Jakarta -
Pasar Cipadu pernah menjadi pusat perdagangan kain dan busana legendaris di Kota Tangerang. Namun degub nadinya sekarang semakin pudar, sunyi ditinggal pembeli.
Bak jatuh tertimpa tangga, sekarang sentra jenis kain bahan itu kudu merasakan imbas dari bentrok Timur Tengah, ialah kenaikan nilai bahan baku tekstil. Hal ini membikin napas para pedagang semakin terengah-engah untuk bertahan.
Salah satunya adalah Muklis, pedagang kain bahan nan sudah berbisnis sejak awal tahun 2000. Menurutnya, suasana pasar saat ini sudah sangat sepi, terlebih jika dibandingkan dengan masa kejayaannya tepat sebelum COVID-19 melanda pada 2020 silam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pokoknya asalnya dari COVID kemarin, sudah mulai kacau selanjutnya pasar. Tambah lagi masalah orang-orang jual lagi di online, orang sembari rebahan juga bisa beli, makin sunyi nan datang kan," keluhnya saat ditemui detikcom, Kamis (15/4/2026).
Artinya sudah sekitar 6 tahun pusat kain dan jenis tekstil ini sunyi ditinggal pembeli. Bahkan saking sepinya pasar saat ini, Muklis sampai tidak memusingkan mengenai kenaikan nilai kain nan dijualnya akibat kenaikan bahan baku tekstil. Sebab, baik nilai mengalami kenaikan alias tidak, percuma jika tak ada pembeli nan datang.
"Masalah utamanya kan bukan di harga, tapi di ekonomi kita. Kan ini saya jual bahan kebanyakan untuk seragam pabrik. Kalau dulu orang pabrik dapat seragam setahun dua kali, sekarang paling tiga tahun sekali, efisiensi. Percuma nilai nggak naik jika nggak ada nan beli," jelasnya.
"Di pasar pun sama, terlihat kan (kondisi pasar) ini bagaimana. Dulu orang ramai lampau lalang, sekarang sepi. Siapa nan beli jika sunyi begini, paling hanya andalkan langganan pesan lewat WA," tambah Muklis sembari menunjukkan kondisi pasar nan sekarang sudah sangat sepi.
Ia mengatakan saat ini omzet dagangan sudah turun lebih dari 70% dibandingkan dengan masa sebelum COVID-19. Saat ini dia hanya bisa mengandalkan para langganan nan tetap memesan kain bahan, daripada mengharapkan pembeli datang.
"Kalau tetap bisa bertahan, ya bertahan. Orang kan ini hanya cukup buat memperkuat doang. Ini saya toko kemarin ada lima, ini sudah dikurangi jadi dua. Dikurangin semua, di sini sudah banyak toko-toko nan ditinggal," katanya tanpa bisa memberi kepastian mengenai masa depan usahanya di Pasar Cipadu.
Ade, selaku penjaga toko kain lain di Pasar Cipadu, juga mengeluhkan perihal nan sama, ialah kondisi pasar nan jauh dari kata ramai. Tak banyak visitor nan melintas, apalagi pembeli nan datang menghampiri tokonya.
"Sekarang memang sepi, jauh lebih ramai nan dulu daripada sekarang. Dulu bisa sehari 20 rol, sekarang jarang, sunyi sekarang, satu rol saja susah. Keteng lah paling tetap ada satu dua nan beli," kata Ade.
Sebagai perbandingan, saat kondisi pasar ramai sebelum COVID-19, Ade mengaku toko nan dia jaga bisa mendapatkan pemasukan hingga Rp 40 juta dalam satu hari. Namun saat ini rata-rata omzet nan didapat hanya Rp 1 jutaan per hari.
"Dulu bisa Rp 40 juta sehari, sekarang paling sejutaan sehari," jawabnya singkat.
Ia juga tidak tahu apakah toko nan dia jaga tetap bisa memperkuat alias tidak. Namun dia hanya bisa berambisi kondisi pasar bisa kembali membaik, setidaknya cukup untuk menjaga toko itu tak gulung tikar.
(fdl/fdl)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·