Dolar Balik ke Rp17.500, BI Pastikan Ini Efek Global!

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) buka bunyi perihal nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Rabu (13/5/2026), menjelang libur panjang.

Merujuk info Refinitiv, mata duit Garuda mengawali perdagangan dengan depresiasi 0,06% ke posisi Rp17.500/US$ pada pagi ini. Pelemahan ini terjadi setelah pada penutupan perdagangan kemarin, rupiah juga terkoreksi tajam 0,49% ke level Rp17.490/US$. Posisi tersebut sekaligus menjadi level penutupan terlemah rupiah sepanjang masa.

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan pelemahan terhadap nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh aspek dinamika global, terutama bentrok di Timur Tengah nan mengakibatkan naiknya nilai minyak. Kondisi ini tidak hanya menekan rupiah, tetapi juga banyak mata nan negara lain, termasuk won, baht, rupee dan peso.

"Nah aspek global, dinamika dunia ini nan membikin kebanyakan mata duit di bumi itu juga melemah, tidak hanya rupiah. Ada Filipina peso, ada Thailand baht, ada India rupee, ada mata duit Afrika Selatan, Chile, Korea won, kira-kira seperti itu ya," katanya.

Selain itu, seperti disampaikan sebelumnya oleh Gubernur BI, permintaan dolar AS di dalam negeri juga meningkat lantaran sedang musim repatriasi dividen, kemudian juga pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan ibadah haji.

BI sudah merespons dengan terus memperkuat ketahanan rupiah melalui tujuh langkah strategis nan telah diumumkan sebelumnya.

"Kami tetap meyakini dengan langkah-langkah nan dilakukan itu rupiah bakal stabil dan condong menguat. Karena kita meyakini esensial ekonomi Indonesia itu sangat baik dibandingkan dengan negara-negara nan lain gitu," kata Denny.

Terbukti, Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 sangat baik di level 5,61% dan pengelolaan utang luar negeri sangat prudent. Dengan demikian, BI meyakini rupiah bakal kembali menguat.

Saat ini, BI tetap siap siaga di pasar, termasuk pasar NDF di Amerika Serikat (AS). Hal ini guna menjaga pergerakan nilai tukar rupiah.

"Oleh karena itu memang dengan Bank Indonesia terus berada di pasar dengan tadi ya tujuh langkah strategis Bank Indonesia dalam rangka untuk membikin rupiah itu stabil, kemudian juga kondisi esensial ekonomi kita juga baik," paparnya.

"Tentunya kami meyakini bahwa dengan sinergi berbareng BI, Kementerian, dan Lembaga itu bisa kelak membikin rupiah bakal stabil dan juga sendiri menguat," tegas Denny.

Minggu lalu, Gubernur BI Perry Warjiyo telah melaporkan kepada Presiden Prabowo mengenai tujuh langkah strategis untuk penguatan rupiah ke depan. Langkah pertama adalah memperkuat intervensi di pasar kurs asing, baik di dalam negeri maupun luar negeri untuk menstabilkan rupiah.

"Cadangan devisa kami lebih, jadi cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah itu," jelasnya.

Langkah kedua dan ketiga difokuskan pada penguatan arus modal dan koordinasi fiskal-moneter. Bank Indonesia, menurut Perry, mendorong peningkatan inflow melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menutup outflow dari Surat Berharga Negara (SBN) dan saham, serta terus melakukan pembelian SBN di pasar sekunder.

"Kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder year to date adalah Rp123,1 triliun. Kami bakal melakukan koordinasi termasuk kelak Pak Menteri Keuangan bisa melakukan masalah buyback dan segala macam. Koordinasi sangat erat antara fiskal dan moneter," kata Gubernur BI.

Selanjutnya, langkah keempat dan kelima mencakup penjagaan likuiditas perbankan nan tetap longgar, serta pembatasan pembelian dolar di pasar domestik.

"Yang dulunya 100 ribu dolar per orang per bulan, kita turunkan 50 ribu dolar per orang per bulan. Itu nan kami langsung koordinasi dengan KSSK untuk penguatan," lanjutnya.

Adapun langkah keenam dan ketujuh adalah penguatan intervensi di pasar offshore serta peningkatan pengawasan terhadap aktivitas perbankan dan korporasi. Selain itu, pengawasan diperketat melalui koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna memastikan stabilitas sistem finansial tetap terjaga.

"Yang terutama kami lihat bank-bank korporasi nan aktivitas pembelian dolarnya tinggi, kami kirim pengawas ke sana koordinasi dengan Bu Frederika Widyasari Ketua OJK untuk memastikan gimana stabilitas sistem finansial terjaga," ujar Gubernur BI.

(haa/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News