DPR Minta Antisipasi Dini Kebakaran Lahan di NTT, Waspadai Dampak El Nino

Sedang Trending 1 hari yang lalu
DPR Minta Antisipasi Dini Kebakaran Lahan di NTT, Waspadai Dampak El Nino Ilustrasi(MI/Alexander P Taum)

WAKIL Ketua Komisi IV DPR RI, Ahmad Johan, meminta seluruh pemangku kepentingan di Nusa Tenggara Timur (NTT) meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah antisipasi awal terhadap kebakaran rimba dan lahan (karhutla). Kondisi wilayah nan kering, cuaca panas, serta ancaman El Nino dinilai berpotensi memperluas kebakaran andaikan tidak ditangani sejak awal.

Kepada Media Indonesia, Selasa (20/10), Ahmad Johan mengungkapkan bahwa berasas laporan nan diterimanya saat rapat kerja dengan Kementerian Kehutanan, NTT menempati posisi pertama dalam jumlah titik kebakaran lahan pada 2025. Sementara pada 2026, NTT berada di posisi ketiga.

“Kalau rimba terbakar sekarang paling rawan di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Tetapi saya merasa kita perlu melakukan pertimbangan sejak awal lantaran titik kebakaran lahan itu sangat tinggi di NTT,” ujarnya.

Sebagai langkah awal, Ahmad mengaku telah mengumpulkan sejumlah mitra kerja di bagian kehutanan, termasuk kepala balai besar, jejeran dinas kehutanan, serta beberapa kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).

Pertemuan tersebut dilakukan untuk membahas kondisi kebakaran lahan sekaligus mendorong kesiapsiagaan para pihak di daerah.

Menurutnya, salah satu perihal nan perlu menjadi perhatian adalah kebiasaan membuka lahan dengan langkah membakar. Ia mengingatkan agar praktik tersebut tidak semakin meluas lantaran berpotensi memicu kebakaran nan susah dikendalikan dan menimbulkan akibat lintas wilayah.

“Kita cemas budaya ini makin meluas dan berisiko seperti di Kalimantan, ketika asapnya sampai ke luar negeri. Korbannya luar biasa dan masyarakat mengalami ISPA nan akut,” katanya.

Asap Kebakaran Ganggu Penerbangan

Ahmad juga menyoroti akibat kebakaran rimba dan lahan terhadap aktivitas masyarakat, khususnya transportasi udara. Ia mencontohkan gangguan penerbangan nan terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan, Manokwari, dan Maluku.

Ia mengaku mengalami langsung akibat gangguan tersebut saat melakukan perjalanan udara dari Kupang menuju Alor. Menurutnya, pesawat nan ditumpanginya tidak dapat mendarat lantaran kondisi asap nan disebutnya berangkaian dengan kebakaran di wilayah Manokwari.

Selain itu, dia menyebut sejumlah penerbangan menuju Flores turut mengalami halangan akibat kebakaran di Sulawesi.

Pengalaman tersebut, lanjut Ahmad, menunjukkan bahwa akibat kebakaran tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di sekitar letak kejadian, tetapi juga dapat mengganggu konektivitas antardaerah dan aktivitas ekonomi.

Wilayah Kering Perlu Diwaspadai

Ahmad mengingatkan bahwa kondisi cuaca nan panas dan belum turunnya hujan meningkatkan akibat kebakaran.

Situasi tersebut, menurutnya, perlu mendapat perhatian serius di tengah ancaman El Nino.
“Kita cemas kebakaran di tengah suasana El Nino ini, ketika hujan belum datang dan panas luar biasa, bisa memicu kebakaran nan lebih luas,” ujarnya.

Ia secara unik meminta pemerintah daerah, jejeran kehutanan, pengelola area hutan, serta masyarakat meningkatkan kewaspadaan di wilayah-wilayah nan kondisinya mulai mengering.

Ahmad menyebut Flores, Solor, Adonara, dan Lembata sebagai sejumlah wilayah nan terlihat sangat gersang. Kondisi itu, menurutnya, perlu menjadi perhatian dalam aktivitas pembukaan lahan maupun aktivitas bertani nan berpotensi menggunakan api.

“Saya tahu kita punya semangat untuk berkebun, tetapi hati-hati. Jangan sampai kebakaran ini berakibat sangat luas dan kita tidak bisa mengantisipasinya,” tegasnya.

Ia berambisi seluruh pihak tidak menunggu hingga kebakaran meluas untuk melakukan penanganan. Upaya pencegahan, pengawasan, dan kesiapsiagaan sejak awal dinilai krusial agar kebakaran lahan di NTT tidak berkembang menjadi musibah nan lebih besar. (PT/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