Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit milik GSIP-AMR nan telah dipanen, lampau dikumpulkan di atas jaring sebelum diangkut ke pabrik, Kamis (30/7/2026).(MI/Insi Nantika Jelita)
BADAN Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kementerian Keuangan menilai sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk menangkal kampanye negatif terhadap industri kelapa sawit Indonesia di pasar global. Langkah tersebut dinilai krusial di tengah tetap munculnya beragam rumor nan menyerang gambaran sawit Indonesia, mulai dari persoalan legalitas lahan hingga tudingan deforestasi nan dinilai tidak mencerminkan kondisi di lapangan secara utuh. Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP, Zaid Burhan Ibrahim, mengatakan kampanye negatif terhadap sawit Indonesia tidak terlepas dari persaingan dengan komoditas minyak nabati lainnya.
Menurutnya, besarnya kontribusi sawit terhadap perekonomian nasional membikin komoditas ini dipandang sebagai pesaing nan kuat sehingga kerap menjadi sasaran beragam narasi negatif.
"Masih terdapat kampanye negatif mengenai sawit Indonesia. Ini merupakan tantangan kita," kata Zaid dalam Kunjungan Kerja Pers BPDP 2026 bertema Industri Sawit nan Berkelanjutan di Kalimantan Tengah, Rabu (29/7).
Di sisi lain, tuntutan terhadap daya bersih dan praktik perkebunan berkepanjangan terus meningkat. Karena itu, menurut Zaid, tantangan tersebut tidak dapat dihadapi oleh satu pihak saja.
"Untuk itu diperlukan kerjasama antara pemerintah, pelaku usaha, asosiasi, akademisi, lembaga riset, dan para pekebun nan memang perlu kita perhatikan secara terus-menerus," tegasnya.
Zaid mengatakan salah satu rumor nan kerap berkembang di media sosial adalah dugaan bahwa industri sawit menjadi penyebab utama deforestasi.
Padahal, pelaku industri telah menerapkan beragam praktik keberlanjutan, termasuk menjaga area konservasi dan keanekaragaman hayati di sekitar areal perkebunan. Menurutnya, beragam info tersebut kerap dibesar-besarkan sehingga membentuk persepsi negatif terhadap sawit Indonesia.
"Informasi-informasi nan ini di dalam negeri dikembang-kembangkan seolah-olah menjadi info negatif," ujarnya.
Untuk itu, BPDP terus memperkuat kerja sama dengan beragam pihak, termasuk Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) serta mitra di luar negeri, guna meluruskan info nan dinilai tidak sesuai fakta. Peran media juga dinilai krusial dalam menyampaikan info nan jeli mengenai industri sawit.
"Jadi, bukan kita mengada-adakan bahwa sawit itu baik, tapi kita berikan info nan tepat dan benar," tegas Zaid.
Selain edukasi, BPDP juga mendukung penguatan hilirisasi melalui pembinaan upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Saat ini BPDP telah mempunyai katalog sekitar 100 UMKM bimbingan nan bakal terus diperluas sebagai bagian dari pengembangan industri sawit berbobot tambah.
"BPDP sudah kerja sama, sudah ada katalog 100 UMKM nan menjadi binaannya BPDP dan bakal lebih banyak lagi," katanya.
Di sektor hulu, BPDP juga menyalurkan beragam program peningkatan produktivitas perkebunan rakyat melalui penyediaan bibit unggul, pupuk, hingga perangkat dan mesin pertanian. Dana nan dihimpun dari Pungutan Ekspor (PE) sawit dikembalikan kepada sektor perkebunan melalui beragam program strategis, salah satunya hibah Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Dalam program tersebut, pekebun dapat memperoleh hibah sebesar Rp60 juta per hektare dengan luas maksimal empat hektare.
"Ini bukan pinjaman, jadi pekebun-pekebun sawit rakyat tidak perlu mengembalikan lagi," ujar Zaid.
