Jakarta, CNBC Indonesia - Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Abdulla Salem Al Dhaheri, blak-blakan menceritakan akibat serangan Iran ke negaranya, nan dinilai tidak hanya menyasar sasaran militer tetapi juga prasarana sipil. Serangan sebelumnya dilancarkan Iran sebagai pembalasan ke Amerika Serikat (AS) dan Israel lantaran serangan Teheran, 28 Februari.
Dalam pidatonya di Jakarta, dia menyebut sistem pertahanan UEA telah mencegat ratusan rudal dan ribuan drone sejak awal serangan. Per 7 April 2026, tercatat 520 rudal balistik, 26 rudal jelajah, dan 2.221 drone sukses dicegat. Namun, puing dari serangan tersebut tetap menimbulkan akibat di lapangan.
"Tercatat 13 penduduk sipil meninggal bumi dan 217 lainnya luka-luka, serta terjadi kerusakan pada prasarana vital seperti bandara, pelabuhan, akomodasi energi, dan area permukiman," ujar Al Dhaheri di Kediaman Dubes UEA di Jakarta Selatan, Rabu malam, dikutip Kamis (9/4/2026).
Al Dhaheri menegaskan, kebenaran ini membantah klaim Iran nan menyebut serangan hanya menargetkan akomodasi militer. Ia menilai terjadi pergeseran rawan dengan menyasar prasarana sipil untuk melemahkan stabilitas ekonomi kawasan.
Selain itu, dia mengungkap pola serangan nan dinilai tidak proporsional. Sekitar 85% rudal dan drone Iran diarahkan ke negara-negara Teluk dan Yordania, sementara hanya 15% nan menargetkan Israel.
Di tengah situasi tersebut, dia menekankan bentrok tersebut bukanlah perang agama. Ia pun menegaskan upaya membingkai bentrok ini sebagai perang kepercayaan adalah menyesatkan dan tidak mencerminkan realitas.
UEA juga mengingatkan akibat dunia dari konflik, terutama jika terjadi gangguan di Selat Hormuz. Jalur ini dilalui sekitar 20% pasokan minyak bumi dan perdagangan LNG global, nan sebagian besar menuju Asia, termasuk Indonesia.
"Gangguan di area ini bakal berakibat pada kenaikan nilai energi, biaya pengiriman, serta tekanan rantai pasok global," jelasnya. Ia menambahkan, Indonesia berpotensi terdampak melalui kenaikan nilai bahan bakar dan nilai barang.
Meski mengutuk serangan tersebut sebagai pelanggaran norma internasional, UEA tetap menegaskan komitmen pada diplomasi dan de-eskalasi. Menurutnya UEA memilih stabilitas dibandingkan eskalasi, serta kerja sama dibandingkan konflik.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·