pada kecelakaan KRL vs KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. Insiden itu menewaskan 16 orang.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·