Doomscrolling Membuat Kita Sakit dan Kita Tetap Melakukannya

Sedang Trending 54 menit yang lalu

Ada sebuah kebiasaan nan diam-diam telah menjadi bagian dari rutinitas jutaan orang, dan nyaris tidak pernah kita bicarakan dengan jujur: doomscrolling. Ini adalah perilaku di mana seseorang terus-menerus menggulir layar untuk mengonsumsi buletin alias konten negatif bencana, konflik, krisis, kematian apalagi ketika mereka tahu bahwa itu membikin mereka merasa lebih buruk. Semakin banyak dibaca, semakin suram rasanya. Namun jari tetap bergerak ke bawah.

Ilustrasi seseorang nan terpaku menatap layar ponsel dengan lesu — menggambarkan kebiasaan doomscrolling nan susah dihentikan. (Sumber : Pinterest @agilwasys)

Saya pertama kali betul-betul menyadari kecenderungan ini pada diri sendiri di suatu malam, ketika mendapati diri saya telah menghabiskan nyaris dua jam membaca buletin tentang konflik, perubahan iklim, dan krisis ekonomi berturut-turut, tanpa jeda, tanpa tujuan nan jelas. Bukan lantaran saya wartawan nan sedang riset. Bukan lantaran ada urgensi tertentu. Hanya lantaran saya tidak bisa berhenti.

Mengapa Doomscrolling Terasa Sulit Dihentikan?

Secara psikologis, doomscrolling berakar pada sistem nan jauh lebih tua dari internet: kewaspadaan terhadap ancaman. Otak manusia secara evolusioner dirancang untuk lebih waspada terhadap info negatif dibanding nan positif sebuah sistem nan dulu berfaedah untuk kelangsungan hidup. Di era digital, sistem purba ini berjumpa dengan prasarana nan sangat modern: feed buletin nan tak berujung, notifikasi nan berdebar setiap menit, dan algoritma nan telah belajar bahwa konten nan membangkitkan rasa takut dan marah menghasilkan keterlibatan paling tinggi.

Hasilnya adalah lingkaran nan nyaris tidak mungkin diputus dari dalam. Semakin kita merasa cemas, semakin kita mencari info untuk "memahami situasi." Semakin banyak info jelek nan kita temukan, semakin besar kekhawatiran itu. Dan platform, nan tidak peduli apakah Anda baik-baik saja selama Anda tetap online, dengan senang hati menyuapi lingkaran itu tanpa batas.

Doomscrolling dan Harga nan Dibayar Diam-Diam

Yang membikin doomscrolling rawan bukan hanya konten nan dikonsumsinya, melainkan apa nan ditinggalkannya. Setiap sesi panjang menggulir buletin suram meninggalkan jejak: tidur nan lebih buruk, suasana hati nan lebih mudah anjlok, dan nan lebih lembut erosi perlahan terhadap kepercayaan bahwa bumi tetap punya hal-hal nan baik di dalamnya.

Para peneliti menyebut ini sebagai pengaruh "mean world syndrome" ketika paparan terus-menerus terhadap konten negatif membikin seseorang secara berjenjang memandang bumi sebagai tempat nan jauh lebih rawan dari kenyataannya. Ini bukan sekadar emosi sesaat setelah membaca berita. Ini adalah pergeseran persepsi jangka panjang nan mengubah langkah kita berinteraksi dengan orang lain, langkah kita mengambil keputusan, dan langkah kita membayangkan masa depan.

Solusi untuk doomscrolling bukan penyangkalan. Bukan dengan menutup mata dari realita alias berpura-pura bumi baik-baik saja. Kepedulian terhadap isu-isu besar perubahan iklim, keadilan sosial, politik adalah sesuatu nan sehat dan perlu. nan perlu dipertanyakan bukan apakah kita peduli, tapi gimana langkah kita peduli.

Ada perbedaan mendasar antara membaca buletin secara teragendakan dan sadar, dengan menggulir tanpa henti dalam kondisi separuh terjaga di tengah malam. nan pertama adalah partisipasi penduduk nan terinformasi. nan kedua adalah kecanduan kekhawatiran nan menyamar sebagai kepedulian.

Langkah keluar tidak kudu dramatis. Kadang cukup dengan satu pertanyaan sederhana nan diajukan kepada diri sendiri sebelum membuka aplikasi berita: Apakah saya membuka ini untuk memahami, alias lantaran saya tidak tahu kudu melakukan apa lagi? Jawaban nan jujur terhadap pertanyaan itu sudah merupakan separuh dari perlawanan.

Kita hidup di era di mana bumi betul-betul sedang menghadapi banyak krisis secara bersamaan. Mengabaikan semua itu adalah kemewahan nan tidak semua orang bisa alias mau lakukan. Tapi ada langkah untuk tetap datang dan peduli tanpa membiarkan diri kita tenggelam.

Mungkin nan perlu kita latih bukan ketidakpedulian melainkan keahlian untuk datang secara penuh dalam satu informasi, mencernanya, lampau memilih dengan sadar apakah kita bakal terus alias berhenti. Bukan lantaran bumi tidak cukup krusial untuk diperhatikan. Justru sebaliknya: lantaran kita mau tetap punya daya untuk melakukan sesuatu tentangnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan