BP BUMN dan Danantara mendorong PT Pertamina (Persero) untuk melakukan peningkatan produksi LNG di dalam negeri oleh Pertamina. Hal ini seiring adanya peningkatan kebutuhan ke depan.
Adapun Pertamina telah berjumpa dengan Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria untuk menyampaikan bahwa kebutuhan LNG diproyeksikan semakin dominan setelah 2025. Di samping itu, porsi LNG diperkirakan mencapai lebih dari 50 persen dari total pasokan gas pada 2029. Maka dari itu, Dony mendorong produksi LNG dalam negeri agar kebutuhan tak berjuntai dengan impor.
“Yang paling krusial ada progres. Artinya, jika kebutuhan kita 50 persen, kita sudah bisa suplai dari dalam negeri,” kata Dony dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (12/9).
Saat ini, Pertamina juga tengah mengembangkan jaringan gas (jargas) dan compressed natural gas (CNG) khususnya untuk kebutuhan rumah tangga. Skema nan tengah dikembangkan adalah skema penggunaan mother station CNG nan bisa melayani kebutuhan 12.000 rumah.
Merespons itu, Dony menilai langkah tersebut ketergantungan Indonesia terhadap LPG impor dapat ditekan. Secara keseluruhan, Dony memandang produksi LNG dalam negeri serta pengembangan jargas dan CNG sebagai langkah agar gas bumi dalam negeri bisa dioptimalkan pemanfaatannya.
“Ini bisa menurunkan ketergantungan secara signifikan. Kombinasi antara jargas dan CNG ini luar biasa. Dampaknya terhadap kita signifikan, terutama untuk mengurangi impor dan ketergantungan kita terhadap LPG,” ujar Dony.
Sebelumnya, pemerintah juga sedang mengembangkan tabung CNG 3 kilogram. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan tabung tersebut nantinya menjadi pengganti pengganti LPG.
Adapun saat ini pengembangan memasuki tahap akhir dan proses pengetesan tinggal menyisakan uji tembak sebelum tabung tersebut dapat melanjutkan ke tahapan berikutnya.
Pada Agustus lalu, Bahlil mengatakan dirinya baru menerima paparan mengenai perkembangan tabung CNG 3 kilogram beserta katup (valve)-nya. Berdasarkan laporan nan diterimanya, rangkaian pengetesan nan dilakukan oleh Lemigas nyaris selesai.
"Saya baru tiga hari lampau dipresentasikan hasil tabung 3 kilogram dan valve-nya. Sekarang Lemigas lagi uji nan terakhir. Tetapi menurut info nan saya terima dari hasil mereka tinggal uji tembak saja nan belum," kata Bahlil saat ditemui di Kementerian ESDM, Senin (3/8).
Menurut Bahlil, uji tembak dilakukan untuk memastikan ketahanan tabung dalam kondisi ekstrem, termasuk terhadap paparan panas hingga sekitar 850 derajat Celsius. Tahapan ini menjadi salah satu syarat akhir sebelum proses pengembangan dinyatakan rampung. Ia menambahkan, pengetesan tersebut dilakukan baik di Indonesia maupun di China.
"Dua-duanya dilakukan. Jadi kita juga tembak juga. Kau doakan saja, doakan nan terbaik untuk Ibu Pertiwi tercinta," ujarnya.
Pengembangan tabung CNG 3 kilogram merupakan bagian dari upaya pemerintah melakukan diversifikasi bauran daya sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap LPG 3 kilogram nan selama ini tetap disubsidi. Selama ini, penggunaan CNG dalam corak tabung baru banyak dimanfaatkan di sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka).
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·