Jakarta -
Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah pelemahan mata duit garuda terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Stabilitas nilai tukar rupiah diperkuat untuk menjaga inflasi dan mendorong perekonomian.
Rupiah memang mengalami tekanan terhadap dolar AS dalam beberapa hari terakhir. Dikutip dari Bloomberg, mata duit Paman Sam sekarang berada di level Rp 18.083 alias menguat 74 poin (0,41%).
Menurut Direktur Eksekutif Senior, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, pihaknya terus mengoptimalkan kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Optimalisasi bauran kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah ditingkatkan. Tidak hanya mengandalkan suku kembang kebijakan, instrumen moneter lain juga dipertajam," kata Erwin dalam keterangan tertulis, Rabu (29/7/2026).
Berbagai instrumen tersebut antara lain triple intervention di pasar valas (Spot, NDF dan DNDF) serta optimasi instrumen moneter seperti SRBI nan didukung akomodasi insentif swap dan DNDF hedging. Ini terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing.
Erwin juga menyampaikan strategi dalam menjaga kecukupan likuiditas pasar duit dan perbankan diperkuat. Menurutnya posisi SRBI berada dalam tren nan lebih terkendali.
"Ke depan, publikasi SRBI terus diarahkan agar selaras dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas dan mendukung masuknya aliran modal asing guna memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah," tuturnya.
Di sisi lain, BI juga terus mengoptimalkan beragam instrumen kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) bakal terus diperkuat guna mendorong pembiayaan kepada sektor-sektor prioritas.
"Termasuk penguatan sistem redistribusi likuiditas di sektor finansial agar transmisi pembiayaan menjadi semakin efektif. Selain itu, kebijakan digitalisasi sistem pembayaran juga terus diakselerasi sehingga makin mendorong pertumbuhan ekonomi," tutup Erwin.
(ily/ara)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·