Sementara itu, Pengurus Bidang Media Relations Gapki, Mochamad Husni, mengatakan pihaknya berbareng BPDP terus menjalankan kampanye positif untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai industri sawit, termasuk melalui beragam aktivitas edukasi di perguruan tinggi.
"Jadi, ada kampanye positif nan terus kami perjuangkan bekerja sama dengan BPDP," kata Husni.
Menurutnya, Gapki berbareng pemerintah juga aktif merespons kampanye negatif di beragam forum internasional, termasuk pelabelan produk dengan klaim palm oil free nan dinilai membentuk persepsi negatif terhadap minyak sawit.
"Kampanye-kampanye nan dilakukan baik dari pemerintah maupun dari asosiasi sangat gencar dilakukan," jelasnya.
Praktik Sawit Berkelanjutan
Media Indonesia berkesempatan mengunjungi perkebunan kelapa sawit milik PT Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi (GSIP) dan PT Agro Menara Rachmat (AMR), anak upaya PT Astra Agro Lestari Tbk di Kalimantan Tengah.
Perwakilan Manajemen PT GSIP-AMR, Denis Setyawan, mengatakan beragam upaya praktik perkebunan berkepanjangan diterapkan sebagai bagian dari komitmen terhadap aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), sekaligus untuk menangkal stigma negatif terhadap industri sawit Indonesia. Salah satu upayanya dengan setiap unit upaya mempunyai area konservasi nan berfaedah menjaga kediaman satwa liar dan keanekaragaman hayati.
"Memang setiap perusahaan ada area konservasinya," kata Denis.
Astra Agro mencatat area konservasi AMR seluas sekitar 537 hektare telah teridentifikasi mempunyai 365 spesies, nan terdiri atas 136 jenis tanaman dan 229 jenis fauna. Pendataan dilakukan melalui survei lapangan serta pemasangan camera trap untuk memantau aktivitas satwa liar. Selain konservasi, perusahaan juga mengembangkan teknologi methane capture untuk menangkap gas metana nan dihasilkan dari limbah cair kelapa sawit. Gas tersebut dimanfaatkan agar tidak terlepas ke atmosfer dan meningkatkan emisi gas rumah kaca.
"Nah, gas metana inilah nan kita capture, alias ditangkap," ujarnya.
Menurut Denis, teknologi tersebut telah diterapkan di sejumlah unit upaya Astra Agro di Sumatra dan secara berjenjang bakal diperluas ke Kalimantan maupun Sulawesi sebagai bagian dari upaya menekan emisi sekaligus memperkuat praktik perkebunan berkelanjutan.
Astra Agro menekankan proses produksi kelapa sawit dimulai sejak tahap pembibitan dengan menggunakan bibit unggul nan dikembangkan melalui riset dan pengembangan (research and development/R&D). Untuk menghasilkan varietas nan lebih produktif dan berkualitas, perusahaan bekerja sama dengan sejumlah lembaga penelitian, seperti dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Kolaborasi tersebut bermaksud mengembangkan bibit unggul nan bisa meningkatkan produktivitas tanaman sekaligus mendukung praktik perkebunan nan berkelanjutan. Setelah ditanam, kelapa sawit dirawat melalui pemupukan, pengendalian gulma, pengendalian (benih)penyakit dan penyakit, serta pengelolaan tata air hingga memasuki masa panen. Tandan Buah Segar (TBS) dipanen pada tingkat kematangan optimal, kemudian segera diangkut ke pabrik agar kualitas buah tetap terjaga.
Di sisi operasional, Denis menjelaskan produktivitas pemanen disesuaikan dengan Angka Kerapatan Panen (AKP). Pada kondisi normal, satu orang pemanen menangani areal sekitar 4 hingga 5 hektare. Ketika AKP rendah sehingga jumlah buah lebih sedikit, cakupan kerja seorang pemanen dapat meningkat menjadi sekitar 6 hingga 7 hektare. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·