Liputan6.com, Jakarta - Dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah memperkuat pendidikan melalui dua program. Pertama, revitalisasi satuan pendidikan. Kedua, digitalisasi pembelajaran.
Revitalisasi ditujukan untuk memperbaiki akomodasi sekolah, sementara digitalisasi mendukung proses belajar nan lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan, kedua program tersebut merupakan sarana untuk mencapai pendidikan nan bermutu.
“Revitalisasi dan digitalisasi itu bukan tujuan, tetapi sarana untuk mencapai tujuan pendidikan nan bermutu,” ujar Mu’ti, seperti dikutip Sabtu (17/10/2026).
Pada 2025, program revitalisasi menjangkau 16.167 satuan pendidikan, melampaui sasaran awal 10.440 satuan pendidikan. Program ini memberi faedah kepada lebih dari 4,2 juta peserta didik di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota.
Perbaikan sarana dan prasarana diharapkan membikin lingkungan belajar lebih kondusif dan nyaman bagi siswa maupun tenaga pendidik. Pelaksanaan program juga melibatkan pelaku upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta tenaga kerja setempat, sehingga turut membuka kesempatan ekonomi di daerah.
Revitalisasi Menjangkau Lebih Banyak Sekolah
Pada 2026, pemerintah memperluas program revitalisasi dengan sasaran 51.744 satuan pendidikan. Jumlah itu terdiri atas 11.744 satuan pendidikan dalam pagu awal dan 40 ribu satuan pendidikan tambahan nan disalurkan dalam dua tahap.
Program ini memprioritaskan sekolah nan memerlukan perbaikan, termasuk satuan pendidikan dengan kerusakan berat, sekolah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta sekolah nan terdampak bencana.
Revitalisasi tersebut diharapkan mendukung aktivitas belajar 8.453.369 siswa di 38 provinsi, 514 kabupaten/kota, dan 6.481 kecamatan. Hingga 28 September 2026, support telah disalurkan kepada 38.586 satuan pendidikan.
Digitalisasi Pembelajaran Jangkau Ratusan Ribu Sekolah
Selain memperbaiki fasilitas, pemerintah mendorong pemanfaatan teknologi di ruang kelas. Dalam laporan perkembangan program pada September 2026, Kemendikdasmen menyebut sekitar 289 ribu satuan pendidikan telah menerima perangkat digital sejak 2025. Perangkat tersebut mencakup Papan Interaktif Digital (PID), alias interactive flat panel (IFP), laptop, dan penyimpanan eksternal.
PID diharapkan membantu pembimbing menyampaikan materi secara interaktif dan mendorong siswa berperan-serta dalam pembelajaran.
“Kehadiran PID ini berfaedah untuk memudahkan semuanya dalam menimba ilmu, membikin proses belajar menjadi lebih menarik, serta kaya bakal produktivitas dengan pola interaktif,” ujar Mu’ti.
Agar perangkat tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal, sekolah juga memerlukan support listrik dan internet. Peningkatan kapabilitas pembimbing turut diperlukan agar teknologi bisa terintegrasi dengan aktivitas belajar mengajar.
Revitalisasi dan digitalisasi saling melengkapi. Perbaikan sekolah menyediakan lingkungan belajar nan lebih layak, sementara pemanfaatan teknologi memperkaya metode pembelajaran.
Pemerintah berambisi kedua program ini memperluas pemerataan jasa pendidikan, termasuk di wilayah dengan prasarana terbatas. Dampaknya tidak hanya dilihat dari jumlah sekolah nan diperbaiki alias perangkat nan disalurkan, tetapi juga dari manfaatnya bagi siswa dan pembimbing dalam aktivitas belajar sehari-hari.
Baca buletin terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·