Foto: Shutterstock.com
- Sajian lezat seperti masakan sigap saji, rendang, sup kaki kambing, hingga gorengan renyah memang selalu sukses menggugah selera. Rasa gurih nan kaya rempah membikin jenis hidangan tersebut terasa susah ditolak. Namun, di kembali kenikmatannya, tersembunyi kadar natrium tinggi nan berisiko memicu hipertensi dan stroke jika dikonsumsi secara terus-menerus dalam porsi tinggi.
Selain natrium dari garam dapur, sumber rasa gurih lain seperti penyedap rasa MSG sering kali menimbulkan keraguan. Apakah penggunaan MSG juga ikut memicu ancaman bagi tekanan darah?
Apa hubungan MSG dengan tekanan darah tinggi?
Data ilmiah dari beragam penelitian tidak menunjukkan adanya kaitan langsung antara konsumsi MSG dalam pemisah wajar dengan peningkatan akibat hipertensi. Tekanan hipertensi sebenarnya dipengaruhi oleh kombinasi aspek nan jauh lebih kompleks, seperti asupan garam dapur (natrium klorida) nan berlebihan, pola makan tidak sehat secara keseluruhan nan tinggi gula dan lemak jenuh, kurangnya aktivitas fisik, aspek genetik, usia, tingkat stres, serta kebiasaan merokok.
Foto: Shutterstock.com
Berdasarkan kebenaran tersebut, penderita hipertensi sebenarnya tetap boleh mengonsumsi MSG, asalkan porsinya tetap dikontrol dengan ketat. MSG juga tidak secara langsung meningkatkan akibat stroke. Risiko stroke dan kerusakan pembuluh darah timbul dari penumpukan kadar natrium berlebih di dalam darah. Ketika natrium terlalu tinggi, tubuh bakal menahan cairan ekstra nan memperberat kerja jantung serta pembuluh darah, hingga akhirnya berisiko merusak organ-organ vital.
Perbedaan MSG dan kandungan natrium dalam makanan sehari-hari
Perlu dipahami bahwa MSG alias Monosodium Glutamat merupakan garam natrium dari masam glutamat. Asam glutamat sendiri adalah jenis masam amino non-esensial nan secara alami sudah ada di dalam tubuh, serta terkandung melimpah pada bahan makanan sehari-hari seperti tomat, keju, daging, dan air susu ibu (ASI). Pembuatan MSG komersial, seperti produk Sasa, menggunakan proses fermentasi dari bahan tetes tebu alami, serupa dengan proses pembuatan kecap alias yoghurt. Asam glutamat hasil fermentasi ini kemudian digabungkan dengan natrium hingga membentuk kristal putih nan mudah larut.
Foto: Shutterstock.com
Perbedaan paling mencolok antara MSG dan garam dapur terletak pada kadar natrium di dalamnya. Garam dapur mengandung sekitar 40% natrium, sedangkan MSG hanya mengandung sekitar 12% natrium. Organisasi kesehatan dunia dan badan pengawas seperti WHO, FDA Amerika Serikat, BPOM, Kementerian Kesehatan RI, Komunitas Eropa, serta sertifikasi Halal MUI dan Kosher telah secara konsisten menyatakan bahwa MSG kondusif dikonsumsi sebagai bahan tambahan pangan.
Mengenai pemisah konsumsi MSG nan kondusif untuk penderita hipertensi, patokannya kembali pada total pemisah asupan natrium harian. Kementerian Kesehatan RI dan WHO menetapkan pemisah kondusif asupan natrium harian untuk orang dewasa adalah 2.000 mg, alias setara dengan satu sendok teh (5 gram) garam dapur per hari. Jumlah ini mencakup seluruh natrium nan masuk ke tubuh, termasuk dari makanan kemasan, makanan olahan, camilan asin, dan saus. Oleh lantaran itu, penggunaan MSG wajib dihitung ke dalam pemisah maksimal natrium harian tersebut.
Tips menggunakan MSG secara bijak untuk menjaga pola makan sehat
Menjaga kesehatan pembuluh darah tidak kudu dilakukan dengan menyantap makanan nan serbatawar. Makanan nan terasa tawar justru membikin orang enggan makan. Secara medis, rasa lezat dari MSG membantu merangsang produksi cairan pencernaan di lambung, nan krusial untuk memastikan nutrisi makanan terserap secara optimal oleh tubuh.
Strategi paling tepat dalam mengolah masakan adalah mengganti sebagian porsi garam dapur dengan MSG secukupnya. Langkah ini efektif memberi rasa gurih umami sekaligus menekan total asupan natrium harian tanpa mengorbankan kelezatan masakan. Selain itu, takaran garam dapur bisa dikurangi secara berjenjang sebesar 10–20% agar indra pengecap dapat beradaptasi secara alami.
Penguatan rasa dan aroma masakan juga bisa dimaksimalkan dengan memanfaatkan ramuan serta rempah alami seperti bawang putih, bawang merah, lada, ketumbar, serai, daun salam, lengkuas, dan jahe, ditambah rasa segar dari perasan jeruk nipis alias cuka. Makanan untuk darah tinggi nan kaya bakal kalium, magnesium, dan serat seperti bayam dan brokoli sangat dianjurkan.
Di sisi lain, pembatasan ketat perlu diterapkan pada makanan tinggi natrium dan lemak, seperti ikan asin, telur asin, makanan sigap saji, makanan olahan (sosis, kornet, nugget), gorengan, jeroan, santan kental, serta ramuan instan dan minuman tinggi gula. Hindari juga olahan sayuran nan tidak boleh dimakan penderita stroke seperti lodeh bersantan alias sayur nan digoreng.
Sebenarnya banyak sekali makanan sehat untuk jantung nan rasanya lezat seperti tumis buncis, sup ayam, dan tetap banyak lagi. Kombinasi penggunaan MSG secara bijak, konsumsi sayuran hijau nan kaya kalium, dan pemeriksaan tekanan darah secara rutin menjadi kunci menjaga pola makan seimbang nan tetap lezat dan kondusif bagi kesehatan.
(brl/lak)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·