Katadata mengembangkan Katadata ESG Sustainability & Financial Index (KESGI) 50, indeks nan menggabungkan penilaian terhadap keahlian keberlanjutan dengan kualitas esensial emiten serta sejumlah aspek nan berangkaian dengan kondisi pasar modal.(Dok. Katadata)
PERTIMBANGAN investasi di pasar modal semakin tidak berakhir pada keahlian finansial emiten. Aspek keberlanjutan alias environmental, social, and governance (ESG) juga menjadi perhatian. Namun, bagi investor, menggabungkan kedua aspek tersebut dalam satu pertimbangan investasi tetap menjadi tantangan.
Emiten dengan keahlian ESG nan baik belum tentu mempunyai esensial finansial nan kuat, likuiditas nan memadai, alias valuasi nan sesuai dengan pertimbangan pasar. Sebaliknya, perusahaan dengan esensial nan sehat juga belum tentu mempunyai keahlian keberlanjutan nan kuat. Kondisi ini membikin penanammodal perlu memandang kedua sisi tersebut secara bersamaan.
Persoalan tersebut menjadi salah satu latar belakang pengembangan Katadata ESG Sustainability & Financial Index (KESGI) 50. Indeks nan dikembangkan Katadata ini menggabungkan penilaian terhadap keahlian keberlanjutan dengan kualitas esensial emiten serta sejumlah aspek nan berangkaian dengan kondisi pasar.
KESGI 50 terdiri atas 50 emiten nan dinilai mempunyai kondisi finansial nan sehat sekaligus menjalankan praktik keberlanjutan. Indeks ini disiapkan sebagai salah satu referensi bagi penanammodal dan rencananya diluncurkan dalam waktu dekat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Co-founder dan Chief Content Officer Katadata Heri Susanto mengatakan, penanammodal selama ini menghadapi tantangan ketika kudu menggabungkan pertimbangan ESG dengan aspek esensial dalam menentukan pilihan investasi.
Menurut dia, penanammodal tidak cukup hanya mengetahui seberapa baik keahlian ESG sebuah perusahaan. Kualitas fundamental, tingkat likuiditas, free float, hingga valuasi juga perlu diperhatikan untuk memandang apakah suatu emiten mempunyai kepantasan dari perspektif pasar.
Karena itu, KESGI 50 menggunakan empat lensa dalam proses penilaiannya. Pertama, keahlian ESG nan diukur menggunakan metodologi Katadata ESG Insight. Kedua, kualitas esensial emiten. Ketiga, kepantasan pasar nan antara lain memandang likuiditas dan free float. Keempat, valuasi pasar.
Pendekatan tersebut membikin aspek keberlanjutan tidak berdiri sendiri. Kinerja ESG ditempatkan berbareng dengan parameter nan menggambarkan kesehatan perusahaan dan kondisi perdagangan sahamnya.
Sebelumnya, Katadata telah meluncurkan ESG Insight Dashboard pada April 2026. Dashboard tersebut memuat sekitar 100 parameter nan digunakan untuk memandang keahlian ESG perusahaan. Data tersebut kemudian menjadi salah satu pedoman dalam pengembangan KESGI 50.
Co-founder dan CEO Katadata Metta Dharmasaputra mengatakan, rumor keberlanjutan perlu diterjemahkan ke dalam tindakan nan konkret, bukan berakhir sebagai jargon.
"Keberlanjutan bukan lagi sekadar jargon, tetapi kudu menjadi tindakan nyata," ujar Metta.
Dari sisi pasar, KESGI 50 juga ditempatkan sebagai pelengkap bagi indeks nan telah ada, seperti IDX ESG Leaders dan ESG Quality 45 IDX KEHATI. Perbedaannya, KESGI 50 menggunakan info ESG lokal nan dikembangkan Katadata dan menghubungkannya dengan konteks pasar serta kondisi esensial emiten.
Dengan pendekatan tersebut, penanammodal tidak hanya memperoleh gambaran mengenai seberapa baik perusahaan menjalankan aspek keberlanjutan, tetapi juga dapat melihatnya berdampingan dengan kondisi finansial dan karakter saham di pasar.
KESGI 50 diperkenalkan dalam Katadata SAFE 2026 nan berjalan pada 16–17 September 2026 di Sequis Tower, SCBD, Jakarta. Katadata SAFE 2026 mengusung tema 'The Green Changer' dan mengangkat pembahasan mengenai perubahan menuju ekonomi nan lebih berkelanjutan.
Melalui KESGI 50, Katadata mencoba mempertemukan dua pertimbangan nan selama ini kerap melangkah beriringan tetapi tidak selalu mudah disatukan, ialah kualitas keberlanjutan dan kualitas investasi. Indeks tersebut selanjutnya diarahkan menjadi referensi bagi penanammodal dalam memandang emiten dari perspektif nan lebih menyeluruh, sebelum resmi diluncurkan di BEI. (E-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·