Sebanyak 21 orang tewas setelah sebuah gedung apartemen enam lantai runtuh di area Tal al-Hawa, Gaza, Palestina, Rabu (16/9). Sebanyak 12 korban di antaranya merupakan anak-anak.
Dikutip dari AFP, gedung tersebut runtuh pada malam hari dan menimpa rumah serta tenda di sekitarnya. Bangunan itu sebelumnya telah mengalami kerusakan akibat serangan Israel.
Badan pertahanan sipil Gaza mengatakan gedung tersebut dihuni lebih dari 100 orang nan mengungsi. Tim penyelamat bekerja selama berjam-jam untuk mengevakuasi korban dari kembali reruntuhan.
"Setelah berjam-jam bekerja keras, tim penyelamat sukses menemukan jenazah 21 orang nan terjebak di bawah reruntuhan," kata badan pertahanan sipil Gaza.
Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kesehatan Gaza, nan berada di bawah otoritas Hamas, mengkonfirmasi jumlah korban tersebut. Selain 12 anak, terdapat lima wanita dalam daftar korban.
Sebanyak 45 orang nan terluka juga telah dibawa ke rumah sakit.
Di Rumah Sakit Al-Shifa, Gaza, wartawan AFP memandang sejumlah laki-laki menangis sembari membawa jenazah anak-anak nan telah dibungkus kain kafan putih. Para kerabat juga terlihat memberikan penghormatan terakhir kepada personil family mereka.
"Bangunan-bangunan ini tidak lain hanyalah peledak waktu," kata Ahmed Al-Ajla, nan kehilangan om dan personil keluarganya dalam kejadian tersebut.
Menurut ahli bicara badan pertahanan sipil Gaza, Mahmoud Bassal, gedung tersebut telah beberapa kali terkena serangan pada 2024 dan kembali terdampak pada Maret 2025. Warga sebelumnya telah diperingatkan untuk tidak kembali ke gedung itu.
Namun, banyak penduduk tetap tinggal di gedung nan rusak lantaran tidak mempunyai tempat lain untuk berlindung.
"Mereka tidak punya pilihan lain. Dengan tidak tersedianya tenda maupun rumah, mereka tinggal di gedung nan retak dan rusak meskipun ada akibat runtuh," ujar Bassal.
Rekaman AFP pada Rabu menunjukkan gedung tersebut berubah menjadi tumpukan beton nan runtuh. Alat berat dengan bendera Mesir digunakan untuk membersihkan puing-puing, sementara petugas penyelamat dan relawan mengevakuasi korban.
Mohannad al-Mashharawi mengatakan temannya dan sejumlah tetangganya tinggal di gedung tersebut.
"Teman dan tetangga saya tinggal di gedung ini. Saya datang untuk membantu kawan saya mengambil beberapa busana dan kasur. Saat ini dia tidak mempunyai tempat berlindung alias rumah," katanya kepada AFP.
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengatakan telah menyediakan sejumlah material untuk membantu proses pencarian korban atas permintaan otoritas setempat.
Badan pertahanan sipil Gaza menyebut sekitar 2.000 gedung di wilayah tersebut telah diidentifikasi berisiko runtuh.
Koordinator kemanusiaan PBB untuk wilayah Palestina nan diduduki, Ramiz Alakbarov, mengatakan tragedi tersebut menunjukkan besarnya akibat nan dihadapi penduduk nan tinggal di gedung rusak.
"Tragedi hari ini menegaskan akibat besar nan dihadapi family nan tinggal di bangunan-bangunan ini dan kebutuhan mendesak bakal pengganti tempat tinggal nan lebih aman. Tidak seorang pun semestinya mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menemukan tempat nan kondusif untuk berlindung," ujar Alakbarov.
Sebagian besar gedung di Gaza telah rusak alias hancur akibat serangan selama perang Israel-Hamas, menurut PBB. Kondisi itu membikin banyak penduduk kehilangan tempat tinggal dan terpaksa menempati gedung nan mengalami kerusakan.
Ini menambah daftar panjang korban serangan Israel ke Gaza sejak 7 Oktober 2023. Sejak saat itu, kampanye militer Israel telah menewaskan 73.700 orang di Gaza, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
51 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·