Dulu RI Impor Susu 'Cuma' 40%, Kini Sudah di Atas 80%

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pangan Nasional (Bapanas) mendorong penguatan ekosistem sapi perah dari hulu hingga hilir sebagai strategi mempercepat swasembada susu nasional. Langkah ini juga menjadi bagian krusial dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).


Dalam kunjungan kerja Komisi IV DPR RI ke Salatiga, Jawa Tengah, Direktur Ketersediaan Pangan Bapanas Indra Wijayanto menegaskan pentingnya pembangunan ekosistem terintegrasi untuk meningkatkan produksi sekaligus kesejahteraan peternak.


"Tentunya dari kami mendukung upaya Bapak Presiden nan menempatkan swasembada pangan sebagai salah satu program prioritas, sehingga ini kudu kita sorong bersama-sama, dan kami siap untuk membantu agar ekosistem ini terbangun dari hulu hingga hilir," kata Indra dalam keterangannya, dikutip Jumat (10/4/2026).


Menurutnya, penguatan sektor persusuan tidak bisa parsial, tetapi kudu menyeluruh mulai dari produksi hingga distribusi.


"Ini menjadi kesempatan sekaligus tantangan bagi kita. Kita sudah membuktikan bisa mencapai swasembada beras dan kita optimistis dapat meningkatkan produksi susu dalam negeri menuju swasembada susu," ujarnya.


Berdasarkan info 2025, populasi sapi perah nasional mencapai 499.360 ekor dengan produksi susu segar sebesar 820.874,82 ton. Produksi tetap terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama Jawa Timur sebagai kontributor terbesar.


Di sisi hilir, penguatan industri pengolahan dan pengedaran dinilai krusial untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus menjaga akses dan daya beli masyarakat. Sepanjang 2024, nilai susu segar naik moderat dari Rp16.389 menjadi Rp16.619 per liter.


Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Panggah Susanto menilai penguatan ekosistem ini mendesak, di tengah tingginya kebutuhan susu nasional nan belum terpenuhi dari produksi dalam negeri.


"Tema ini menjadi relevan di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi susu nasional nan belum sepenuhnya terpenuhi dari produksi dalam negeri. Oleh lantaran itu, kami mau memastikan adanya langkah-langkah strategis dan terintegrasi, tidak hanya terfokus pada peningkatan produksi di tingkat peternak, tetapi juga mencakup penguatan keseluruhan rantai pasok secara berkelanjutan," ujar Pangah.


Ia menegaskan, sektor susu mempunyai peran krusial dalam pemenuhan gizi masyarakat.


"Susu sebagai salah satu sumber protein hewani berbobot mempunyai kontribusi signifikan dalam pemenuhan gizi, khususnya bagi anak-anak, sehingga menjadi komponen krusial dalam keberhasilan program nasional seperti Makan Bergizi Gratis," katanya.


Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman dalam rapat kerja berbareng Komisi VI DPR RI menyoroti tingginya ketergantungan impor pada sejumlah komoditas pangan, termasuk susu.


"Kita perjuangkan lartas (larangan dan/atau pembatasan), lantaran ini terjadi bukan gula saja. Itu terjadi di susu, dan kemudian terjadi di kedelai juga," kata Amran dalam Raker di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026).


Menurutnya, kondisi ini tidak lepas dari kebijakan masa lampau nan berakibat pada sektor pertanian nasional.


"Susu, kami ini pandangan saja, bahwa ini adalah (karena) saran dari IMF (International Monetary Fund) kita terima mentah-mentah, ya berantakanlah ini pertanian. Akhirnya kita satu-satu kita selesaikan," ujarnya.


Amran juga mengungkapkan lonjakan ketergantungan impor susu dalam beberapa dasawarsa terakhir. "Nah ini, dulu (Indonesia) impor (susu hanya) 40% (sekarang) jadi 81%," sebut dia.


Adapun info nan dipaparkannya, menunjukkan kesenjangan besar antara produksi dan kebutuhan susu nasional. Dalam diagram produksi, impor, dan kebutuhan susu periode 1996-2023, terlihat produksi dalam negeri condong stagnan, sementara kebutuhan terus meningkat tajam. Akibatnya, porsi impor melonjak signifikan hingga mencapai sekitar 81% dalam beberapa tahun terakhir.


Kondisi ini menegaskan tantangan besar menuju swasembada susu, sekaligus memperkuat urgensi pembenahan ekosistem dari hulu hingga hilir agar ketergantungan impor bisa ditekan secara bertahap.

(hoi/hoi) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News