Dolar AS Tembus Rp17.500, Gimana Nasibnya Harga BBM RI? Ini Kata ESDM

Sedang Trending 44 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) angkat bicara mengenai terkait nilai Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri, seiring pelemahan nilai tukar rupiah nan menembus level Rp17.500 per dolar AS.

Merujuk info Refinitiv, mata duit Garuda mengawali perdagangan dengan depresiasi 0,06% ke posisi Rp17.500/US$ pada pagi ini. Pelemahan ini terjadi setelah pada penutupan perdagangan kemarin, rupiah juga terkoreksi tajam 0,49% ke level Rp17.490/US$. Posisi tersebut sekaligus menjadi level penutupan terlemah rupiah sepanjang masa.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini tetap melakukan pembahasan intensif mengenai kebijakan nilai BBM. Diskusi tersebut melibatkan sejumlah kementerian, termasuk Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

"Itu, kebetulan Pak Menteri sama jejeran Menteri-Menteri sedang merapatkan perihal tersebut ya (imbas dolar Rp17.500). Jadi kita tunggu saja," ujar Laode ditemui di Kementerian ESDM, Rabu (13/5/2026).

Adapun, saat disinggung apakah pelemahan rupiah bakal berakibat langsung pada kenaikan nilai BBM dalam waktu dekat, Laode belum memberikan kepastian. nan pasti, pemerintah tetap mencermati perkembangan sebelum mengambil keputusan. "Itu masih, kan belum ada info-info lain lagi kan selain nan ada sekarang. Jadi kita lihat perkembangan berikutnya aja nanti," kata Laode.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) buka bunyi perihal pelemahan nilai tukar rupiah. Adapun, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh bentrok di Timur Tengah.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menuturkan bentrok di Middle East nan tetap berjalan dengan intensitas nan meningkat sehingga mendorong naiknya nilai minyak dan ketidakpastian global.

"Dari domestik, meningkatnya kebutuhan dollar secara musiman seperti pembayaran ULN dan pembayaran deviden serta kebutuhan untuk ibadah haji mendorong peningkatan permintaan dolar di pasar domestik," ujar Destry kepada media, Selasa (12/5/2026).

Untuk itu, Destry menegaskan ⁠BI bakal terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, DNDF maupun NDF dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah.

Sejalan dengan upaya ini, Destry mengatakan bank sentral memandang perbaikan kepercayaan penanammodal asing sehingga arus modal asing mulai kembali ke pasar duit dalam negeri.

"BI juga memandang confidence penanammodal asing di aset portfolio terus membaik nan tercermin dari masuknya inflow, khususnya ke Pasar SBN dan SRBI selama bulan April sebesar Rp 61.6 triliun," katanya.

Menurut Destry, kesiapan likuiditas valas di pasar domestik BI juga cukup tinggi dengan pertumbuhan DPK valas di akhir Maret mencapai 10,9% year to date (ytd). Oleh lantaran itu, BI memperkirakan tekanan nan berkarakter musiman ini bakal mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News