Ilustrasi(Dok spesial )
PROGRAM Desa Emas (Desa Ekonomi Maju dan Sejahtera) mendorong pengembangan produk unggulan desa di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, melalui konsep One Village One Product (OVOP). Program nan digagas Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (Inotek) berbareng Yayasan Indonesia Setara (YIS) dengan support pemerintah wilayah tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperluas pasar produk lokal dan pembuatan lapangan kerja.
Founder YIS, Sandiaga Salahuddin Uno menyampaikan, Kabupaten Kuningan mempunyai potensi sumber daya alam nan cukup beragam, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan hingga kehutanan. Ketersediaan bahan baku tersebut menjadi modal bagi pelaku upaya untuk mengembangkan beragam produk olahan. Namun, sebagian komoditas lokal tetap dipasarkan dalam corak bahan mentah alias olahan sederhana sehingga nilai tambah nan diperoleh pelaku upaya belum maksimal.
Pelaku upaya juga menghadapi sejumlah kendala, antara lain keterbatasan ragam produk turunan, pemanfaatan hasil sampingan alias limbah, serta metode pengawetan dan perpanjangan masa simpan produk. Untuk menjawab tantangan tersebut, Program Desa Emas menggelar training hilirisasi jenis produk di UPTD PLUT KUMKM Kuningan pada 10-11 September 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Direktorat Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Kementerian/Lembaga, Masyarakat dan UMKM.
Pelatihan diarahkan untuk memperkuat keahlian pelaku upaya dalam mengolah bahan baku lokal menjadi produk dengan nilai tambah dan daya saing nan lebih tinggi. Sandiaga mengatakan teknologi hilirisasi nan didukung riset kudu dapat memberikan solusi praktis sehingga hasil penelitian dapat diterapkan langsung oleh golongan usaha.
"Teknologi hilirisasi nan didampingi riset kudu memberikan solusi praktis dan terintegrasi sehingga hasil riset dapat diimplementasikan langsung oleh golongan usaha," ujar Sandiaga Uno dalam siaran tertulis pada Selasa (15/9).
Menurutnya, penerapan teknologi dan penemuan dapat membantu golongan upaya menjadi lebih berdikari dan berkekuatan saing sekaligus membuka kesempatan pembuatan lapangan kerja baru.
Terpisah, General Manager Yayasan Inotek Dewi Suryani menyampaikan, workshop nan digelar selama dua hari tersebut diikuti 52 peserta dari delapan golongan usaha. Pengetahuan nan diperoleh peserta diharapkan dapat diteruskan kepada ratusan personil nan tergabung dalam golongan upaya masing-masing.
Dalam aktivitas tersebut, peserta mempelajari beragam penemuan pengolahan bahan pangan lokal. Beberapa di antaranya pemanfaatan limbah biji durian menjadi tepung durian, pembuatan mi menggunakan tepung singkong dan bayam, serta pembuatan food bar Banana with Grains.
Peserta juga mendapatkan praktik pembuatan permen jahe dan pengolahan ubi ungu menjadi sejumlah produk, seperti Taro Brulee, Taro Cookies, dan Taro Milk. Selain itu, peserta mempelajari pembuatan gula cair berbahan singkong serta pengemasan tutut menggunakan teknologi retort untuk memperpanjang masa simpan produk. Dirinya berambisi training tersebut dapat melahirkan produk unggulan Kuningan nan bisa menembus pasar di luar daerah.
"Kami berambisi setelah aktivitas ini berhujung bakal ada produk nan kemudian diuji, diperbaiki, dihitung kepantasan bisnisnya, dikembangkan kemasannya, diuji pasarnya dan kemudian betul-betul diproduksi serta dipasarkan," ujar Dewi.
Kasubid Sosial Budaya dan Pemerintahan Bappeda Kabupaten Kuningan, Jajang Setiadi mengatakan, konsep OVOP mempunyai sejumlah karakter nan perlu diperkuat di tingkat masyarakat. Menurut dia, produk lokal nan dikembangkan kudu mempunyai potensi untuk menembus pasar nan lebih luas.
"Setidaknya OVOP mempunyai tiga karakteristik, ialah adanya produk lokal nan berpotensi bisa go global, adanya produktivitas masyarakat dalam pengolahan produk secara mandiri, dan terjadinya peningkatan kapabilitas sumber daya manusia," kata Jajang.
Ia berambisi Program Desa Emas dapat memperluas pendampingan terhadap golongan upaya di Kabupaten Kuningan. Sementara itu, periset BRIN Dr. Hari Hariadi menilai pelaku upaya perlu mengembangkan teknologi pengolahan dan pengawetan agar produk tidak selalu dijual dalam kondisi segar.
Menurutnya, penjualan bahan baku segar membikin pelaku upaya lebih rentan terhadap perubahan nilai di pasar. BRIN, kata Hari, juga membuka jasa bagi masyarakat nan memerlukan pengetesan produk, pengembangan perangkat teknologi tepat guna, maupun kebutuhan lain nan berangkaian dengan riset.
"Kami sangat senang melakukan riset dari bahan-bahan lokal nan ada di Indonesia. Jadi, kita tidak perlu bersaing dengan negara luar dalam perihal peralatan, tetapi kita punya novelty dari bahan baku lokal nan belum tentu mereka miliki namun dapat kita jual," tandasnya. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·