Doom Spending: Mengapa Kita Menghabiskan Uang untuk Kesenangan Sesaat?

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi Perempuan Belanja. Foto: Mallika Home Studio/Shutterstock

Pernahkah kita membeli sesuatu nan sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, hanya lantaran merasa lelah, cemas, alias mau “menghadiahi diri sendiri” setelah hari nan berat? Mungkin secangkir kopi mahal, busana nan sedang diskon, gadget baru, alias sekadar makanan favorit nan dibeli melalui aplikasi. Setelah membeli, ada rasa senang sesaat.

Fenomena ini sekarang semakin sering disebut sebagai Doom Spending, ialah kecenderungan menghabiskan duit untuk kesenangan jangka pendek sebagai respons terhadap kecemasan, tekanan hidup, alias ketidakpastian masa depan. Berbeda dengan perilaku konsumtif biasa, doom spending tidak selalu lahir dari kemauan untuk pamer alias mengikuti tren. Dalam banyak kasus, dia muncul sebagai corak pelarian emosional.

Di tengah nilai kebutuhan nan meningkat, ketidakpastian ekonomi, ancaman kehilangan pekerjaan, tekanan sasaran hidup, hingga derasnya info negatif di media sosial, banyak orang diam-diam hidup dalam kekhawatiran nan susah dijelaskan. Masa depan terasa semakin mahal, rumah terasa semakin jauh dijangkau, tabungan terasa tidak pernah cukup, sementara ekspektasi hidup terus meningkat. Dalam situasi seperti ini, sebagian orang mulai berpikir secara tidak sadar: “Kalau masa depan tetap sulit, mungkin setidaknya saya bisa menikmati hari ini.”

Inilah titik menarik dari doom spending. Banyak orang sebenarnya sadar bahwa pengeluaran tersebut tidak terlalu penting. Mereka mengerti bahwa duit semestinya ditabung alias diinvestasikan. Namun logika sering kali kalah oleh kebutuhan emosional. Membeli sesuatu menjadi langkah tercepat untuk menciptakan rasa lega, meskipun hanya sementara.

Di era digital, perilaku ini justru semakin mudah terjadi. Aplikasi shopping datang hanya sejauh satu sentuhan jari. Diskon selalu muncul pada waktu nan tepat. Fitur pay later membikin pemisah antara “mampu membeli” dan “ingin membeli” menjadi kabur. Belum lagi media sosial nan tanpa sadar membentuk tekanan psikologis baru: memandang orang lain liburan, membeli peralatan baru, makan di tempat mahal, alias terlihat “hidupnya baik-baik saja”. Pada akhirnya, kita bukan hanya membeli barang, tetapi membeli rasa bahwa kita tidak tertinggal.

Namun, memandang doom spending hanya sebagai masalah disiplin finansial adalah langkah pandang nan terlalu sederhana. Tidak semua orang nan mengalami doom spending adalah orang nan tidak bijak mengatur uang. Kadang, ini adalah refleksi dari kelelahan sosial nan lebih besar. Ketika hidup terasa penuh tekanan dan masa depan tampak tidak pasti, kesenangan mini menjadi sesuatu nan terasa layak dipertahankan.

Seorang pekerja mungkin membeli kopi mahal setiap pagi bukan lantaran mau terlihat mewah, tetapi lantaran itu menjadi satu-satunya momen nan membikin harinya terasa lebih ringan. Seorang mahasiswa membeli peralatan impulsif bukan lantaran tidak peduli pada keuangan, tetapi lantaran stres akademik dan tekanan sosial terasa terlalu berat. Bahkan banyak family tetap berupaya liburan sederhana, bukan lantaran berlebihan, tetapi lantaran mereka memerlukan ruang bernapas di tengah rutinitas nan melelahkan.

Di sinilah kita perlu memandang doom spending dengan lebih manusiawi. Bukan untuk membenarkan perilaku boros, tetapi untuk memahami akar masalahnya. Sebab jika hanya menyalahkan individu, kita bakal kehilangan gambaran nan lebih besar: bahwa banyak orang sedang hidup dalam tekanan nan tidak selalu terlihat.

Tentu, bukan berfaedah doom spending boleh dibiarkan tanpa kendali. Pengeluaran nan terus dilakukan demi pelarian emosional pada akhirnya dapat menjadi jebakan baru. Utang meningkat, tabungan berkurang, dan kekhawatiran finansial justru bertambah. nan diperlukan bukan sekadar larangan untuk belanja, melainkan kesadaran: apakah kita membeli lantaran membutuhkan, alias lantaran sedang mencoba mengobati rasa cemas?

Mungkin pertanyaan terpentingnya bukan lagi “Mengapa orang sekarang semakin boros?” tetapi “Mengapa semakin banyak orang merasa perlu membeli kebahagiaan sesaat?”

Karena bisa jadi, di kembali keranjang shopping digital nan penuh, ada rasa takut tentang masa depan nan tidak pernah betul-betul dibicarakan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan