DPR AS Sahkan Resolusi Hentikan Perang Iran, Tekanan Politik bagi Donald Trump

Sedang Trending 1 jam yang lalu
DPR AS Sahkan Resolusi Hentikan Perang Iran, Tekanan Politik bagi Donald Trump Sejumlah penduduk kota membentangkan poster saat tindakan unjuk rasa menentang serangan AS-Israel terhadap Iran, di New York, Amerika Serikat, Sabtu (28/2/2026).(ANTARA FOTO/Xinhua/Zhang Fengguo)

DEWAN Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat secara resmi mengesahkan resolusi nan menyerukan penghentian keterlibatan militer Washington dalam perang melawan Iran. Langkah ini memberikan tekanan politik baru nan signifikan bagi Presiden Donald Trump di tengah kebuntuan jalur diplomasi.

Pemungutan bunyi nan berjalan pada Kamis (4/6/2026) waktu setempat tersebut berhujung dengan hasil 215 bunyi mendukung berbanding 208 menolak. Menariknya, mosi ini mendapatkan support lintas partai setelah empat personil Partai Republik memutuskan untuk berasosiasi dengan kubu Demokrat.

Meski resolusi ini berkarakter simbolis dan tidak mengikat secara hukum, serta tetap kudu menghadapi Senat dan potensi veto presiden, hasil ini mengirimkan sinyal kuat mengenai ketidakpuasan legislator terhadap kebijakan luar negeri pemerintah. "Kami menyampaikan pesan nan keras dan jelas kepada Donald Trump. Sudah saatnya mengakhiri perang pilihan nan tidak terkenal dan tidak sah terhadap Iran," tegas pernyataan resmi Partai Demokrat.

Diplomasi di Titik Nadir

Di saat tekanan domestik meningkat, upaya perdamaian antara Washington dan Teheran justru menunjukkan tanda-tanda stagnasi. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan belum ada kemajuan nyata dalam proses negosiasi meskipun saluran komunikasi tetap terbuka.

Araghchi apalagi mengeluarkan peringatan keras mengenai keterlibatan Israel. "Setiap serangan terhadap Beirut bakal membawa akibat serius dan memicu dimulainya kembali perang secara penuh. Pasukan kami siap menyerang Israel jika Beirut diserang," ujarnya.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa syarat utama perdamaian tetap pada penyerahan persediaan uranium nan diperkaya serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, Trump tetap menunjukkan optimisme publik dengan menyatakan kesepakatan mungkin terjadi dalam waktu dekat, apalagi "akhir pekan ini".

Insiden Berdarah di Kuwait
Ketegangan regional semakin memuncak setelah serangan drone menghantam terminal penumpang Bandara Internasional Kuwait pada Rabu. Otoritas setempat melaporkan satu penduduk negara India tewas dan 63 lainnya luka-luka. Militer Kuwait menuding Iran sebagai tokoh di kembali agresi tersebut, namun Garda Revolusi Iran membantah dan menyatakan ledakan dipicu oleh kegagalan sistem pertahanan rudal Patriot milik AS. (AFP/I-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia