Jakarta -
Wakil Ketua Komisi I DPR Anton Sukartono menyambut positif berita soal finalisasi draf perjanjian tenteram antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Menurutnya, setiap perkembangan tersebut patut diapresiasi lantaran berpotensi membawa akibat positif keamanan dunia dan perekonomian dunia.
"Saya memandang setiap perkembangan nan mengarah pada perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran merupakan berita positif bagi stabilitas kawasan, keamanan global, serta perekonomian dunia," kata Anton kepada wartawan, Sabtu (13/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, Anton menegaskan bahwa bumi internasional tetap perlu menunggu kepastian dan penerapan nyata dari kesepakatan tersebut. Ia mengingatkan bahwa beragam rumor strategis tetap menjadi bagian dari proses negosiasi nan belum sepenuhnya tuntas.
"Indikasi bahwa kedua negara semakin dekat pada titik jumpa patut diapresiasi, tetapi pengalaman menunjukkan bahwa proses perdamaian sering kali menghadapi beragam dinamika dan tantangan," ujarnya.
Anton mengatakan perundingan perdamaian umumnya tidak selesai hanya dalam satu pertemuan. Karena itu, perkembangan nan ada saat ini belum bisa langsung dianggap sebagai akhir dari seluruh proses diplomasi nan berlangsung.
Dari perspektif pandang Indonesia, Anton menilai salah satu perihal nan perlu mendapat perhatian adalah akibat kesepakatan tersebut terhadap stabilitas ekonomi global, terutama mengenai nilai minyak mentah dan rantai pasok daya dunia.
Menurutnya, area Timur Tengah dan Selat Hormuz mempunyai posisi nan sangat strategis dalam perdagangan daya internasional. Karena itu, setiap perkembangan hubungan antara AS dan Iran bakal berpengaruh terhadap dinamika ekonomi global.
"Oleh lantaran itu, sembari berambisi tercapainya perdamaian nan berkepanjangan dan memberikan kepastian bagi bumi internasional, Indonesia kudu tetap bisa menjawab ketidakpastian nan tetap berjalan dengan memperkuat ketahanan domestik, menjaga stabilitas ekonomi nasional, memperkuat ketahanan energi, serta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap beragam akibat geopolitik global," tuturnya.
Sebagai ketua Komisi I DPR nan menjadi mitra kerja Kementerian Luar Negeri, Anton menegaskan dukungannya terhadap langkah diplomasi Indonesia nan mengedepankan perbincangan dan kerja sama internasional.
Ia mengatakan Indonesia selama ini konsisten menjunjung tinggi norma internasional dan mendukung penyelesaian bentrok melalui jalur diplomatik.
"Dalam setiap penyelesaian konflik, Indonesia bakal selalu mendukung opsi-opsi perdamaian melalui perbincangan dan diplomasi, lantaran perdamaian nan ideal adalah perdamaian nan menghormati kedaulatan para pihak, menciptakan stabilitas kawasan, dan memberikan faedah nyata bagi kesejahteraan masyarakat dunia," katanya.
Meski optimistis terhadap kesempatan perdamaian, Anton mengingatkan agar semua pihak tetap mencermati perkembangan ke depan. Ia menilai terdapat sejumlah pengalaman nan menunjukkan bahwa AS kerap mangkir atas resolusi damai.
"Sudah menjadi rahasia umum bahwa Amerika Serikat sering kali mangkir dari resolusi damai, misalnya seperti langkah Amerika nan memveto resolusi tenteram Dewan Keamanan PBB nan mengenai dengan bentrok di Palestina dan Timur Tengah," ujarnya.
Karena itu, Anton meminta Indonesia tetap bersiap menghadapi beragam kemungkinan, termasuk andaikan rencana perdamaian antara AS dan Iran pada akhirnya tidak terwujud.
"Sehingga, kita kudu tetap bersiap atas segala kemungkinan andaikan perdamaian ini batal tercapai," pungkasnya.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa usulan memorandum kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat (AS) bakal secara resmi mengakhiri bentrok di semua front, termasuk Lebanon. Iran sekaligus meletakkan dasar untuk negosiasi tentang pencabutan sanksi, program nuklir, dan pengaturan keamanan regional.
Dilansir Anadolu Agency, Sabtu (13/6/2026), berbincang dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi pemerintah IRIB, Araghchi mengatakan arsip tersebut, nan biasa disebut sebagai Memorandum Kesepahaman Islamabad, bakal menandai berakhirnya perang secara resmi.
"Berakhirnya perang bakal diumumkan di semua front, termasuk Lebanon," katanya.
Araghchi mengatakan usulan memorandum tersebut mencakup komitmen untuk tidak memulai perang, menakut-nakuti penggunaan kekerasan, alias mencampuri urusan internal masing-masing negara. Ia mengatakan perjanjian tersebut juga bakal mencakup komitmen berbareng untuk menghormati kedaulatan.
"Untuk pertama kalinya dalam 47 tahun, Amerika Serikat secara definitif menyatakan bahwa mereka menghormati kedaulatan Republik Islam Iran," kata Araghchi.
(azh/dhn)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·