Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kanan).(MI/Usman Iskandar)
DIREKTUR Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai posisi Gibran dalam jejeran teratas di beragam survei tidak terlepas dari tingkat popularitasnya nan telah menjangkau sebagian besar masyarakat Indonesia. Dalam beberapa survey, Gibran berada di bawah Prabowo Subianto, Dedi Mulyadi, dan Anies Baswedan, serta mengungguli sejumlah figur nasional lainnya, termasuk Ganjar Pranowo dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
“Kita tahu ketenaran Mas Wapres ini kan juga cukup signifikan, kan, di atas 90%. Dibandingkan dengan nan lain tetap 80–70%, itu kan nggak merata sebaran pengetahuan publiknya,” ujar Adi dikutip dari siaran pers nan diterima, Rabu (21/10).
Menurut Adi, tingkat pengenalan publik merupakan salah satu aspek krusial dalam survei elektabilitas, terutama ketika masyarakat diminta menyebut nama calon presiden secara spontan.
Figur nan telah dikenal secara luas condong lebih mudah disebut oleh responden dibandingkan tokoh politik lainnya nan tingkat popularitasnya belum merata.
Kondisi tersebut menjadi salah satu aspek nan menjelaskan kenapa nama Gibran tetap muncul dalam jejeran teratas survei, meskipun dirinya terus menghadapi beragam kritik politik.
Adi mengakui bahwa intensitas serangan terhadap Gibran relatif menonjol dibandingkan sejumlah figur politik lainnya. Namun, menurutnya, kejadian tersebut bukan merupakan perihal baru.
“Ya, jika serangan memang terlihat konsentrasi ke Gibran itu bukan perkara aneh, ya. Karena memang sejak pencalonan di 2024, serangan itu kan bertubi-tubi,” ungkapnya.
Di sisi lain, Adi mengingatkan bahwa tingginya ketenaran seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat keterpilihan dalam survei. Ia menilai bahwa meskipun tingkat pengenalan terhadap Gibran telah melampaui 90%, nomor elektabilitas nan diperoleh menunjukkan tetap adanya tantangan untuk mengonversi ketenaran menjadi support politik.
“Jadi wajar jika kemudian Wapres itu masuk lima besar. Cuma jika dilihat dari popularitasnya nan tinggi, lima besar, ya artinya apa? Bahwa nan tahu terhadap Wapres itu ya rupanya tidak dominan nan milih, kira-kira begitu,” jelas Adi.
Menurutnya, beragam rumor dan sentimen politik nan berkembang, termasuk kontroversi putusan Mahkamah Konstitusi (MK), dapat menjadi salah satu aspek nan memengaruhi preferensi masyarakat.
Seperti diberitakan sebelumnya bahwa, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tetap menempati posisi empat besar dalam survei elektabilitas calon presiden (capres) di tengah beragam kritik dan polemik politik nan terus mengiringi perjalanan politiknya sejak Pilpres 2024.
Hasil survei Parameter Politik Indonesia (PPI) nan dirilis pada Minggu (18/10) menempatkan Gibran di urutan keempat dengan elektabilitas 6,9% dalam simulasi pertanyaan terbuka alias top of mind.
Hasil serupa juga terlihat dalam survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) nan dirilis pada Sabtu (17/10). Dalam simulasi semi-terbuka dengan 24 nama calon presiden, Gibran memperoleh elektabilitas sebesar 8,4% dan menempati urutan keempat, di bawah Dedi Mulyadi, Anies Baswedan, dan Prabowo Subianto. Survei tersebut dilakukan pada 1–10 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.213 responden. (Fal)Wapres Gibran Tetap Empat Besar dalam Survei Capres meski Diterpa Banyak Kritik
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai posisi Gibran dalam jejeran teratas di beragam survei tidak terlepas dari tingkat popularitasnya nan telah menjangkau sebagian besar masyarakat Indonesia.
Dalam beberapa survey, Gibran berada di bawah Prabowo Subianto, Dedi Mulyadi, dan Anies Baswedan, serta mengungguli sejumlah figur nasional lainnya, termasuk Ganjar Pranowo dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
“Kita tahu ketenaran Mas Wapres ini kan juga cukup signifikan, kan, di atas 90%. Dibandingkan dengan nan lain tetap 80–70%, itu kan nggak merata sebaran pengetahuan publiknya,” ujar Adi dikutip dari siaran pers nan diterima, Rabu (21/10).
Menurut Adi, tingkat pengenalan publik merupakan salah satu aspek krusial dalam survei elektabilitas, terutama ketika masyarakat diminta menyebut nama calon presiden secara spontan.
Figur nan telah dikenal secara luas condong lebih mudah disebut oleh responden dibandingkan tokoh politik lainnya nan tingkat popularitasnya belum merata.
Kondisi tersebut menjadi salah satu aspek nan menjelaskan kenapa nama Gibran tetap muncul dalam jejeran teratas survei, meskipun dirinya terus menghadapi beragam kritik politik.
Adi mengakui bahwa intensitas serangan terhadap Gibran relatif menonjol dibandingkan sejumlah figur politik lainnya. Namun, menurutnya, kejadian tersebut bukan merupakan perihal baru.
“Ya, jika serangan memang terlihat konsentrasi ke Gibran itu bukan perkara aneh, ya. Karena memang sejak pencalonan di 2024, serangan itu kan bertubi-tubi,” ungkapnya.
Di sisi lain, Adi mengingatkan bahwa tingginya ketenaran seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat keterpilihan dalam survei. Ia menilai bahwa meskipun tingkat pengenalan terhadap Gibran telah melampaui 90%, nomor elektabilitas nan diperoleh menunjukkan tetap adanya tantangan untuk mengonversi ketenaran menjadi support politik.
“Jadi wajar jika kemudian Wapres itu masuk lima besar. Cuma jika dilihat dari popularitasnya nan tinggi, lima besar, ya artinya apa? Bahwa nan tahu terhadap Wapres itu ya rupanya tidak dominan nan milih, kira-kira begitu,” jelas Adi.
Menurutnya, beragam rumor dan sentimen politik nan berkembang, termasuk kontroversi putusan Mahkamah Konstitusi (MK), dapat menjadi salah satu aspek nan memengaruhi preferensi masyarakat.
Seperti diberitakan sebelumnya bahwa, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tetap menempati posisi empat besar dalam survei elektabilitas calon presiden (capres) di tengah beragam kritik dan polemik politik nan terus mengiringi perjalanan politiknya sejak Pilpres 2024.
Hasil survei Parameter Politik Indonesia (PPI) nan dirilis pada Minggu (18/10) menempatkan Gibran di urutan keempat dengan elektabilitas 6,9% dalam simulasi pertanyaan terbuka alias top of mind.
Hasil serupa juga terlihat dalam survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) nan dirilis pada Sabtu (17/10). Dalam simulasi semi-terbuka dengan 24 nama calon presiden, Gibran memperoleh elektabilitas sebesar 8,4% dan menempati urutan keempat, di bawah Dedi Mulyadi, Anies Baswedan, dan Prabowo Subianto. Survei tersebut dilakukan pada 1–10 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.213 responden. (Fal/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·