Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat.(MI)
PEMANFAATAN arsip nasional sebagai bahan pembelajaran sejarah nan hidup dan kontekstual sebagai bagian upaya menjawab tantangan di masa depan.
"Arsip mempunyai peran nan luar biasa untuk mengungkap beragam kebenaran di masa lalu. Kekayaan arsip nasional tidak boleh hanya dipandang sebagai arsip nan tersimpan di rak, melainkan kudu menjadi pengetahuan nan dapat diakses luas oleh masyarakat, terutama sebagai sumber pembelajaran nan otentik," kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Jumat (28/8).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, Kamis (27/8), menandatangani Nota Kesepahaman antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dengan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Langkah ini dibarengi dengan penyerahan arsip tetap Kemendikdasmen, termasuk naskah national statement Mendikdasmen dalam Sidang Umum UNESCO ke-43. Menurut Lestari, kerja sama tersebut merupakan momentum strategis untuk mendorong peningkatan pemanfaatan arsip nasional sebagai bahan pembelajaran sejarah nan hidup dan kontekstual.
Rerie, sapaan berkawan Lestari, beranggapan bahwa penguatan memori kolektif bangsa melalui arsip adalah kunci untuk menjawab tantangan masa depan. Apalagi, tambah Rerie, berasas catatan ANRI pada 2025, nilai pengelolaan arsip Kemendikdasmen mencapai 98,14 dengan tingkat digitalisasi arsip mencapai 98,09.
Capaian tersebut, jelas Rerie nan juga Anggota Komisi X DPR RI itu, merupakan modal strategis untuk mengintegrasikan arsip ke dalam kurikulum. Rerie mendorong agar kerjasama serupa dapat terus diperluas dan diikuti oleh kementerian dan lembaga lainnya.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu optimistis, dengan pengelolaan nan baik dan bungkusan nan kreatif, arsip nasional bakal menjadi "dokumen hidup" nan tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi dan pembangun karakter generasi penerus bangsa.
"Penggunaan sumber sejarah nan kuat, diperlukan agar masyarakat tidak terus-menerus berdebat mengenai sejarah bangsa sendiri tanpa dasar pengarsipan nan memadai. Dengan arsip, kita membangun peradaban," pungkas Rerie. (Cah/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·