Dokter Anak hingga Ahli Gizi Berpeluang Masuk Dewan Pengawas BGN, Pantau MBG

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono (tengah) didampingi Wakil Kepala BGN Trenggono (kiri) dan Agustina Arumsari (kanan) memberikan keterangan pers mengenai penutupan dapur SPPG bermasalah di Jakarta, Senin (27/7/2026). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono membuka kesempatan tenaga ahli di bagian kesehatan dan gizi masuk dalam Dewan Pengawas BGN.

Mereka diharapkan dapat memperkuat pengawasan dan memberi masukan mengenai penyelenggaraan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sudaryono mengatakan, pihaknya mau Dewan Pengawas BGN diisi oleh orang-orang nan kompeten dan mempunyai skill sesuai kebutuhan program.

“Kita mau diawasi oleh orang-orang kompeten. Salah satunya kami mau mengusulkan kelak beberapa mahir gizi, kemudian ada master anak, master gizi, master kandungan,” ucap Sudaryono dalam sambutannya di aktivitas peresmian Pusat Pelayanan Terpadu dan Media Center BGN instansi BGN, Jakarta Pusat, Rabu (29/7).

Selain tenaga kesehatan dan mahir gizi, Sudaryono menyebut pihaknya juga membuka ruang bagi pekerjaan lain, seperti chef untuk memberikan masukan. Menurutnya, keterlibatan beragam pihak diperlukan agar penyelenggaraan program MBG dapat terus diperbaiki.

Ia menambahkan, BGN telah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk melakukan kajian berbareng para mahir gizi. Kajian tersebut bakal membahas sejumlah hal, termasuk persoalan stunting, menu makanan, kandungan gizi hingga metode intervensi nan tepat di wilayah dengan prevalensi stunting tinggi.

“Kami sangat mau mendengar dan mau melibatkan banyak pihak, khususnya kami tadi sudah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk kita melakukan satu kajian berbareng dengan ahli-ahli gizi nan terbaik di seluruh Indonesia," ujarnya.

Lebih lanjut, keterlibatan para mahir bukan hanya agar MBG berorientasi pada pemberian makanan, tetapi juga menghasilkan akibat terhadap faedah kondisi kesehatan penerima manfaat.

Ia menambahkan, keberhasilan program kudu dilihat melalui tiga aspek, ialah output, outcome, dan impact. Output berangkaian dengan kualitas dan kandungan makanan nan diberikan, outcome menyangkut perubahan kondisi kesehatan penerima manfaat, sedangkan impact memandang akibat jangka panjang, termasuk terhadap keahlian akademik dan daya saing anak.

"BGN ini namanya Badan Gizi Nasional, bukan Badan Makan Nasional. Jadi ngasih makan itu adalah sarana ngasih gizi, intinya ada pada gizi,” kata Sudaryono.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan