Di tengah upaya penduduk Kabupaten Sikka memulihkan kehidupan setelah gempa bumi mengguncang Flores, urusan manajemen kependudukan ikut menjadi bagian nan tidak bisa ditunda. Dokumen nan lenyap alias rusak akibat musibah menyangkut banyak hal, mulai dari identitas diri hingga kepastian status keluarga. Karena itu, pelayanan manajemen kependudukan tidak menunggu penduduk datang ke kantor.
Tim tanggap musibah Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri berbareng Dinas Dukcapil Kabupaten Sikka mendatangi letak pengungsian dan permukiman terdampak di Kecamatan Talibura. Selama dua hari, Rabu (26/8/2026) di Desa Nangahale, dan Kamis (27/8/2026) di Desa Kringa, sebanyak 1.634 arsip kependudukan sukses dilayani.
Pelayanan tersebut dipimpin Plh. Direktur Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil (PPPS) Ditjen Dukcapil, Ahmad Ridwan, berbareng Sekretaris Dinas Dukcapil Kabupaten Sikka, Paulus Marselo Gonsalves. “Dalam kondisi musibah seperti ini, masyarakat semestinya tinggal tahu beres. Negara kudu hadir, mendatangi mereka nan memerlukan layanan,” kata Ahmad Ridwan.
Di Kecamatan Talibura, tercatat sekitar 25.879 penduduk. Sebanyak 4.371 penduduk di antaranya berada dalam kondisi mengungsi. Dampak kerusakan juga tercatat pada sejumlah rumah warga, dengan delapan rumah rusak ringan, 13 rumah rusak sedang, dan satu rumah rusak berat.
Kondisi itu membikin pelayanan di letak menjadi penting. Bagi penduduk nan tetap memperkuat di pengungsian alias rumahnya terdampak, perjalanan ke instansi pelayanan kependudukan bukan perkara sederhana.
Pemulihan 1.634 dokumen
Di Desa Nangahale, pelayanan hingga Rabu sore WITA menghasilkan 821 dokumen. Tim merekam 75 KTP-el dan mencetak 369 KTP-el. Selain itu diterbitkan 32 KIA, 206 kartu keluarga, mengaktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD) untuk 34 pemohon, mencetak 65 akta kelahiran, 10 akta kematian, sembilan akta perkawinan, serta 21 surat keterangan pindah WNI.
Sehari kemudian, pelayanan bersambung di Desa Kringa. Sebanyak 813 arsip diterbitkan, terdiri atas 83 perekaman KTP-el, 330 pencetakan KTP-el, 21 KIA, 235 kartu keluarga, 30 pemohon aktivasi IKD, mencetak 54 akta kelahiran, 21 akta kematian, sembilan akta perkawinan, dan 30 surat keterangan pindah WNI.
Menurut Ahmad Ridwan, keberadaan arsip kependudukan setelah musibah begitu sangat berharga, lantaran arsip tersebut menjadi pintu bagi penduduk untuk kembali mengurus beragam keperluan. Seperti mendaftar ke portal perlinsos untuk mendapat support sosial, jasa kesehatan, pendidikan, hingga kebutuhan norma dan manajemen keluarga. “Yang kami pulihkan bukan hanya dokumennya, tetapi kewenangan manajemen penduduk. Mereka kudu tetap bisa mengakses pelayanan publik meskipun sedang berada dalam situasi bencana,” ujarnya.
Sekretaris Dinas Dukcapil Kabupaten Sikka, Paulus Marselo Gonsalves, mengatakan pelayanan berbareng tersebut membantu pemerintah wilayah menjangkau penduduk nan kondisinya belum memungkinkan untuk mendatangi instansi Dukcapil. “Warga tetap dalam suasana bencana. Ada nan mengungsi, ada nan rumahnya rusak. Kalau mereka kudu datang ke kantor, tentu tidak mudah dan belum tentu menjadi prioritas kebutuhan mereka. Dengan pelayanan langsung di desa, masyarakat merasa sangat terbantu,” kata Paulus.
Ia menilai sinergi antara pemerintah pusat dan wilayah juga mempercepat pemulihan arsip warga. Tim wilayah dapat memberikan info mengenai kondisi dan kebutuhan masyarakat, sementara support personel dan peralatan dari Ditjen Dukcapil memperkuat kapabilitas pelayanan di lapangan.
Tak hanya mengurus dokumen, tim tanggap musibah Ditjen Dukcapil juga membawa perhatian sederhana bagi penduduk nan terdampak. Makanan ringan dan susu dibagikan kepada anak-anak dan penduduk lanjut usia di letak pelayanan. Bagi sebagian warga, jasa tersebut mungkin tampak sederhana. Namun, di tengah situasi pascabencana, keahlian kembali memegang kartu keluarga, KTP-el, alias arsip kelahiran dapat menjadi tanda bahwa kehidupan perlahan mulai ditata kembali.
Pelayanan di Sikka belum berhenti. Setelah Nangahale dan Kringa, tim dijadwalkan melanjutkan pelayanan pada Jumat (28/8/2026) di Kelurahan Beru, Kecamatan Alok Timur. Langkah itu menjadi bagian dari prinsip pelayanan Dukcapil dalam situasi bencana: mendatangi warga, bukan menunggu penduduk datang. Sebab, ketika rumah dan kehidupan kudu dibangun kembali, identitas kependudukan menjadi salah satu perihal pertama nan perlu dipastikan tetap ada.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·