Dokter: Mood Swing pada Anak Berkaitan dengan Kondisi Pencernaannya

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Ilustrasi anak kesal. Foto: Shutter Stock

Saluran cerna sering disebut sebagai 'otak kedua' lantaran rupanya punya hubungan nan erat dengan otak. Melalui gut-brain axis (GBA), saluran cerna dan otak dapat saling berkomunikasi. Hubungan ini melibatkan sistem saraf, sistem imun, serta mikrobiota nan hidup di dalam usus.

Karena itu, kesehatan saluran cerna anak bukan hanya berangkaian dengan pencernaan, seperti sembelit alias diare. Kondisi usus dan mikrobiota juga sedang banyak diteliti kaitannya dengan emosi, perilaku, dan kegunaan kognitif anak.

Gut-Brain Axis, Saat Usus dan Otak Saling Berkomunikasi

Ilustrasi mikrobiota usus nan sehat. Foto: Chizhevskaya Ekaterina/Shutterstock

Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, Dr. dr. Andy Darma, Sp.A, Subsp.GH(K), menjelaskan bahwa sistem saraf, sistem imun, dan mikrobiota saling berangkaian dalam sistem gut-brain axis.

“Memang gut-brain axis itu berhubungan. Jadi sistem saraf berasosiasi dengan sistem imun, sistem imun berasosiasi dengan mikrobiota,” ujar dr. Andy dalam aktivitas launching Gut and Immunity Council di Penang Bistro Gatot Subroto, Rabu (9/9).

Komunikasi antara usus dan otak dapat berjalan melalui beragam jalur, termasuk sistem saraf, sistem imun, hormon, serta unsur nan dihasilkan oleh mikrobiota usus. Karena itu, kondisi saluran cerna dapat memberikan sinyal nan berangkaian dengan kegunaan tubuh di luar sistem pencernaan.

Peran Mikrobiota dalam Gut-Brain Axis

Ilustrasi mikrobiota di pencernaan anak. Foto: Shutterstock

Di dalam saluran cerna terdapat triliunan mikroorganisme nan secara keseluruhan disebut mikrobiota usus. Komposisinya dapat dipengaruhi oleh beragam hal, termasuk pola makan, lingkungan, penggunaan antibiotik, serta kondisi sejak awal kehidupan.

Mikrobiota ini tidak hanya membantu proses nan berjalan di saluran cerna. Mereka juga dapat berinteraksi dengan sistem imun dan sistem saraf serta menghasilkan beragam metabolit nan berkedudukan dalam komunikasi antara usus dan otak.

Dr. Andy mencontohkan serotonin sebagai salah satu neurotransmiter nan berangkaian dengan rasa nyaman dan izin suasana hati.

“Bila kita memberikan makanan nan tepat, seperti prebiotik, probiotik, semua seimbang, dan sebagainya, usus itu bisa menghasilkan beberapa neurotransmitter nan penting, misalnya serotonin, salah satunya. Itu salah satu nan bisa memberikan rasa nyaman di otak,” jelasnya.

Meski begitu, perihal ini bukan berfaedah memberikan makanan alias suplemen tertentu secara otomatis bakal membikin anak lebih tenang alias lebih pintar. Hubungan antara mikrobiota, perkembangan otak, dan kegunaan kognitif anak tetap terus diteliti.

Lalu, Bagaimana Cara Menjaga Kesehatan Usus Anak?

Ilustrasi camilan sehat untuk anak. Foto: Shutter Stock

Karena mikrobiota menjadi salah satu bagian dalam gut-brain axis, menjaga pola makan anak tetap beragam dan seimbang menjadi penting.

Namun, orang tua tidak perlu buru-buru memberikan beragam jenis probiotik, prebiotik, alias suplemen hanya lantaran mau menjaga kesehatan usus dan otak anak.

Kebutuhan nutrisi setiap anak berbeda. nan terpenting adalah memastikan anak mendapatkan makanan nan beragam dan sesuai dengan kebutuhannya ya, Moms.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan