Dua Strategi Tangani Abu Anak Krakatau

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menargetkan debu vulkanik Gunung Anak Krakatau dapat dikurangi dalam satu hingga dua hari, melalui operasi modifikasi cuaca dari sejumlah wilayah.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan operasi tersebut menggunakan dua metode nan disesuaikan dengan kondisi awan di atmosfer untuk mempercepat penurunan debu vulkanik.

“Dengan adanya dua metode ini, harapannya dalam 1-2 hari ke depan, ini soal debu vulkanik Gunung Anak Krakatau bisa kita selesaikan dengan catatan tidak ada letusan-letusan baru nan menyemprotkan,” kata Seto usai konvensi pers rapat koordinasi pemerintah dengan para pemegang Hak Guna Usaha (HGU) rimba di Jakarta. Dikutip dari Antara.

Metode pertama dilakukan ketika belum terdapat awan. Pesawat bakal menyemprotkan bahan ke atmosfer untuk membantu menurunkan partikel debu vulkanik.

“Kalau tidak ada awan, pesawat ini bakal menyemprot. Dia membikin bahan spray di atmosfer alias udara, agar debu vulkaniknya menurun,” ujar dia.

Bahan nan disemprotkan berupa air nan dicampur surfaktan. Menurut Seto, surfaktan berfaedah sebagai bahan pengikat debu sehingga partikel vulkanik dapat lebih sigap jatuh.

“Karena nan kita semprotkan ini adalah air plus surfaktan. Jadi adalah wadah tertentu nan bisa mengikat debu, sehingga dia bakal jatuh,” kata dia.

Sementara itu, andaikan awan telah tumbuh, metode modifikasi cuaca bakal menggunakan bahan semai awan untuk mengaktifkan awan dan memicu hujan.

“Nah, kelak jika sudah ada awan tumbuh, bahannya kita tukar menjadi air, tapi kita kombinasi dengan bahan semai. Dia bakal mengaktivasi awan jadi menjatuh,” ujar dia.

Operasi tersebut juga diarahkan untuk mengurangi akibat sebaran debu vulkanik terhadap wilayah nan terdampak, termasuk Jakarta.

Seto mengatakan penyelenggaraan modifikasi cuaca tidak dilakukan dari Jakarta, melainkan melalui posko di Semarang dan Kertajati dengan support pesawat nan didatangkan dari Kalimantan.

“Kita datangkan pesawat dari Kalimantan, kita datangkan pesawat ke Semarang,” kata dia

“Dari posko, Semarang, dan Kertajati,” ujar dia menambahkan.

Seto menegaskan efektivitas operasi tersebut tetap berjuntai pada kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau. Apabila terjadi letusan baru nan kembali menyemburkan material vulkanik, upaya mengurangi debu nan telah tersebar bakal menghadapi tantangan tambahan.

Selain penanganan debu vulkanik, Seto mengatakan kondisi kekeringan nan dipengaruhi El Nino tetap berada pada fase sangat kuat dan berbarengan dengan musim kemarau.

Menurut dia, kondisi tersebut diperkirakan mulai melemah pada Oktober ketika sejumlah wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan.

“Jadi paling berat memang sampai dengan akhir September. Kemudian perlahan-lahan eskalasi ini bakal melemah dimulai dengan bulan Oktober,” ujar dia.

Ia mengatakan November menjadi periode ketika musim tandus secara umum mulai berhujung sehingga persoalan kekeringan nan diperparah oleh El Nino dapat berangsur selesai.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita