Dobrak Tradisi Diplomasi, Donald Trump Berencana Telepon Pemimpin Taiwan Terkait Penjualan Senjata

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Dobrak Tradisi Diplomasi, Donald Trump Berencana Telepon Pemimpin Taiwan Terkait Penjualan Senjata Presiden AS Donald Trump menyatakan bakal berbincang langsung dengan Pemimpin Taiwan Lai Ching-te soal kesepakatan senjata senilai Rp218 triliun.(White House)

PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan rencananya untuk berbincang langsung dengan Pemimpin Taiwan, Lai Ching-te, guna membahas potensi penjualan paket senjata. Langkah ini menandai pergeseran tajam dari tradisi diplomasi nan telah melangkah selama puluhan tahun. Pemimpin AS dan Taiwan tercatat tidak pernah berkomunikasi secara langsung sejak tahun 1979, ialah ketika Washington memutus hubungan umum dengan Taiwan demi mengakui pemerintah Beijing.

Saat ditanya pada Rabu (20/5) mengenai rencana komunikasi dengan Lai sebelum mengambil keputusan mengenai penjualan senjata, Trump memberikan jawaban tegas.

"Saya bakal berbincang dengannya. Saya berbincang dengan semua orang.. kami bakal mengupayakan itu, masalah Taiwan," ujar Trump.

Rencana ini mencuat di tengah ketidakpastian nasib paket penjualan senjata senilai US$14 miliar (sekitar Rp218 triliun) ke Taiwan, nan dilaporkan mencakup peralatan antisuper-drone dan sistem rudal pertahanan udara. Melalui Undang-Undang Hubungan Taiwan tahun 1979, AS sebenarnya mempunyai tanggungjawab norma untuk menyediakan sarana pertahanan bagi pulau tersebut. Namun, Washington selalu menjaga keseimbangan agar tidak merusak hubungan diplomatik dengan Tiongkok.

Bayang-bayang Ketegangan dengan Beijing

Pernyataan Trump ini berpotensi memicu kemarahan Beijing, nan menyatakan Taiwan sebagai wilayahnya. Berdasarkan laporan Financial Times, Beijing apalagi menangguhkan rencana kunjungan pejabat tinggi kebijakan Pentagon, Elbridge Colby, sampai Trump memberikan kepastian mengenai kesepakatan senjata tersebut.

Sebelumnya, saat berada di pesawat Air Force One usai menghadiri KTT dua hari di Beijing pekan lalu, Trump juga sempat mengutarakan niatnya ini kepada pers.

"Saya kudu berbincang dengan orang nan saat ini, Anda tahu siapa dia, nan memimpin Taiwan," kata Trump, seraya menambahkan bahwa dia bakal membikin keputusan dalam waktu dekat.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Tiongkok Xi Jinping telah memperingatkan bakal adanya akibat "konflik" antara dua kekuatan besar bumi jika rumor Taiwan tidak ditangani dengan baik. Trump sendiri mengakui bahwa Xi mempunyai prinsip nan "sangat kuat" mengenai Taiwan, meski dia juga memuji hubungannya dengan Presiden Xi sangat luar biasa.

"Saya tidak membikin komitmen apa pun," tambah Trump kepada wartawan di atas Air Force One pekan lalu.

Respons Taiwan dan Rekam Jejak Trump

Merespons situasi pasca-pertemuan Trump dan Xi, Pemimpin Taiwan Lai Ching-te menegaskan posisi wilayahnya nan berdaulat dan merdeka. Ia menyatakan perdamaian di Selat Taiwan tidak bakal "dikorbankan alias diperdagangkan," serta menekankan bahwa pasokan senjata dari AS adalah aspek kunci dalam menjaga stabilitas regional.

Langkah mendobrak tradisi ini bukan nan pertama bagi Trump. Pada 2016, saat berstatus sebagai presiden terpilih, dia sempat menerima telepon dari pemimpin Taiwan saat itu, Tsai Ing-wen, nan langsung menuai protes keras dari Tiongkok.

Selain itu, Trump mengaku telah membahas masalah penjualan senjata ini "secara sangat terperinci" dengan Xi Jinping. Hal ini dinilai mengejutkan lantaran bertentangan dengan agunan AS kepada Taiwan pada 1982 bahwa Washington tidak bakal berkonsultasi dengan Beijing mengenai penjualan senjata ke pulau tersebut. Ketika diingatkan mengenai komitmen tahun 1980-an itu, Trump hanya menjawab singkat bahwa masa itu sudah "sangat lama berlalu." (BBC/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia