Diskusi Publik Pejabat Negara di UGM Berakhir Ricuh, Pejabat Dievakuasi

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Diskusi Publik Pejabat Negara di UGM Berakhir Ricuh, Pejabat Dievakuasi Budiman Sudjatmiko(MI/Susanto)

SEBUAH obrolan publik nan menghadirkan beberapa pejabat negara di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM pada Senin (15/6) malam berhujung ricuh. Diskusi tersebut menghadirkan tiga pejabat negara, ialah Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dan Kepala BP Taskin Budiman Sudjatmiko.

Diskusi nan dimulai pukul 19.00 WIB tersebut awalnya melangkah tertib. Wamentan Sudaryono sempat memaparkan rencana skema ekspor satu pintu, sednagkan Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid menyampaikan optimisme mengenai program-program kementeriannya.

Situasi beranjak memanas saat Budiman Sudjatmiko menyampaikan materi mengenai kebebasan berpendapat. Ia juga mempersilakan mahasiswa untuk mengkritik dirinya di forum resmi.

Alhasil, beberapa mahasiswa maju ke panggung dan membentangkan spanduk bertuliskan "Menolak Pengkhianat Reformasi" dan "UGM Menolak Penjilat Rezim".

Setelah itu, suasana semakin tidak terkendali baik teriakan, saling dorong, hingga pelemparan air mineral. Ketiga pejabat kemudian dievakuasi keluar gedung. Budiman Sudjatmiko akhirnya dievakuasi lewat pintu samping lantaran argumen keamanan, sedangkan Nusron Wahid dan Sudaryono menemui para mahasiswa.

Di bawah pengawalan ketat, keduanya duduk di atas aspal untuk perbincangan berbareng mahasiswa. Namun, perbincangan tersebut tidak berjalan lama lantaran situasi memanas sehingga keduanya dievakuasi.

Dari perspektif pandang Ketua Serikat Mahasiswa, Mesa mengatakan, mereka tidak layak membicarakan Pancasila selagi Indonesia tetap membungkam bunyi rakyat, selama mereka menganggap kritik sebagai gangguan, selama mereka tetap membuang-buang duit rakyat dengan program nirmanfaat.

Aksi tersebut dilakukan lantaran para pejabat terkesan menghindar. "Mereka (pemerintah) memang kudu didatangi lantaran tidak ada langkah nan efektif selain langkah itu. Bahkan, ketika itu dilakukan, tidak ada agunan bahwa mereka merasa bersalah," ungkap dia.

Di sisi lain, Nusron menyayangkan peristiwa tersebut. Pasalnya, ada sekelompok orang nan ademokratis, nan rupanya tidak siap berdialog, tidak siap berdemokrasi, dan tidak siap untuk menerima perbincangan pemikiran. Mereka mengedepankan memaksakan kehendak dan mengedepankan kekerasan, nan itu sangat disayangkan.

"Forum nan harusnya perbincangan baik sebagaimana di kampus-kampus nan lain. Tidak ada motivasi untuk mengebiri, tapi kita justru siap dikritik. Kalau memang ada nan salah kita siap mengoreksi, jika ada masukan kita bakal tindak lanjuti. Tapi rupanya digagalkan oleh sekelompok orang itu," ungkap dia. 

Budiman Sujatmiko juga menyayangkan obrolan tersebut kudu bercempera lantaran situasi nan tidak kondusif. Padahal, dia mengaku siap berdialog. 

Sementara itu, Sudaryono menyampaikan, pemerintah Prabowo sangat terbuka terhadap kritik. "Kami siap mengagendakan obrolan ulang secara sehat di masa mendatang," ungkap dia. (AT/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia