Jakarta -
Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno menyampaikan apresiasi atas keberhasilan strategi diplomasi Presiden Prabowo dalam mendorong terciptanya stabilitas ekonomi di Indonesia setelah terwujudnya gencatan senjata Iran dan Amerika Serikat.
Hal ini disampaikan Eddy sebagai respons taklimat Pidato Presiden Prabowo nan menyampaikan keberhasilan menjaga stabilitas ekonomi nasional. Menurut Eddy, stabilitas nilai daya di Indonesia jauh lebih kondusif dibandingkan dengan kondisi nan dialami negara lain seperti Singapura, Filipina, dan Thailand.
"Konsistensi Presiden Prabowo dalam mengedepankan jalur diplomasi damai, deeskalasi konflik, serta penghormatan terhadap norma internasional merupakan gambaran dari politik luar negeri bebas aktif nan berorientasi dunia sekaligus mempunyai akibat langsung terhadap stabilitas nasional," kata Eddy dalam keterangannya, Kamis (9/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejak awal kami sudah sampaikan bahwa eskalasi bentrok di Timur Tengah berpotensi menekan rantai pasok daya dunia dan mendorong kenaikan nilai minyak mentah, pupuk, bahan baku plastik dan lainnya. Oleh lantaran itu, setiap upaya deeskalasi, termasuk gencatan senjata, kudu kita apresiasi lantaran berakibat langsung pada stabilitas perekonomian nasional," ujarnya.
Lebih jauh, dia menekankan bahwa keberhasilan strategi diplomasi Presiden Prabowo secara langsung berkontribusi pada stabilitas nilai energi, inflasi, serta kepastian ekonomi di dalam negeri.
"Ketika nilai daya dunia lebih terkendali maka tekanan terhadap APBN berkurang, subsidi daya lebih terjaga, dan daya beli masyarakat bisa dipertahankan," tuturnya.
Dalam beragam pernyataannya, Eddy secara konsisten menekankan bahwa ketahanan daya nasional tidak boleh semata berjuntai pada dinamika global.
Dia mendorong pemerintah untuk mempercepat agenda transisi energi, termasuk penguatan elektrifikasi transportasi, industri dan rumah tangga, pengembangan daya baru terbarukan agar terhindar dari ketergantungan terhadap impor daya fosil.
"Diplomasi nan efektif kudu diiringi dengan kebijakan domestik nan kuat. Kita kudu membangun sistem ketahanan daya nan kuat agar tidak mudah terguncang oleh bentrok internasional," ungkapnya.
Eddy mengingatkan pentingnya keandalan pasokan daya nasional, termasuk melalui penguatan persediaan daya strategis dan optimasi peran BUMN daya dalam menjaga stabilitas distribusi. Dia menekankan bahwa ketahanan daya merupakan bagian integral dari kedaulatan nasional.
"Diplomasi nan sukses kudu diterjemahkan menjadi kebijakan dalam negeri nan konkret. Inilah kunci agar Indonesia bisa membangun ketahanan ekonomi dan daya nan berkepanjangan di tengah gejolak global," tutupnya.
(anl/ega)
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·