Direktur PT Pesonna Optima Jasa (POJ) Ferry Hariawan (kanan) saat menjadi narasumber dalam sesi obrolan Aceh Growth Summit (AGS) 2026(PT Pesonna Optima Jasa)
KUALITAS sumber daya manusia (SDM) berbobot High Will (berkemauan tinggi) dinilai menjadi motor penggerak utama dalam mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Aceh menembus pasar nasional hingga ekspor.
Gagasan tersebut ditegaskan Direktur PT Pesonna Optima Jasa (Pegadaian Group), Ferry Hariawan, saat menjadi narasumber dalam gelaran Aceh Growth Summit (AGS) 2026 nan berjalan di Ballroom Hermes Palace Hotel Aceh, Banda Aceh (25–26 Juli 2026).
Kegiatan nan diikuti oleh 100 pelaku UMKM dari beragam sektor di Aceh ini mempertemukan pemerintah, bumi usaha, akademisi, pelaku usaha, serta beragam pemangku kepentingan dari tingkat lokal hingga nasional untuk memperkuat kerjasama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah nan berkekuatan saing dan berorientasi global.
Dalam forum tersebut, Ferry Hariawan tampil sebagai narasumber berbareng Fadli Nora Iranda, Business Development nan berkarier di Liverpool, Inggris. Keduanya berbagi perspektif mengenai strategi membangun konektivitas antara potensi wilayah dengan kesempatan upaya di tingkat nasional maupun internasional, sehingga UMKM tidak hanya berkembang di pasar lokal, tetapi juga bisa bersaing di pasar global.
Mengangkat tema People, Talent, National & Global Connectivity, Ferry menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan UMKM tidak hanya berjuntai pada kualitas produk, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia nan bisa membangun jejaring, beradaptasi dengan perubahan, serta mempunyai keberanian untuk memanfaatkan kesempatan pasar nan lebih luas.
Dalam paparannya, Ferry memperkenalkan konsep "Mau vs Mampu", sebuah matriks nan memetakan kesiapan talenta berasas dua dimensi utama, ialah kemauan (will) dan keahlian (skill).
Menurutnya, keahlian teknis dapat ditingkatkan melalui pelatihan, sertifikasi, pendidikan, dan pengalaman. Namun, kemauan untuk terus belajar, berkembang, serta keluar dari area nyaman merupakan fondasi utama dalam membentuk talenta nan bisa membawa perubahan.
"Kemampuan dapat dipelajari melalui proses upskilling nan berkelanjutan. Namun kemauan untuk tumbuh, belajar, dan mengambil kesempatan berasal dari dalam diri setiap individu. Ketika seseorang mempunyai kemauan nan tinggi, proses peningkatan kompetensi bakal melangkah lebih sigap dan menghasilkan akibat nan lebih besar," ujar Ferry.
Ferry kemudian menyoroti Kuadran II (High Will, Low Skill) sebagai golongan nan mempunyai potensi terbesar untuk dikembangkan. Menurutnya, banyak talenta daerah, termasuk pelaku UMKM dan generasi muda di Aceh, berada pada posisi ini. Mereka mempunyai motivasi nan tinggi untuk maju, namun tetap memerlukan penguatan kompetensi, pendampingan, serta akses terhadap jejaring bisnis.
Ia menilai pemerintah, bumi pendidikan, industri, dan sektor swasta perlu bekerja-sama menghadirkan program nan bisa mempercepat transformasi golongan tersebut menuju Kuadran I (High Will, High Skill), ialah talenta dunia nan siap memimpin inovasi, mengembangkan usaha, serta membawa produk Indonesia ke pasar internasional.
"Daerah tidak kekurangan talenta. nan sering kali belum tersedia adalah jembatan nan menghubungkan potensi tersebut dengan kesempatan. Ketika talenta nan mempunyai kemauan tinggi diberikan akses terhadap pelatihan, mentoring, sertifikasi, hingga hubungan bisnis, mereka bakal bisa menciptakan nilai tambah bagi wilayah apalagi bersaing di tingkat global," katanya.
Lebih jauh, Ferry menekankan bahwa pengembangan UMKM tidak boleh berakhir pada peningkatan kapabilitas produksi maupun digitalisasi. Menurutnya, tantangan berikutnya adalah gimana membuka akses pasar nan lebih luas melalui kerjasama dengan pemerintah, BUMN, sektor swasta, hingga jaringan internasional.
"UMKM Indonesia mempunyai produk nan sangat kompetitif. nan dibutuhkan bukan hanya peningkatan kualitas produk, tetapi juga akses terhadap pasar. Kita kudu menjadi penghubung nan mempertemukan UMKM dengan buyer, investor, distributor, maupun mitra strategis sehingga produk lokal dapat naik kelas dan bisa menembus pasar ekspor," jelas Ferry.
Menurutnya, membangun konektivitas nasional dan dunia merupakan langkah strategis agar UMKM tidak melangkah sendiri. Sinergi antara pemerintah, bumi usaha, akademisi, lembaga keuangan, dan organisasi upaya diyakini bisa menciptakan ekosistem nan mempercepat lahirnya UMKM berorientasi ekspor sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi daerah.
Aceh Growth Summit 2026 sendiri menghadirkan beragam keynote speaker serta narasumber nasional dan wilayah nan membahas tiga pilar utama, ialah Future Industries, Digital & Innovation Economy, serta People, Talent, National & Global Connectivity.
Ketiga tema tersebut diharapkan menghasilkan beragam rekomendasi strategis untuk memperkuat investasi, hilirisasi industri, transformasi digital, pengembangan UMKM, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi Aceh nan berkelanjutan.
(RO/P-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·