Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah nan terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat apalagi hingga lebih dari Rp17.000 per dolar AS kerap memicu kekhawatiran di beragam sektor. Namun di mata pelaku industri, kondisi ini tidak selalu membawa akibat negatif.
Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) justru memandang pelemahan rupiah sebagai kesempatan untuk memperkuat daya saing ekspor. Perspektif ini muncul di tengah tekanan dunia nan tetap membayangi perekonomian.
Wakil Presiden Direktur TMMIN, Bob Azam, menilai kondisi nilai tukar kudu dilihat dari perspektif pandang nan lebih luas. Tidak hanya dari sisi tekanan biaya, tetapi juga potensi nan bisa dimanfaatkan.
"Sekarang tahu nggak dengan rupiah jadi Rp17.000? Indonesia jadi kompetitif jadi eksportir. Harusnya gitu," lanjut Bob.
Bob juga menyoroti, tren pelemahan rupiah bukan kejadian baru. Dalam jangka panjang, depresiasi nilai tukar sudah menjadi pola nan berulang.
"Pengalaman kita, setiap tahun rupiah bakal terdepresiasi sekitar 3% sampai 4%," ujarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan terhadap rupiah apalagi lebih besar dari rata-rata historis. Hal ini membikin pelaku upaya kudu lebih siap menghadapi volatilitas.
"Yang dua tahun terakhir ini sampai 7%," tambahnya.
Meski demikian, kondisi ini tidak serta-merta menjadi ancaman bagi industri. Selama fondasi industri kuat, pelemahan rupiah justru bisa menjadi pendorong ekspansi.
"Berarti jika terus melemah jika industrinya kuat nggak salah dong," kata Bob.
Ia menekankan pentingnya perspektif jangka panjang dalam menghadapi dinamika ekonomi. Pelaku upaya tidak boleh hanya terpaku pada tekanan sesaat.
"Sebagai pengusaha kita kudu lihat jangka panjangnya," ujarnya.
Pengalaman krisis masa lampau juga menjadi pelajaran krusial bagi industri. Ketahanan menghadapi tekanan menjadi kunci untuk tetap memperkuat dan berkembang.
"Toyota itu menghadapi saat-saat susah seperti '98. Kita nggak pernah keluar dari Indonesia," ungkap Bob.
Dengan pendekatan tersebut, pelemahan rupiah dinilai bukan sekadar risiko, melainkan kesempatan nan kudu dikelola. Kunci utamanya adalah kesiapan industri dalam memanfaatkan momentum.
"Harusnya kita bisa manfaatkan kesempatan ekspor itu," tutup Bob.
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·