Dolar AS Terus Menguat-Orang RI Tetap Pilih Buah Impor, Ini Alasannya

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pedagang buah-buahan di Pasar Senen, Jakarta Pusat mengungkapkan fans buah impor tetap cukup tinggi, meski jumlah pembeliannya condong berkurang lantaran nilai nan mengalami kenaikan pengaruh dari pelemahan rupiah.

Beberapa pedagang mengatakan penyebab buah impor tetap diminati dibandingkan dengan buah lokal lantaran kualitasnya nan lebih baik, sehingga pembeli tak terlalu cemas soal rasa dan teksturnya.

Di sisi lain, membeli buah impor berfaedah kudu siap dengan pengaruh perubahan kurs alias nilai tukar uang. Terutama seperti saat ini, rupiah semakin tertekan di hadapan dolar AS. 
Bahkan, sekarang sudah menembus level psikologis Rp18.000/US$ pada perdagangan hari ini, Kamis (4/6/2026). Mengutip Refinitiv, per pukul 09.11 WIB, rupiah melemah ke level Rp18.015/US$ alias terdepresiasi 0,42%. Adapun, posisi ini sekaligus menjadi level terlemah sepanjang masa terbaru rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Meski begitu, menurut pedagang buah, minat terhadap buah impor tetap tinggi, meski pembeliannya mulai terpengaruh. Konsumen mulai memangkas volume nan dibeli, jadi lebih sedikit dari jumlah nan biasa dibeli. 

Hal itu disampaikan Kurnia, pedagang buah nan ditemui CNBC Indonesia saat berdagang di kiosnya berlokasi di Pasar Senen, Rabu (3/6/2026). 

"Kalau dibilang tetap banyak nan beli, ya tetap ya. Cuma memang jumlah pembeliannya agak berkurang. Biasanya minimal sekilo, sekarang separuh kilo. Paling banyak sih anggur hijau ya, lantaran sudah di-packing," kata Kurnia saat ditemui CNBC Indonesia, Rabu (3/6/2026).

Kurnia menambahkan, argumen anggur hijau lebih diminati lantaran bisa langsung mengonsumsinya.

"Pembeli tinggal langsung makan saja, kami sudah packing pakai wadah plastik, sekilonya Rp60.000," ujar Kurnia.

Pedagang lain, Yani, mengatakan buah impor nan cukup laku nan dijualnya adalah jeruk mandarin, meski harganya juga sedikit mahal.

"Di sini sih paling laku jeruk mandarin, mungkin bisa buat pengajian alias acara lainnya," kata Yani.

"Jeruk mandarin tuh enaknya mudah dikupas, cukup pakai jari tangan saja, rasanya juga cukup manis," terang Yani.

Namun, argumen utama buah impor tetap diminati lantaran kualitasnya terjaga meski tidak dalam masa panen.

"Kualitas sih paling penting, buah impor itu kualitasnya cukup baik, biasanya manis dan teksturnya lembut. Jadi pengguna nggak terlalu cemas rasanya masam alias manis," ungkapnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan impor pada periode April 2026 sebesar 22,49% (year on year/yoy) menjadi US$25,2 miliar.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini menjelaskan lebih rinci, impor peralatan konsumsi naik 42,90% pada April 2026, dari US$1,70 miliar pada April 2025 menjadi US$2,43 miliar.

"Impor konsumsi naik 42,90%, didorong buah naik 109,32%," ungkap Pudji dalam konvensi pers, Selasa (2/6/2026)

Aneka buah impor nan dijual di Pasar Senen, Jakarta Pusat pada Rabu (3/6/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)Aneka buah impor nan dijual di Pasar Senen, Jakarta Pusat pada Rabu (3/6/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata) Foto: Aneka buah impor nan dijual di Pasar Senen, Jakarta Pusat pada Rabu (3/6/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News